Kisah Thomas Riska, Pernah ‘Diselamatkan’ Hiu, Gantian Ikut Selamatkan Hiu Tutul..

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Penyelamatan seekor ikan hiu tutul di pantai Sukaraja, Telukbetung Selatan Bandarlampung yang terdampar pukul 14.00 WIB, Selasa (3/4) ternyata menguak kisah tragis yang pernah dialami pengusaha Thomas Azis Riska, yang ikut bersama warga melakukan penyelamatan hiu tutul.

Kepada radarlampung.co.id, Thomas berkisah, sebelum ikut menyelamatkan hiu tutul sepanjang 15 meter dengan bobot sekitar 5 ton kemarin, ternyata dia pernah ‘diselamatkan’ oleh hiu saat hilang 5,5 jam pada 11 Januari 2018 di perairan antara Tanjungputus, Pesawaran dan Kotaagung, Tanggamus. Dimana lokasi tersebut adalah pusat ikan hiu baik tutul maupun blacktip shark.

“Sebenarnya saya nggak mau membuka kisah ini. Tetapi, karena ada yang menganggap saya menyelamatkan hiu tutul di Sukaraja kemarin karena ingin tampil, baiklah saya buka ke Radar Lampung Online. Saya terpanggil menyelamatkan hiu tutul karena punya historis tersendiri dengan hiu,” kata dia saat dihubungi radarlampung.co.id, Rabu (4/4).

Evakuasi Thomas Riska oleh awak KM Berdikari 09, pada (11/1) lalu. Foto dok pribadi for radarlampung.co.id

Politisi yang juga owner Taman Wisata Puncak Mas, Sukadanaham dan Pulau Tegal Mas itu berkisah, pada Kamis 11 Januari 2018 . Saat itu,  Thomas tepat berulang tahun ke 46 tahun.
Karena ada acara keluarga, maka Thomas berinisiatif untuk menghindari suprise dari keluarga dan kolega yang sering ‘mengerjai’ saat ulang tahun. Dia lalu menaiki sebuah jet ski miliknya seorang diri sekitar pukul 12.00 WIB. Menelusuri perairan Tanjungputus, Thomas awalnya menikmati perjalanan seorang diri dengan asyiknya. Mendadak, jet skinya tersangkut jaring kawat di laut tersebut.

“Jet ski saya tersangkut jaring kawat. Lalu masuk ke dalam mesin dan mesin jet ski meledak. Saya pun jatuh ke laut,” ujarnya dengan suara bergetar.

Jatuh ke air, Thomas yakin bisa berenang ke tepian. Namun, ternyata posisinya ada di tengah laut. Antara perairan Tanjungputus dan Kotaagung.

“Ternyata disitu adalah tempat ikan hiu. Baik hiu jenis tutul maupun blacktip shark. Tapi saya nggak berfikiran apa-apa. Saya hanya berdoa kepada Allah SWT, agar saya bisa selamat atas pertolongan-Nya,” ungkapnya.

Baca Juga:   Ratusan Warga Geruduk Gerai Vaksinasi Pizza Hut

Detik berganti menit dan jam, tak ada tanda-tanda daratan. Sedangkan ombak di tengah laut membuatnya cukup mual. Tapi, Thomas mengaku tetap bertahan. “Saya lihat di jam tangan saya, kedalaman air menunjukkan angka 60 meter. Saya mulai dehidrasi karena cuaca siang itu cukup terik,” ujarnya.

Di tengah laut yang terus mengombang-ambing dirinya, Thomas melihat kelebatan sirip hiu. Dalam hati, dia mengaku sudah pasrah. Sebab, dia berfikir untuk segera kabur dari lokasi tersebut dipastikan sulit. Sisa tenaganya pun semakin terkuras.

“Saya fikir kondisi saya sangat berbahaya kondisi saya. Hiu berada di sekeliling. Nah, di saat itu ternyata hiu tak menyantap saya. Dia hanya beberapa kali menabrak badan saya,” terangnya.

Thomas saat itu mengaku tak ingat berapa lama dia mengambang dengan hanya memakai pelampung. Tetapi, dia mengaku sempat tertidur selama tiga kali. “Kaki saya hingga pinggang sudah kram saat itu. Lemah sekali deh badan saya,” urainya.

