Kisah Sedih Tunanetra Penjual Kerupuk : Ditabrak Mobil, Gegar Otak, Tawaran Damai Tak Sebanding

  • Bagikan
Nurrohim ditemani ibu dan anakny ketika terbaring lemah di tempat tidurnya saat menjalani proses penyembuhan. Foto Rizky Panchanov/radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Nurrohim (48) hanya bisa terbaring lemah di atas kasur tipis di ruang tamu rumah orang tuanya. Penyandang tunanetra ini harus beristirahat pasca menjadi korban kecelakaan lalu lintas Kamis (21/5) malam.

Ya, Nurrohim yang berprofesi sebagai penjual kerupuk itu ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil di Jl. Kayu Manis, Kotasepang Bandarlampung. Saat itu Nurrohim hendak pulang ke rumah usai berjualan kerupuk. Nurrohim kemudian dibawa ke rumah sakit oleh pengemudi mobil yang menabraknya.

Saat wartawan mengunjungi kediamannya di Jl. Mega, Sepangjaya Labuhanratu Bandarlampung Sabtu (5/6), Nurrohim ditemani Dewi, adik iparnya.

Menurut Dewi, pasca kecelakaan dokter menyuruh Nurrohim untuk beristirahat selama enam bulan. “Kata dokter penyembuhan memori otaknya enam bulan. Jadi harus istirahat tiduran saja,” ucap Dewi.

Baca Juga:   Modus Baru Pengedar Narkoba : Sabu Tidak Lagi Ditunggu, Tapi Dijemput

Dewi menjelaskan, suami kakak perempuannya itu sempat menjalani rawat inap selama 21 hari sejak masuk ke UGD Rumah Sakit Umum Daerah Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM). “Dokter mendiagnosanya gegar otak tingkat sedang berdasarkan hasil CT scan,” ungkapnya.

Selama penyembuhan, Rohim rutin minum obat dan kontrol ke dokter. Meski sudah 21 hari dari peristiwa itu, Nurrohim kata Dewi masih melantur saat berbicara.

“Ngomongnya sekarang jadi ngelantur kalau diajak ngomong. Pertamanya aja yang nyambung. Pembicaraan selanjutnya nggak nyambung,” ungkapnya.

Slamet, rekan sesama tunanetra Nurrohim menambahkan selama dirawat di RSUDAM, pembiayaan pengobatan Rohim ditanggung Jamkesda.

Keluarga Nurrohim memilih jalan damai untuk menyelesaikan masalah ini dengan si penabraknya. Slamet lantas menjelaskan, pihak keluarga mengusulkan penabrak memberi kompensasi berupa uang bantuan ke Nurrohim. Besarnya Rp150 ribu setiap hari selama enam bulan sesuai saran dokter atau sampai sembuh.

Baca Juga:   Mantan Pejabat Pemprov Lampung Ditahan Kejati Lampung

“Ini sebagai kompensasi. Karena kan teman saya ini harus enam bulan tidak boleh aktivitas sama dokter untuk proses penyembuhan otaknya. Bagaimana mau bekerja,” beber Slamet didampingi Abdul Majid yang juga sesama tunanetra ditemui di rumah Nurrohim.

Tawaran ini mengingat Nurrohim juga tulang punggung keluarga. Nurrohim memiliki dua anak dan istri. Anak kedua Nurrohim, Aisyah Az-Zahra, juga penyandang tunanetra. “Anak pertamanya mondok (pondok pesantren) di Jawa. Kemarin barusan pulang lagi ke pondoknya,” cerita Slamet.

Rupanya kata Slamet, pria penabrak Nurrohim hanya mau memberikan uang Rp4 juta saja. “Dengan catatan urusan pengobatan selanjutnya hanya sukarela. Keluarga yang tidak sepakat dengan nominal ganti rugi itu akhirnya belum mau menerima,” katanya.

Baca Juga:   Lusa, PTUN Putuskan Gugatan Eks Kasubag Bendahara RSUDAM

Slamet mengungkapkan, jika tidak ada kesepakatan jalan damai, maka keluarga akan mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum. (nca/wdi)



  • Bagikan