Ketabuan Masih Menjadi Tantangan Pencegahan Kehamilan Remaja


Ilustrasi: Pixabay.com

RADARLAMPUNG.CO.ID – Kehamilan remaja sudah semestinya menjadi isu yang mendapat perhatian khusus, baik di tingkat nasional maupun internasional. Melahirkan pada usia remaja dapat mengarah pada rendahnya tingkat pendidikan.

Pada tingkat internasional, kehamilan remaja juga menjadi permasalahan yang pelik. Tak hanya di negara berkembang, melainkan juga di negara-negara maju. Karenanya, beberapa program wajib digulirkan untuk mengatasinya.





Koordinator Youth Center Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali Ni Luh Eka Purni Astiti menyebutkan, berdasarkan data UNFPA tahun 2015, secara global, sekitar 12 juta  remaja usia 15-19 tahun dan setidaknya 777.000 remaja usia di bawah 15 tahun melahirkan per tahunnya.

Untuk Indonesia, data Susenas (2017) menyebutkan, 2 dari 3 perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun hamil pertama kali juga di bawah usia 18.

Lalu, merunut ke Indeks Pembangunan Pemuda Indonesia (2019), persentase remaja yang hamil pada tahun 2018 mencapai 16,67%. “Ini cukup tinggi sekali sebenarnya. Dan sampai saat ini masih juga tinggi masalah-masalah terkait kehamilan remaja,” ucap Eka Puri, dala webinar media fellowship bertopik Kehamilan Remaja yang digagas Rutgers, Jumat (20/8/2021).

Eka lantas menjabarkan hasil penelitian organisasi Kisara di tiga kabupaten/kota sasaran survei. Yakni di Denpasar pada tahun 2016, serta Bangli dan jembrana pada 2019. Didapati, remaja di sana secara konsisten memiliki pengetahuan yang baik terkait pubertas. Meliputi menstruasi, mimpi basah, perubahan tubuh, dan hal serupa lainnya.

Sayangnya, lanjutnya, hanya sedikit yang memahami terkait proses reproduksi. Seperti dorongan seksual maupun kehamilan. Yang mayoritas di bawah 10%.

“Selama ini di pelajaran biologi dikasih tahunya kehamilan terjadi saat sel telur bertemu dengan seperma. Sehingga terkonsep seperti itu aja pada diri ramaja. Tak diberitahu praktikelnya, prosesnya meliputi apa saja. Ini tantangannya terkait dengan ketabuan dan juga kehawatriran para pendidik juga orang tua dalam memberi informasi seperti itu,” sesalnya.

Fakta lain, hanya sedikit yang memahami risiko perilaku seksual. “Misalnya inveksi seksual, prilaku kekerasan seks, dan hal lainnya. Padahal remaja harus tahu,” ucapnya.

Eka menambahkan, yang harus digarisbawai adalah, tak perlu tabu dalam membicarakan seksualitas. Di mana terkadang pendidikan seksualitas justru dianggap dapat mendorong berhubungan seksual.

Padahal, kata dia, permasalahan yang sistemik harus diatasi dengan solusi yang sistemik!

Masalah yang sangat mungkin terjadi dari kehamilan remaja adalah depresi pasca melahirkan. Diikuti dengan low selfworth, anxiety, hingga menyakiti diri sendiri.

Menyikapi hal itu, peran layanan kesehatan seksual reproduksi lantas sangat dibutuhkan. Dimulai dari upaya pencegahan. “Pihak terkait harus memberikan informasi dan edukasi KSR. Khususnya terkait perilaku seksual berisiko, kontrasepsi, dan layanan yang ada,” ucapnya.

Diikuti dengan penyediaan layanan kesehatan yang ramah remaja. Dalam hal ini, wajib adanya konseling. Termasuk rujukan layanan lain yang diperlukan. Harapannya, remaja tak bingung kepada siapa mereka bisa bercerita tentang keluhannya.