Kemarau di Lampura, Pengrajin Layang-layang Kebanjiran Order

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Musim kemarau, membawa berkah tersendiri bagi warga di wilayah Kabupaten Lampung Utara (Lampura).

Bagaimana tidak, dengan datangnya musim tersebut, membuat masyarakat yang memiliki hobi diluar (out bond) untuk bermain layang-layang. Selain untuk melepas penat, sekaligus berolah raga mencari keringat. Permainan yang dahulunya hanya digemari masyarakat di wilayah perdesaan itu kini mulai bergeser diperkotaan.


Tua-muda memainkannya, tak hanya di wilayah lapang bahkan diperumahan pun memainkannya. Hampir disetiap sudut Kotabumi memainkan permainan tradisional itu, dan peluang tersebut ditangkap oleh Sumadi warga Umbul Opak, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kotabumi.

Dengan bermodalkan alat sederhana, coba mengisi waktu lowong untuk membuat layang-layang atau sering disebut warga disana layangan.

“Alhamdulillah mas, tiga bulan belakangan ini keperluan dapur dan anak dapat dipenuhi dengan rutinitas membuat layang-layang,” kata Sumadi, disela-sela membuat layangan, Kamis, (23/9).

Baca Juga:   Oknum Guru, Mengaku Dapat Menerbitkan Ijazah Paket C

Berbagai jenis layangan dibuat, dari polos sampai berkarakter. Macam-macam bentuknya, ada seperti karakter leak mitos dari Lombok, bentuk lebah, burung Garuda, sampai pesawat tempur pun ada.

Sementara, kata dia untuk harganya bervariasi, mulai dari puluhan ribu sampai dengan ratusan ribu. Pelanggan juga dapat memesan sesuai dengan bentuk dan ukuran layang-layang.

“Kalau omset itu saya tidak pernah ngitung, cuma pendapatan bersih dapat mencapai jutaan setiap bulannya. Memang ini permainan musiman, tapi cukup membantu khususnya ditengah pandemi saat ini, “ujar pria lima anak itu.

Kegiatan itu, kata dia, dilakukan disela-sela pekerjaan buruh kasar bangunan. Dengan memanfaatkan barang sisa plastik yang berukuran besar, serta beberapa bilah bambu yang banyak disekitar lingkungannya. Menjadi barang layak jual, hingga dapat menambah pemasukan bagi keluarga.

Baca Juga:   Pemkab Lampura Launching Penggunaan Scan QR Code Aplikasi Peduli Lindungi

“Pernah kita jual itu harganya sampai Rp600 ribu/buah, dan paling murah Rp 50.000/buah. Pembeli biasanya datang langsung untuk melihat sekaligus mencoba, dan disini dijamin terbang. Bila tidak, konsumen dapat memulangkannya tanpa membayar atau dipulangkan uangnya, “tambahnya.

Salah satu pembeli sekaligus penikmat layang-layang, Julianto mengungkapkan bahwasanya pada saat ini kegemaran masyarakat akan mainan tradisional cukup baik. Dan mereka (penikmat) tak mengenal tempat maupun harga, asal sesuai dengan kemauannya.

“Kebetulan inikan hobi, jadi tak masalah kalau harga. Yang penting dia bagus dan layangannya naik,” terangnya.

Senada dengan Andika(25) warga Kotabumi ini mengaku membeli layangan hanya hobi saja. “Main layang saat ini, tidak melihat usia. Muda tua kalau hobi yang main layangan,” tutupnya. (ozy/yud)




  • Bagikan