Lapor Pak ! Perguruan Silat di Lampura Ini Butuh Fasilitas Penunjang

  • Bagikan
Perguruan silat Teratai Putih Lampung, menggelar latihan rutin dengan memakai gedung BPBD Lampura. Foto Fahrozy Irsan Toni/radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID- Meski dengan keadaan terbatas, pencak silat Teratai Putih Lampung, Kabupaten Lampung Utara (Lampura), tetap mengukir prestasi.

Keterbatasan penunjang latihan seperti matras, baju seragam silat, sampai kepada dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk sekedar membantu akomodasi saat melakukan pertandingan event diselenggarakan, baik tingkat Kabupaten, Provinsi maupun pusat. Sehingga membutuhkan perhatian pemerintah Kabupaten Lampura.


Saat ini, terdapat sekitar 70 orang lebih siswa, dan hampir separuh diantaranya merupakan atlet yang telah bertanding diberbagai ajang dan tingkatan. Bahkan, pesilat Teratai Putih Lampung, ini tak jarang juga medali emas disabet. Sehingga berdampak kepada nama harum Kabupaten Lampura.

Seperti atlit jebolan Lampung Intenational Champion Ship (LC) V, Gigih Satria Ramadhan. Pria yang kini duduk di semester II UMKO itu mengaku cukup prihatin dengan perjalanan karier dan latihan selama ini. Ia mengatakan, tanpa memiliki tempat yang tetap, seperti saat pandemi harus berpindah-pindah lokasi. Selain itu, fasilitas penunjang juga, hingga saat ini belum ada.

“Selain fasilitas penunjang alat, kita tak ada tempat untuk berlatih. Bersyukur ada yang berbaik hati memimjamkan gedung untuk kami berlatih, karena telah banyak muridnya disini. Alhamdulillah beberapa diantaranya telah membawa harum nama daerah,” kata dia disela-sela latihan di Markas BPBD Lampura.

Ia juga mengatakan, untuk di markas BPBD Lampura ini, sifatnya menumpang gedung. Itu pun, kata dia, latihannya tidak optimal yakni waktu kantor BPBD Lampura libur dinas saja. “Baru satu tahun di sini Bang. Belakangan menjadi tempat latihan sementara, sebelum ada tempat tetap,” terangnya, Minggu (26/9).

Baca Juga:   Bobol Sekolah, Satu dari Tiga Tersangka Ditembak

Menurutnya, tidak mudah bagi mereka yang orang tuanya tergolong berpenghasilan menengah kebawah dalam meniti karier di bidang olah seni dan raga pencak silat itu. Demi meraih asanya, harus berjuang sendiri menghadapi kenyataan pahit. Sebab, meski harus mengeluarkan uang dari kocek sendiri dalam-dalam tetap dilakoninya.

“Mau tidak mau kak, ya orang tua yang membiayai sendiri. Semisal diajang provinsi lalu, untuk ongkos, makan-minum berikut pengipanan kita diutus perguruan sokongan sampai Rp1 juta/nperorang. Kalau orang mungkin biasa, tapi saya misalnya orang tua sebagai pegawai honorer kan berat belum dimasa pendemi seperti sekarang,” tandasnya.

Namun demikian, tetap dijalan, meskipu dengan hati yang getir. Demi meraih impian, dapat membanggakan orang tua, daerah, bangsa dan negara. “Tak bisa elak buang kalau sudah begini, mau tak mau harus dilakukan. Bersyukur kami karena Allah SWT masih meridoi, dan semua terjadi seperti tanpa kesengajaan saja, “timpal peraih medali emas ajang internasional (LC-V) lainnya, Refki Pernanda.

Perguruan dibawah asuhan, M. Roni Kesuma alias Ebon dan Sobri alias Ayi, serta Guru Besar, Fajar Rusli Glr. Suttan Pujian dan Ir. Azwar Yazid, MM mereka tetap bersemangat menjalankan rutinitas dibalik kesibukannya. Sebab, mereka berlatih disana rata-rata masih sekolah, mulai dari PAUD, TK, SD, SMA sampai di Perguruan Tinggi. “Cita-cita saya gak banyak kak, cuma pengen jadi ASN. Makanya saya getol, mudah-mudahan dapat memberi arti bagi keluarga, “ujar Refki, siswa kelas XII SMA itu.

Baca Juga:   186 Peserta CPNSD Tak Hadir Tes Tahap Pertama

Disisi lain, pengasuh TPL, Sobri (Ayi) berujar bahwasanya pada saat ini mereka tengah mempersiapkan anak didiknya untuk berlaga pada ajang LC tingkat provinsi dan Porprov. Sehingga berharap dapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat disana, demi meraih prestasi gemiliang. Dalam membawa nama harum, tidak hanya ditingkat provinsi akan tetapi juga ditingkat nasional.

“Harapan kami bisa diperhatikan, meski tak banyak itu memberi arti bagi anak-anak kita yang sedang berjuang ini. Kami prihatin dengan keadaan saat ini, sebab, apa banyak siswa disini berjuang untuk kabupaten lain karena minim perhatian. Salah satu contohnya ada di TBB, sebab, di sana diakomodir keinginan, “ujar pria disapa akrab Ayi itu.

Senada dikatakan Ebon, pelatih lainnya. Ia mengatakan, perguruan pencak silat teratai putih Lampung ini, sudah banyak giatnya. Sisi latihan, bisa dilihat sendiri bagai mana siswa-siswi berlatih keras dan disiplin tinggi. “Kita profesional. Kita latih dengan mental jawara. Semua siswa di perguruan ini, sudah kita didik agar kedepan menjadi atlit Jawara, baik tingkat Provinsi hingga Nasional. Untuk itu, kami harap adanya perhatian dari pemerintah Kabupaten Lampura, ” kata Ebon, yang terkenal mahir memainkan Pisau dua tersebut. (ozy/wdi)




  • Bagikan