Lampung Pilot Project Pertanian, Arinal: Hentikan Impor Kopi

  • Bagikan
Gubernur Lampung Arinal Djunaidi saat menyampaikan sambutan pada acara coffe morning antara eksportir, pengolah dan petani kopi provinsi Lampung di Golden Dragon, Bandarlampung, Rabu (4/9). Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

radarlampung.co.id – Niatan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi menghentikan impor kopi bukan sebatas retorika. Untuk itu, Arinal meminta Kementerian Pertanian (Kementan) memperhatikan betul Lampung sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia.

“Saya ingin ke depan kementerian konsen lihat Lampung, karena bila kami gagal yang rugi kementerian. Tapi ketika berhasil, artinya kementerian untung karena sebuah solusi baik. Maka Lampung harus jadi pilot project. Saat ini Lampung ketertinggalan terlalu jauh, tapi potensinya masih besar,” kata Arinal saat Coffee morning bersama eksportir pengolah dan petani kopi di Golden Dragon, Bandarlampung Rabu (4/9).

Menurutnya, semua sektor perkebunan  di Lampung hasilnya berada diatas rata-rata nasional. Ironisnya, masyarakat Lampung masih masuk kategori miskin. Makanya ke depan, Arinal meminta harus ada kerjasama antara Pemerintah pusat dan daerah, karena ekspor kopi Lampung secara utama dikirim ke eropa 35 perse dan memiliki peranan di Lampung karena 15-18 persen nilai total sharing ekspor di Lampung.

Kemudian Arinal juga berharap impor kopi dapat dihentikan. “Pada 2019 impor kopi dari vietnam ribuan ton, maka ke depan kita stop impor, namun kita harus berdayakan petani, area, pengusaha, dan secara teknis tidak perlu impor,” tandas Arinal.

Kemudian, Arinal juga meminta kualitas kopi Lampung tetap di pertahankan. Sebab, dirinya mendapatkan informasi jika kualitas kopi di Lampung dari petani 60 persen kopi hijau, 35 persen merah, lebihnya hitam. Kemudian hasilnya dikumpulkan dari Lampung Barat ke Tanggamus, sampai gudang baru diseleksi yang mana, merah, hiju, hitam.

“Inilah yang harus kita ubah, saya tanya mau nggak menjaga merah semua asal harganya lebih tinggi. Tapi petani bilang kalau lewat tidak ada yang beli, tapi bijinya justru dimaling. Makanya saya minta bupati, dinas perkebunan harus diubah. Pokoknya saya mau panen yang merah. Dan mari bekerja besama-sama, saya akan komandoi petani jual merah dan pengusaha mengambil saat merah,” tambahnya.

Kemudiaan Arinal juga meminta asosiasi baik AEKI, GAEK untuk turut membantu pemerintah menjaga kualitas kopi. Menurut Arinal, jika tidak ada koordinasi pihaknya akan meminta lahan 20 hektar ke Kementerian BUMN untuk di tanam kopi.

Kemudian untuk pengusaha, jika tidak mau kerjasama lebih baik pindah ke tempat lain. “Saya berharap pengusaha asosiasi membantu petani untuk bersama-sama. Selain itu, saya minta tidak ekspor kopi dalam bentuk kualitas asalan, citra Lampung sudah bagus jangan sampai satu dua orang tidak bagus. Saya ingin melindungi masyarakat dari pemalsuan produk dan kita ingin tingkatkan persaingan era global, maka AEKI diperlukan melindungi ciri khas produk dan meningkatkan produk yang mengandung indikasi geografis,” pungkasnya. (rma/kyd)


Baca Juga:   Duh, Ada Pimpinan DPRD Bandarlampung Dikabarkan Isoman


  • Bagikan