Kerjasama Lamteng-Swedia jadi Tak Jelas, Ini Sebabnya

  • Bagikan
Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto, kamis (21/3). Foto Syaiful Mahrum/radarlampung.co.id

radarlampung.co.id. – Rencana Pemkab Lampung Tengah bekerjasama dengan Swedia dalam pengelolan limbah sampah menjadi sumber listrik biogas menjadi tidak jelas. Pasalnya, komunikasi dengan penghubung pengusaha Swedia terputus.

Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto menyatakan penghubung agenda kerjasama tersebut adalah  orang yang berasal dari Palu, Sulawesi Tengah. Dan saat musibah gempa dan tsunami di Palu, komunikasi dengan penghubung tersebut terputus. “Penghubungnya orang Palu. Kena bencana tsunami ketika itu. Rumahnya hancur. Jadi komunikasi terputus,” katanya, selasa (26/3).


Ditanya apakah kerja sama masih terus berlanjut, Loekman menyatakan belum tahu. “Belum tahu kita. Ya, mau bagaimana komunikasi terputus,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, beberapa waktu lalu Pemkab Lamteng melakukan penjajakan kerja sama dengan pengusaha Swedia dalam pengelolaan limbah sampah menjadi sumber listrik biogas. Dari hasil survei di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kelurahan Bandarjaya Timur, Kecamatan Terbanggibesar, limbah sampah bisa menghasilkan biogas untuk menyuplai kebutuhan listrik selama 40 tahun.

Loekman menyatakan kerja sama ini menggunakan anggaran hibah murni dari Swedia dan tidak membebani APBD Lamteng. “Anggarannya hibah murni Swedia. Anggaran tahap pertama Rp12 miliar untu 3 tahun. Jika berjalan dengan baik, bisa berlanjut hingga 15 tahun. Penjajakan kerja sama sudah 60 persen,” katanya ketika itu.

Bentuk kerja samanya, kata Loekman, pengolahan limbah sampah menjadi gas metan (CH4) yang bisa digunakan sebagai bahan bakar genset. “Nanti sampah diolah menjadi gas metan dan dipakai untuk bahan bakar genset,” katanya.

Dari hasil survei di TPA, kata Loekman sumber gas yang bisa didapatkan bisa memenuhi kebutuhan hingga 40 tahun. “Hasil survei bisa dimanfatkan jadi sumber listrik hingga 40 tahun,” ungkapnya. (sya/wdi)




  • Bagikan