Kisah Hidup Buya Hamka Diangkat ke Layar Lebar

  • Bagikan
Jumpa pers film Buya Hamka di kantor Falcon Pictures, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (25/3). FOTO FALCON PICTURES/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Bagi penggemar film bertema sejarah bisa kembali menikmati tontonan baru. Teranyar, kisah salah satu sosok berpengaruh di Indonesia, Buya Hamka bakal tayang di layar lebar.

Ya, Falcon Pictures dan Starvision didukung Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama menggarap sebuah film yang mengangkat kisah hidup ulama dan sastrawan besar Buya Hamka. Buya Hamka merupakan ketua MUI pertama yang dikenal keteladanannya sehingga disegani di kancah nasional, bahkan internasional.


Semasa hidupnya, pemilik nama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini dikenal sebagai sosok ulama besar yang berjasa dalam perkembangan dunia Islam di Indonesia. Beliau juga menjabat sebagai Ketua MUI.

Produser Falcon Pictures Frederica dalam jumpa pers Senin (25/3) mengatakan bahwa film Buya Hamka ini adalah film yang istimewa dan dapat memberi inspirasi.

“Film ini ya sangat istimewa dan kami bertekad untuk mengangkat film-film yang menginspirasi dan dapat dinikmati banyak orang,” kata Frederica.

Produser Starvision Chand Parwez Servia mengatakan, ide untuk membuat film ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2014 lalu, namun baru terealisasi saat ini. “Ini sangat luar biasa, ini adalah kerjasama pertama film antara Starvision, Falcon, dan MUI,” ungkap Chand.

Diangkatnya kisah ulama dan sastrawan besar Indonesia menjadi sebuah film biopik mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan. Isbedy Stiawan ZS, sastrawan asal Lampung salah satunya.

Kepada Radarlampung.co.id Isbedy mengatakan, dengan difilmkannya kisah Buya Hamka, selain menghidupkan kembali ketokohan Hamka sebagai sastrawan dan ulama, juga mengenalkan kepada masyarakat bahwa suatu masa dulu ada seorang ulama dan sastrawan yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan agama.

“Hamka tak berdakwah di saat menulis sastra, namun pesan dalam karya-karyanya menunjukkan, menyarankan, dan mengingatkan tentang kebaikan dan kesabaran. Tetapi di saat ia berdakwah, bahasanya sangat sastrawi. Ini keunggulan dari tokoh asal Sumatera Barat tersebut,” kata Isbedy (26/3).

Isbedy melanjutkan, sebagai sastrawan atau seniman, ia sangat mengapresiasi film tentang Hamka. “Para sineas menyadari peluang dan perlu mengangkat tokoh hebat Indonesia. Sepetri Habibi, Tjut Nyak Dhien, Chairil, Pramoediya Ananta Toer, dan lain-lain,” pungkasnya.




  • Bagikan