Kembali Serahkan Aset ke Kejati, Kini Alay Berharap Sisa Uang Pengganti Terlunasi

  • Bagikan
Kejati Terima Uang Pengganti: Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung Diah Srikanti saat menerima uang cicilan kedua setoran uang pengganti atas perkara Sugiharto Wiharjo alias Alay di Kantor Kejaksaan Tinggi, Talang, Telukbetung Selatan, Kamis (20/2). Uang yang diserahkan ke Kejaksaan Tinggi sebesar Rp 10 miliar, uang tersebut merupakan uang angsuran kedua kalinya, setelah Alay melakukan pengembalian uang pengganti sebesar Rp 1 miliar pada Jumat (22/3/2019). Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Sugiarto Wiharjo alias Alay terpidana korupsi APBD Lampung Tengah dan Lampung Timur, kembali menyerahkan sejumlah aset ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung. Aset-aset ini nantinya diharapkan bisa menutup uang pengganti.

Aset yang diserahkan ke pihak Kejati Lampung itu berupa pergudangan. Yang ditaksir melebih cukup untuk menutupi kekurangan uang pengganti yang telah dibalikkan.


“Ya, barusan ini kami terima penyerahan aset berupa pergudangan. Dengan ditaksir sebesar Rp195 miliar,” kata Kasi Penkum Kejati Lampung Andrie W Setiawan, Minggu (15/11).

Menurut Andrie, pihaknya kini masih melakukan telaah terlebih dahulu terhadap aset yang diserahkan. “Ini untuk mencegah bermasalah atau tidaknya aset itu. Apabila tidak bermasalah nanti segera akan kita lelang,” kata dia.

Baca Juga:   KPK Masih Lidik Dugaan Keterlibatan Aliza Gunado di Perkara Azis Syamsuddin

Namun, dirinya belum bisa menjelaskan tata letak lokasi pergudangan yang dimaksud. Hal ini tentunya untuk menghindari agar tidak ada lagi orang-orang yang mengaku memiliki gudang itu.

“Ya maka dari itu kami menunggu apakah gudang ini benar-benar tidak ada masalahnya,” ucapnya.

“Terpidana ini ada etikat baik untuk melunasi sisa kerugian yang belum dibayar. Total kerugian masih ada Rp95 miliar,” tambahnya.

Sementara itu, kuasa hukum Alay: Ben Sujarwo membenarkan apabila pihaknya kembali menyerahkan beberapa aset-aset milik kliennya itu. Yang di mana menurut dia, kliennya ada niat untuk membayar kerugian negara.

“Hingga saat ini total sudah ada 39 gudang. Juga lahan seluas 5,8 hektare,” ujarnya.

Baca Juga:   Pengamat : KPK Harus Kembangkan Kasus Azis Syamsuddin

Gudang dan lahan itu tersebar di beberapa titik yang ada di Bandarlampung. Seperti di Telukbetung Selatan. “Kalau dihitung-hitung total semua itu Rp194 miliar. Ini juga sudah sangat melampaui total sisa kerugian negara yang harus dibayar sebesar Rp98 miliar,” jelasnya.

“Untuk itu apabila ada sisanya nanti akan dikembalikan lagi ke Alay,” sambungnya.

Menurutnya, ada beberapa kesulitan pihaknya untuk menjual aset-aset tersebut, salah satunya yakni di masa pandemi Covid-19 ini. “Geliat untuk orang membeli ini sangat minim sekali, apalagi banyak orang-orang yang mengakui aset-aset tersebut,” katanya. (ang/sur)




  • Bagikan