KMMI, Program Kelas Daring Diikuti Ratusan Mahasiswa se-Indonesia Secara Interaktif

  • Bagikan
Foto Dok. Pribadi Dwi Liliana

RADARLAMPUNG.CO.ID – Pembelajaran secara daring (dalam jaringan) menjadi salah satu metode perkuliahan selama dua tahun terakhir –semenjak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Termasuk di Lampung.

Mulai dari tingkatan sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi ikut menggelar pembelajaran daring.


Namun, hal berbeda dirasakan usai adanya Program Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI) 2021. Program ini merupakan cetusan Dikti untuk melengkapi program merdeka belajar kampus merdeka.

Universitas Lampung (Unila) menjadi instansi yang menggelar program tersebut. Lebih dari 2.000 mahasiswa tergabung. Namun, bukan hanya mahasiswa dari Unila. Melainkan ribuan mahasiswa se-Indonesia ikut tergabung.

Betapa tidak, dari kuota yang tersedia sebanyak 2.000 mahasiswa, ada 3.800 mahasiswa yang mendaftar.

Tak ayal, kelas virtual yang berlangsung selama dua bulan sejak Agustus hingga September mendatang menjadi rebutan. Setidaknya ada 50 kelas yang tersedia. Yang dibagi pada 18 course.

Ke-18 course atau mata kuliah itu mulai dari Pemrograman Berorientasi Objek; Aplikasi Android dengan Flutter; Desain Interaksi untuk UI/UX Designer Pemula; Big Data Analytics; Konsep, Strategi, dan Implementasi IOT; Profesi dan Etika Perdagangan Efek; Technopreneurship dan Agribisnis Kopi.

Selanjutnya Digital Komunikasi Bisnis; SDGS dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Daerah; SDGS dan Pengelolaan Sampah; SDGS dan Pengentasan Kemiskinan di Daerah; SDGS dan Pengelolaan Kesehatan di Daerah; SDGS dan Pengelolaan Pendidikan; E-Court : Digitalisasi Peradilan Indonesia; E-HKI: Penyusunan E-Dokumen Pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual; Investasi pasar modal; dan Teknologi Multimedia.

Setidaknya ada 75 dosen terlibat. Per minggunya masing-masing kelas menggelar dua kali perkuliahan secara daring. Pengalaman berbeda ternyata terasa selama beberapa pekan menjalani program KMMI 2021 ini. Mahasiswi program studi (Prodi) Teknik Informatika Unila angkatan 2019 Dwi Liliya menjadi salah satu yang mengakui hal itu.

Dengan mengambil course Konsep, Strategi, dan Implementasi IOT (Internet of Things), Lili -sapaan akrabnya- selama menjalani perkuliahan, menurutnya banyak hal yang baru ia rasakan. Seperti bertemu dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia yang bisa bergabung dalam satu kelas.

Baca Juga:   UIN Kembali Lakukan Vaksinasi untuk Mahasiswa

Suasana jelas ramai, lebih interaktif. Jejaring komunikasi pun bertambah.

“Di kelas saya itu ada banyak yang mahasiswa dari luar Lampung. Seperti dari Unsri dan beberapa universitas lain di Jawa. Memang beda rasa perkuliahannya dengan kelas biasa karena lebih interaktif, kan kita banyak dari prodi yang berbeda juga, jadi bisa tahu penerapan IOT di jurusan lain seperti Akuntansi misalnya, seperti apa,” ungkap Lili.

Dirinya pun awal memutuskan bergabung bukan tanpa alasan. Karena tertarik sejak awal mengenai artificial intelegent. Karena itulah, Lili akhirnya mengambil Konsep, Strategi, dan Implementasi IOT.

“Iya alasan gabung karena KMMI hanya 2 bulan, KMMI juga ada course khusus IOT yang ada di jurusan aku. Jadi biar waktu di semester atas bisa lebih banyak waktu untuk ekpor yang lainnya,” tambahnya.

Selama beberapa pekan mengikuti kegiatan ini juga, Lili mengaku tak banyak mengalami kendala. Proses pembelajaran daringnya pun tergolong mudah dan tidak mengganggu perkuliahan umum.

Pada bagian lain, Ketua Pelaksana Program KMMI Unila Dr. Rangga Firdaus, M.Kom., menyebutkan, Unila termasuk kampus terpilih. Dari ribuan kampus se Indonesia, Unila menjadi satu dari 85 kampus yang berhasil lolos seleksi penyelenggara program perkuliahan daring bagi mahasiswa lintas kampus se-Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Usaha sejak awal kompetisi mendapatkan program ini tidak mudah. Ada beberapa trik untuk melancarkan proposal ajuan Unila ini.

Apalagi, Unila berhasil meloloskan 18 mata kuliah. Ini termasuk penerimaan terbesar. Karena hampir rata-rata kampus yang mendapat program ini hanya sekitar 4 sampai 8 course saja.

Untuk bisa lolos, ternyata beberapa hal ikut diterapkan. Seperti memperhatikan mata kuliah baru yang disesuaikan dengan dunia industri dan dunia usaha. Sehingga dari 16 kali pertemuan, akan diisi delapan kali dari kampus, dan delapan kali dunia usaha. Setidaknya 30 industri ikut terlibat dalam program ini.

Baca Juga:   UIN Kembali Lakukan Vaksinasi untuk Mahasiswa

Setidaknya 3.800 mahasiswa yang hendak berpartisipasi dalam 18 course. Itupun, Rangga mengatakan 30%-nya terisi dari mahasiswa Unila.

Bahkan semua mahasiswa bisa mengikuti kegiatan ini, hingga lintas prodi, fakultas bahkan universitas. Hanya syaratnya terdaftar di data  Dikti.

“Dengan harapan output-nya adalah wawasan terkait materi atau mata kuliah yang mereka ambil. Jadi kami memberikan materinya misalnya ingin mempelajari budidaya kopi, ini materinya, ini tujuannya dan hasilnya,” ungkap Rangga.

Meski hanya berjalan dua bulan, namun Rangga mematikan mahasiswa aman mendapatkan banyak informasi tambahan di perkuliahan yang diberikan. Persoalan bisa tidaknya di konversi kan seusai kampus masing-masing mahasiswa. Namun mahasiswa yang bergabung tetap banyak memiliki keunggulan lainya. Terutama dalam sektor usaha.

Sementara Rektor Universitas Lampung Prof. Dr. Karomani, M.Si., menyampaikan apresiasinya kepada para tim yang telah berhasil memenangkan hibah kompetitif dalam penyelenggaraan program KMMI.

Ia mengatakan, rata-rata perguruan tinggi yang lolos sebagai penyelenggara hanya mendapat 10 mata kuliah untuk ikut pada program KMMI. “Namun alhamdulillah, Unila berhasil memenangkan hibah kompetitif ini dengan jumlah 18 mata kuliah dengan 2.000-an peserta mahasiswa.

Pemateri pada perkuliahan KMMI ini terdiri dari 75 dosen terpilih Unila, 30 mitra dunia usaha dan dunia industri, serta 54 praktisi profesional. Ia berharap, semua yang terlibat pada program ini dapat melaksanakan dengan profesional dan direncanakan sebaik-baiknya.

“Dengan momentum ini saya berharap agar Unila menjadi salah satu contoh pelaksanaan KMMI yang sukses dan layak ditawarkan di level regional maupun global,” ujarnya. (rma/sur)




  • Bagikan