Lampung Waspada Penyakit Mulut dan Kuku

Tolak Sapi dari Daerah Wabah


Ilustrasi peternakan sapi. Foto dok. radarbali.jawapos.com

RADARLAMPUNG.CO.ID – Lampung kini waspada penyakit mulut dan kuku (PMK) yang kini mewabah di daerah Jawa Timur. Beberapa langkah disiapkan untuk mengantisipasi penyakit ternak itu masuk ke Lampung.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung Lili Mawarti menjelaskan, sejak ditemukan 1.247 ekor ternak sapi di Kabupaten Gresik, Lamongan, Sidoarjo, dan Mojokerto pada 5 Mei lalu.





Indonesia, kata Lili, sebenarnya sudah terbebas dari penyakit mulut dan kuku pada 1990. “Tapi yang muncul sekarang ini virusnya berbeda dengan yang dahulu dan masih diteliti untuk menentukan penanganannya,” katanya.

Bukan hanya sapi, PMK juga bisa menyerang hewan ternak berkuku belah lain seperti kambing, domba, babi, dan lainnya.

Ciri ternak yang terserang PMK yakni diantaranya demam, lecet pada kaki, mulut, moncong, dan puting susu. Mengeluarkan air liur berlebih, kaki pincang, malas bergerak, kuku mengelupas, dan tidak nafsu makan.

Baca Juga:   Siap-siap, Ini Jadwal Pelantikan PJ bupati

Terkait vaksin, Lili mengaku belum ada vaksin untuk PMK tahun 2022 ini. “Vaksin PMK di tahun 1980 berbeda. Karena virusnya juga berbeda. Kita masih menunggu Kementerian Pertanian untuk vaksinnya,” sambung Lili.

Pihaknya sudah melakukan upaya antisipatif agar virus tersebut tidak masuk ke Lampung.

“Ya kita sudah keluarkan surat edaran ke dinas kabupaten dan kota di Lampung menindaklanjuti edaran dari Dirjen (Kementan) untuk mewaspadai penyakit mulut dan kuku ini,” kata Lili didampingi Kabid Kesehatan Hewan, Anwar Bahri di ruangannya, Jumat (13/5).

Tak hanya edaran, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Balai Karantina Pertanian di Bakauheni dan Cilegon, Banten untuk memperketat pengawasan agar mencegah tidak masuk ke Lampung.

“Kita juga sudah berkirim surat ke Balai Karantina Kelas I Bandarlampung dan di Cilegon untuk membantu kami mengawasi lalu lintas ternak,” bebernya.

Baca Juga:   Gubernur Batasi Hilir Mudik Hewan Ternak di Lampung

Menurutnya, untuk sapi dari daerah lain yang mau masuk ke Lampung harus memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

“Kemudian harus dilengkapi rekomendasi teknis dari penerima. Kalau kita tidak bersedia, maka ternak yang mau masuk ke Lampung bisa kita tolak,” jelas Lili.

Tak hanya itu, gerak cepat juga dilakukan dengan mengadakan rapat koordinasi (rakor) yang melibatkan stakeholder terkait seperti dinas peternakan di kabupaten dan kota, para peternak, rumah potong hewan, belantik, dokter hewan dan lainnya pada 10 Mei lalu di aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dari rakor tersebut kata Lili, kemudian diterbitkan surat edaran gubernur (SE) Nomor 045.2/1654/V.23/2022 tentang Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (Foto and Mouth Disease) di Provinsi Lampung pada 11 Mei lalu.

Ada tujuh poin dalam edaran itu. Di antaranya yakni membentuk Satgas Pengendalian Penyakit Mulut dan Kukuh di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Tim satgas ini berfungsi antara lain meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan dan produknya antar daerah.

Baca Juga:   Nihil Kasus PMK, Pemkab Tuba Imbau Peternak Tetap Waspada

“Lalu tidak merekomendasikan pemasukan hewan dari daerah wabah dan tidak menerbitkan SKKH untuk ternak transit yang melewati Lampung,” kata Lili membacakan edaran gubernur.

Juga membentuk call center juga meningkatkan pengawasan di rumah potong hewan. “Kemudian juga dinas teknis di provinsi dan kabupaten/kota juga membentuk tim reaksi cepat dengan tugas utama melakukan surveilans untuk deteksi dini dan respon cepat pengendalian di lapangan,” kata Lili.

Ia mengimbau kepada peternak, belantik dan pemilik rumah potong hewan agar menjaga kebersihan kandang. Dan tidak melakukan jual beli sapi dan hewan ternak lainnya ke luar provinsi.

“Bila menemukan gejalanya segera laporkan ke dinas terdekat. Kami sudah membentuk unit reaksi cepat di setiap dinas,” tandasnya. (nca/sur)