Kiat Sunaryo, Guru dari Ulubelu yang Juga Jadi Petani Kopi Sukses

  • Bagikan
Sunaryo

RADARLAMPUNG.CO.ID – Kisah guru inspiratif datang dari Kecamatan Ulubelu, Tanggamus — daerah dengan jarak 115 kilometer dari Bandarlampung. Ialah Sunaryo, guru SDN 2 Gunungsari, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus yang tidak hanya sukses menjalani karirnya sebagai guru, namun juga dalam berkebun kopi.

Berlatar belakang keluarga petani, tak membuat niat dirinya menjadi guru berhenti. Tak banyak alasan ketika dirinya memutuskan menjadi guru, kecuali: terbatasnya jumlah guru di pelosok saat itu.


“Awal guru karena ingin saja, karena kan dulu guru di daerah pelosok itu kurang. Jadi karena itu saya ingin menjadi guru,” ungkap Sunaryo.

Hal ini lantas memantapkan langkahnya untuk memulai kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pringsewu, dengan mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Hingga, 2004 dirinya diangkat menjadi guru di SDN 2 Gunungsari, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus.

Namun, statusnya hanya guru honorer. Tertinggi honor yang ia terima selama menjadi honorer dengan berbagai jabatan yang ia pegang hanya Rp2 juta. Inilah yang turut mendorong dirinya untuk terus menambah penghasilannya.

Apalagi, saat menjadi guru SD, Sunaryo mengaku ada waktu luang di sore hari. Karena itulah, dirinya memutuskan untuk juga bertani dengan memulai mengolah kebun kopi.

Baca Juga:   PERSIAPAN PTM

“Selain menambah penghasilan, dan kalau di sekolah hanya pagi saja, hanya sampai jam 12.30 WIB sudah pulang. Sorenya kita kosong. Karena itu saya cari tambahan penghasilan, sementara di lingkungan kita memang petani,” jelas Sunaryo.

Dirinya meniti satu per satu langkahnya. Terus mengembangkan lahan perkebunannya. Pemasukan yang ia dapati dari sekolah, sebagian digunakan untuk makan sehari-hari dan mengolah kebun kopi miliknya.

Hingga kini, ia memiliki sekitar tiga hektar. Karir gurunya pun membuahkan hasil. Meskipun sejak 2004 hanya menjadi honorer, di tahun ini, Sunarto akhirnya dilantik menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Perlahan penghasilan dirinya pun menanjak. Namun, antara menjadi guru dan berkebun, Sunaryo mengaku penghasilannya bisa lebih besar dari kebunnya. Hal ini bisa ia peroleh jika cuaca mendukung.

“Penambahan penghasilan dari kopi kalau cuaca bagus antara guru dan kopi imbang. Kalau PPPK, satu bulan dapat Rp4 juta. Kalau dikalikan 12 bulan di dalam satu tahun artinya ada Rp48 juta. Kalau di kopi satu tahun dapat 3 ton saja panennya, harga per kilogramnya saja Rp20 ribu, kita sudah dapat Rp60 juta,” lanjutnya.

Baca Juga:   PERSIAPAN PTM

Lebih lagi, dengan kemampuannya sebagai guru yang dituntut aktif dengan murid, akhirnya memudahkan dirinya dalam membantu memasarkan hasil panen kopinya. Karena kalau berkebun dirinya hanya mendapatkan ilmu secara otodidak dari keluarga. Tapi ditambah dirinya menjadi guru, ia bisa banyak memanfaatkan teknologi saat ini.

“Kemudian karena kita guru, kita keluar terus. Dengan kita keluar, mau nggak mau kita akan belajar terus. Lain kalau petani yang hanya petani saja pekerjaannya, ya hanya di kebun. Maka ilmunya akan itu-itu saja. Kita sering keluar malah dapat wawasan luas. Apalagi banyak teman anak-anak pertanian, banyak ngobrol, sehingga dapat solusi. Misalnya pupuk yang baik untuk menunjang pertumbuhan kopi,” tambahnya.

Di akhir, Sunaryo turut memberikan semangatnya pada guru-guru honor lainnya dengan bersyukur atas rezeki yang diberikan. “Kalau saya walaupun saya sempat lama honor kecil, pokoknya percaya saja rezeki itu dari Allah yang kasih. Walaupun sedikit tapi barokah kan bermanfaat. Suatu saat akan kita terima hasilnya,” tandasnya. (rma/sur)




  • Bagikan