Kisah Haru Jemaah Haji asal  Pringsewu : Sempat Tak Sadarkan Diri Selama 12 Hari


Budiyanto, Jamaah Haji asal Pringsewu saat ditemui di musala Manair Al- Osoul Hotel, Mekkah. Foto Eko Nugroho/radarlampung.co.id

Laporan Eko Nugroho, Mekkah

HARAPAN Budiyanto untuk menunaikan ibadah haji akhirnya tercapai tahun ini.  Dia bersama sang istri  Kasimah,55 tahun bertolak ke tanah suci dari Bandara Soekarno Hatta, Banten, 28 Agustus lalu, dengan maskapai Saudi Arlines. Mereka masuk kloter 51 asal Pringsewu.





“Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan rukun islam kelima,” kata bapak tiga anak itu dengan suara bergetar kepada Radar Lampung di musala Manair Al- Osoul Hotel, Mekkah, kemarin, sekitar pukul 08.00  waktu setempat (7/8). “Alhamdulillah Allah masih memberikan saya kekuatan dan kesehatan,” imbuhnya masih dengan suara  bergetar.

Kondisi bapak tiga anak ini sekarang memang tak se-prima dulu. Gerakan tangan dan kaki kirinya sangat terbatas. Sudah sekitar setahun ini. Budiyanto harus memakai tongkat saat berjalan. “Tapi saat tawaf dan sai saya pakai kursi roda. Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan keduanya,” tuturnya.

Dengan kondisi fisiknya sekarang plus usianya yang sudah setengah abad lebih, semangat, sosok Budiyanto patut diteladani. Terlebih ketika Radar Lampung mendengar ceritanya sebelum  terbang ke tanah suci.

“Keinginan untuk naik haji sudah cukup lama. Saya selalu berdoa. Termasuk ketika  setiap kali saya mau memulai pekerjaan saya memohon kepada Allah agar bisa naik haji,” ujar petani yang  tinggal di Pringsewu Selatan ini.

Tahun 2012, Budiyanto mengajak istrinya untuk mendaftarkan diri sebagai peserta haji. Sebagian uang hasil panen coklat dia sisihkan untuk tabungan haji. “Kalau ada uang lebih dari biaya sekolah anak juga saya sisihkan untuk tabungan haji,” terangnya.

17 Agustus 2018, pria yang berusia hampir 60 tahun itu mendapat ujian. Dia dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Mitra Husada Pringsewu. “Ceritanya hari itu saya pulang dari rumah anak saya yang pertama. Terus saya mandi. Setelah salat isya, saya tidur. Sekitar jam 11 malam saya bangun mau ke kamar mandi. Tiba-tiba tangan kiri saya tak bisa memutar kran air. Terus kaki kiri saya berat. Tak bisa digerakkan,” ujarnya.

Budiyanto lalu berteriak memanggil istrinya. “Saya berteriak mak..mak…Habis itu saya pingsan,” sambungnya.

Selama 20 hari Budiyanto dirawat di RS Mitra Husada. ”Kata dokter tensi saya 220. Saya sempat tak sadarkan diri selama 12 hari. Akhirnya saya dirujuk ke Urip (RS Urip Sumoharjo, Red),” jelasnya.

Di RS Urip Sumoharjo, Budiyanto menginap 12 hari. Keluar dari RS yang beralamat di Jl. Urip Sumoharjo, Bandarlampung itu, kondisi belum pulih benar. Dia harus menjalani terapi. “Keluar dari Uriip, saya harus menjalani terapi. Terapinya di Urip,” terangnya.

Kini, Budiyanto sudah menginjakkan kaki di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya ada satu lagi harapan Budiyanto yang juga sudah terwujud. Jadi sebelum bercerita tentang perjuangannya hingga akhirnya menjadi tau Allah, dia mengaku ingin sekali bertemu besannya yang juga jemaah calon haji. Kebetulan besannya yang tinggal di Kedaton, Bandarlampung itu juga menginap di hotel yang sama.

“Sejak menginap di sini, saya belum pernah ketemu besan saya Pak Pi’i Mudah-mudah hari ini (kemarin, Red) bisa bertemu di musala ini,” ucapnya.

Inilah kuasa Allah SWT. Tak sampai setengah jam, pintu lift terbuka. Tampak empat orang keluar dari lift. “Itu Pak Pi’i, Mas,” ujarnya kepada Radar Lampung. Kebetulan persis di depan tempat kami mengobrol adalah pintu lift.

Budiyanto lantas berdiri dari kursinya sambil memegang tongkat. Dia bergegas menghampiri besannya. Keduanya pun berpelukan. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka. Suasana haru juga sangat terasa. Bulir bening tertahan di pelupuk mata Budiyanto. Berkali-kali pria yang wajahnya sudah dipenuhi keriput itu mengucakan syukur kepada Allah SWT. (wdi)