Kesaksian Midi Iswanto Soal Nunik Minta ‘Mahar’ Parpol Rp30 M ke Mustafa

  • Bagikan
Ketua DPW PKB Lampung Chusnunia Chalim yang juga merupakan Wakil Gubernur Lampung, Nunik didampingi suaminya Ery Ayudhiansyah saat keluar dari ruang sidang pengadilan negeri Tpikor, Tanjungkarang, Kamis (4/3). Diketahui Nunik diagendakan salah satu menjadi saksi dalam persidangan suap fee proyek di Dinas Bina Marga Lampung Tengah (Lamteng) Atas terdakwa Mustafa. Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID -Sidang perkara fee proyek Lampung Tengah dengan terdakwa Mantan Bupati Lampung Tengah Mustafa berlanjut Kamis (4/3). Sejumlah saksi dihadirkan. Diantaranya mantan kader DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Midi Iswanto, Ketua DPW PKB Lampung Chusnunia Chalim, Mantan Ketua DPW PKB Lampung Musa Zainuddin dan Mantan Ketua DPD Partai Hanura Lampung Sri Widodo.

Dalam kesaksiannya, Midi membeberkan kronologi Mustafa gagal mendapat rekomendasi perahu parpol PKB di pencalonannya sebagai Calon Gubernur (Cagub) Lampung.

Midi mengungkapkan awalnya dia bersama dengan Khaidir Bujung dan Okta Rijaya selaku Sekretaris DPW PKB Lampung diminta Chusnunia Chalim untuk datang ke Kantor DPW PKB Lampung.

“Saat itu mba Nunik -sapaan akrab Chusnunia Chalim- menyampaikan bahwa pada saat itu, dia akan ada jadwal bertemu dengan Mustafa. Di salah satu cafe,” katanya, Kamis (3/4).

Lalu dirinya dan Khaidir Bujung dan Okta Rijaya menunggu di Kantor DPW PKB Lampung. Sampai pukul 01.00 WIB dinihari. “Menunggu cukup lama, Nunik datang lalu menyampaikan bahwa dia dan Mustafa akan bertemu Ketua DPP PKB (Cak Imin) di Jakarta,” kata dia.

Baca Juga:   Saksi Ini Ungkap Uang Ijon Dikembalikan oleh Mustafa

Selang beberapa waktu yang lama lanjut dia, dirinya pun dihubungi oleh Khaidir Ibrahim untuk bertemu Nunik di salah satu Pondok Pesantren di Lampung Tengah.

“Disampaikan Nunik bahwa Mustafa akan menggunakan perahu DPW PKB Lampung, dalam pencalonannya sebagai cagub. Dan Nunik memerintahkan siapa yang bisa menyampaikan dan menghubungi Mustafa. Lalu saya bilang bisa (menghubungi) Mustafa,” ujarnya.

Ketika itu Midi pun mencoba menghubungi Mustafa melalui saudaranya. Sebelum itu, Nunik pun pernah menyampaikannya bahwa Arinal Djunaidi dan M. Ridho Ficardo tidak mau diusung oleh DPW PKB Lampung. “Mereka (Arinal dan Ridho) keduanya Nunik bilang bahwa tidak berminat. Dan akan meninggalkan DPW PKB,” bebernya.

Baca Juga:   Nekat Balap Liar di Bulan Ramadan ? Siap-Siap Saja Kendaraan Dikandangkan Polisi

Lalu JPU KPK Taufiq Ibnugroho pun menimpal, apakah ada penjelasan lain Nunik setelah bertemu Mustafa di cafe itu. “Ada penjelasan lain tidak. Selain akan bertemu dengan Ketua DPP PKB di Jakarta,” tanya Taufiq.

“Dia menyampaikan sambil tangannya memegang dahi bahwa dia (Mustafa) enggak nawar. Maksud dibilang enggak nawar itu saya kurang tahu. Itu dilanjutkan dengan gestur tubuh sambil menepok jidatnya tiga kali dan bilang sip,” jelas Midi.

Barulah lanjut dia, Nunik dan Mustafa pun pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Cak Imin. “Ketika bertemu di pesantren itu, Nunik bilang silahkan untuk follow up ke Mustafa. Dan saya bilang ke Khaidir Bujung untuk menghubungi Mustafa. Lalu terjadilah kesepakatan bertemu dengan Mustafa di rumah Khaidir Bujung,” katanya.

Ketika bertemu di rumah Khaidir Bujung itu, Mustafa menyerahkan sejumlah uang sebesar Rp5 miliar. “Kami kaget terkait penyerahan uang itu. Dan kami bilang belum bisa bisa menerima uang itu. Saya sampaikan ke Mustafa untuk koordinasi dengan Nunik. Karena saya bilang ke dia, kebetulan saya panggil Mustafa itu dengan sebutan Sutan. Saya bilang sebenarnya waktu itu (bertemu dengan Nunik dan Cak Imin) komitmennya berapa,” beber Anggota DPRD Lampung ini.

Baca Juga:   Sidang Fee Proyek Lamteng, Cerita Kasubag Pinjami Uang ke Kadis Rp700 Juta

Lalu Mustafa pun menyampaikan bahwa komitmen yang akan diberikan itu sebesar Rp11 miliar. Namun, Mustafa menyerahkan dulu uangnya sebesar Rp5 miliar. “Kemudian bubar lah dulu pertemuan itu. Lalu kami pun lapor ke Nunik terkait Mustafa mau menyerahkan dulu Rp5 miliar, Nunik sampaikan bahwa (11 miliar dan dicicil Rp5 miliar,red) oh jangan dan tidak bisa. Nunik minta Rp30 miliar,” pungkasnya. (ang/wdi)

Berita terkait : Jadi Saksi di Sidang Perkara Fee Proyek Lamteng, Nunik Bantah Tentukan Mahar Parpol dan Terima Rp1 M



  • Bagikan



Diduga Bunuh Diri, Pemuda Nekat Tabrakkan Diri ke Kereta Lampung Barat Diguncang Gempa Tektonik Bejat! Paman Cabuli Keponakan Hingga Hamil Delapan Bulan