Kinerja Ekonomi Lampung TW-I 2018 Masih Kuat

  • Bagikan

radarlampung.co.id—Ekonomi global,
Secara global, berdasarkan World Economic Outlook IMF, pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2018 diprediksikan akan meningkat menjadi sebesar 3,9 persen didorong pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok yang lebih tinggi dibandingkan asumsi sebelumnya.

Kepala Kantor Perwakilan
Bank Indonesia Provinsi Lampung Budiharto Setyawan mengatakan, pertumbuhan ekonomi AS yang didukung oleh implementasi tax reform, ditengah meningkatnya tekanan inflasi dan prakiraan meningkatnya defisit fiskal AS, diperkirakan akan meningkatkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi.

“Perkembangan tersebut telah memicu kenaikan yield US Treasury Bond dan penguatan mata uang dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia,”ujarnya.

Faktor tersebut, bersama dengan faktor peningkatan ketidakpastian terkait ketegangan hubungan dagang antara AS dan Tiongkok dan beberapa ketegangan geopolitik regional, telah memicu pembalikan modal asing (capital outflow) dan memberikan tekanan pada pasar keuangan di negara maju dan negara berkembang, termasuk Indonesia, baik dalam bentuk penurunan harga saham, meningkatnya yield obligasi, maupun melemahnya nilai tukar terhadap dolar AS.

Di bulan Mei 2018, rupiah rata-rata melemah sebesar 1,86% dari Rp13.802,- menjadi Rp14.059,-. Meski telah menembus Rp14.271,- per 28 Juni 2018, penguatan rupiah di awal bulan menjadikan secara rata-rata rupiah menguat 0,32% dibanding bulan Mei 2018.

Baca Juga:   Vaksinasi Gotong Royong Charoen Pokphand Group Lampung

Adapun pelemahan mata uang terhadap dolar yang terjadi di Indonesia ini tercatat tidak sedalam pelemahan mata uang negara lain diantaranya Filipina, India, Brazil dan Turki.

Meski demikian, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat pada tekanan eksternal, tercermin dari kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih cukup baik, didukung oleh investasi baik bangunan maupun non-bangunan. Di samping itu, inflasi cukup rendah dan terkendali pada kisaran sasaran 3,5 ± 1%, ditengah perbaikan Current Account Deficit (CAD) yang diindikasikan masih tetap dibawah 2,5% PDB, lebih rendah dari threshold 3% PDB.

Begitu juga dengan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) yang terjaga, tercermin dari perbaikan penyaluran kredit serta langkah lanjutan dipersiapkan Bank Indonesia dalam pelonggaran kebijakan makroprudensial dan akselerasi pendalaman pasar keuangan untuk membiayai infrastruktur dari swasta.

Sebagai langkah pre-emtif, front loading dan ahead of the curve untuk mengantisipasi nilai tukar terhadap risiko kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dan tekanan di pasar global, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 30 Mei 2018 memutuskan untuk menaikkan suku bunga BI 7DRR sebesar 25 bps menjadi 4,75%, begitu juga dengan suku bunga Deposit Facility (DF) menjadi sebesar 4% dan Lending Facility (LF) menjadi sebesar 5,5%.

Baca Juga:   Salurkan KUR Pertanian Rp26,5 T Dalam 6 Bulan, Ini Strategi BRI

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengkalibrasi perkembangan ekonomi keuangan domestik dan global untuk memanfaatkan masih adanya ruang untuk kenaikan suku bunga secara terukur.

Keputusan kenaikan suku bunga merupakan langkah kebijakan jangka pendek BI yang memprioritaskan kebijakan moneternya pada stabilitas ekonomi.

Dalam rangka menjaga kestabilan ekonomi tersebut, BI akan menempuh 4 (empat) langkah, diantaranya:

1.Menerapkan kebijakan yang bersifat pre-emtif, front loading dan ahead of the curve dalam pengaturan suku bunga serta menjaga inflasi sesuai dengan sasarannya.

2.Intervensi ganda (dual intervention) di pasar valas dan di pasar surat berharga negara (SBN) untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

3.Strategi Operasi Moneter diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang rupiah dan pasar swap antar bank.

4.Komunikasi yang intensif khususnya kepada pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan para ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional sehingga dapat memitigasi kecenderungan nilai tukar rupiah yang terlalu melemah (overshooting) dibandingkan dengan level fundamentalnya. (hen/rls/ynk)




  • Bagikan