Di saat berada di ujung pertahanan, Thomas samar-samar mendengar suara mesin kapal mendekat. Dia lalu melambaikan tangan. Ternyata, kapal tersebut segera mendekat.

“Saya seolah tak percaya melihat ada kapal yang mendekat. Saya langsung baca, namanya Kapal Motor Berdikari 09. Kapal nelayan yang diawaki beberapa pemancing langsung menolong saya mengangkat ke atas kapal. Alhamdulilah saya sampai menangis saya masih diselamatkan Allah SWT. Ternyata saya sudah 5,5 jam terapung di lautan dari jam 12.00-17.45 WIB,” terangnya.

Di atas kapal, Thomas mengaku tak lepas mengucapkan syukur kepada Allah SWT. “Menurut mantan Dan Brigif Piabung Kol Mar Umar Farouq, sebenarnya ukurannya saya itu sudah lewat. Sebab, ketahanan manusia mungkin hanya beberapa jam diatas air. Ditambah ada hiu di lokasi tersebut, tepat di antara perairan Kotaagung dan Tanjungputus. Jelas hanya karena pertolongan Allah SWT saya masih diberi keselamatan,” ucapnya.

Thomas melanjutkan, para penolongnya di KM Berkari 09 selalu diingatnya. Dia kini memanggilnya ‘Malaikat Penolong’ bagi 11 orang di kapal tersebut.

Baca Juga:   Dirut PLN Raih Penghargaan CEO Terbaik dari The Iconomics

“Penyewa kapal namanya Pak Ivan karyawan PT Bukit Asam. Mualim kapal Pak Dartim dengan para pemancing adalah tamu PT BA yakni anggota DPRD Muara Enim yang sedang memancing. Nama mereka saya tulis di HP saya tambah kata ‘Malaikat’ karena sudah ikut menolong saya. Diantaranya Pak Darmadi, Yunus, Faisal Dartim dan lainnya,” ucapnya.

Setelah dievakuasi, lanjut dia, awak kapal KM Berdikari 09 menghubungi pihak lain meminta pertolongan.

“Saat itu, Wakapolda Lampung Brigjen A.R. Yoyol juga langsung datang. Menggunakan lima kapal, Pak Waka (Wakapolda, Red) langsung ikut mengevakuasi. Bahkan sempat akan mengontek helikopter. Saya lalu dibawa ke TPI Lempasing lalu ke RS Bumi Waras. Alhamdulilah saya nggak perlu dirawat inap. Karena, malamnya saya sudah ditunggu untuk potong tumpeng syukuran ultah saya di Puncak Mas oleh ibunda saya, istri, anak-anak dan keluarga,” tandasnya.

Thomas Riska saat ikut menyelamatkan hiu tutul yang terdampar di pantai Sukaraja (3/4). Foto IST

Adanya tragedi tersebut langsung membekas. Tak heran, hal itu mengingatkannya saat tak sengaja melihat hiu tutul terdampar di Pantai Sukaraja, Selasa (3/4) sore dia langsung ingin menolong hiu itu. Saat itu, Thomas mengaku ke lokasi pantai tersebut untuk membeli ikan.

“Kebetulan saya turun dari mobil ingin beli ikan di Sukaraja, ada warga ramai melihat hiu tutul terdampar. Spontan saya turun dan mengajak warga menyelamatkan hiu tutul tersebut. Saya ingat, hiu yang ‘menyelamatkan’ saya dan tidak memangsa saya saat tenggelam di Tanjungputus pada 11 Januari lalu. Dalam hati, saya harus selamatkan nih bersama warga, karena mereka pernah menyelamatkan saya dengan menabrak dan tak memangsa saya saat itu,” tandasnya.

Thomas Riska saat berulangtahun ke-46 pada (11/1). Foto dok. pribadi for radarlampung.co.id

Thomas menambahkan, dari peristiwa ini dia menarik kesimpulan hikmah besar kuasa Allah SWT dan pentingnya bersahabat dengan samudera serta mengalahkan rasa takut.

“Jangan pernah mencoba menaklukan samudera jadikan samudera sahabat kita. Dan mari belajar mengalahkan rasa takut,” pungkasnya. (rlo/gus)




  • Bagikan