Latih Muli-Mekhanai Lamsel Seni Pertunjukan Sastra Lisan Kias

  • Bagikan
Muli-mekhanai di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lamsel, saat mengikuti sesi pelatihan seni pertunjukan tradisi lisan kias di desa setempat, Kamis (8/7) lalu. Foto Abdul Karim/radarlampung.co.id

Oleh:
Dr. Farida Ariyani, M.Pd.
Dr. I Wayan Mustika, M.Hum.
Eka Sofia Agustina, M.Pd.

 


RADARLAMPUNG.CO.ID-Tercatat di bumi nusantara ini ada 17.509 pulau yang masuk pada 34 provinsi dengan 1.340 suku budaya dan 718 bahasa daerah terdapat di dalamnya. Kemudian dari 718 bahasa daerah tersebut hanya terdapat 17 yang disertai aksara bahasanya. Salah satu di antaranya Lampung.

Lampung sendiri dari masyarakat adat Pepadun dan Sai Batin-nya memiliki budaya sangat kaya. Salah satunya tradisi lisan kias yang dimiliki masyarakat Desa Kunjir, Lampung Selatan (Lamsel), yang keberadaannya perlu dilestarikan.

Karena itu, salah satu Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unila yang diketuai Dr. Farida Ariyani, M.Pd. dengan melibatkan mahasiswanya memberikan pelatihan Seni Pertunjukan Sastra Lampung Kias bagi Muli-Mekhanai di Desa Kunjir, Kalianda, Lamsel.

’’Kegiatan pengabdian ini untuk mengenalkan sekaligus menggali sastra lisan di Kalianda yang secara informasi faktual di desa ini (Kunjir, Red) masih ada tradisi lisan dalam upacara adatnya. Dan di situ (Kalianda), sastra lisannya kias,” terang Farida yang juga Ketua Program Studi (Kaprodi) Pascasarjana Pendidikan Bahasa Lampung FKIP Unila.

Sebagai pengampu mata kuliah Kebudayaan Lampung, lanjut Farida, tentu ini menarik agar sastra lisan kias tersebut tetap dikenal generasi muda khususnya dan menyelamatkan pewarisnya. ’’Sastra lisan kias ini kaitannya dengan pelantun atau pewarahnya. Sehingga bagaimana bisa mentransfernya langsung kepada generasi penerus,” tegasnya.

Transfer sastra lisan kias dimaksudnya bukan hanya sebagai local wisdom (kearifan lokal). Tetapi juga dalam rangka menjadikannya sebagai knowledge (pengetahuan). ’’Jadi nantinya bagaimana itu bisa dikenalkan kepada generasi sebagai kaidah ilmu yang disesuaikan dengan era kekinian atau digital,” tandasnya.

Menurutnya itu juga yang memungkinkan ditidaklanjuti melalui pengabdian kepada masyarakat tahap berikutnya. ’’Selaku Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Lampung, tentu kami berharap dengan lahirnya S-1 dan S-2 Pendidikan Bahasa Lampung di FKIP Unila dapat menjadi wadah dalam kegiatan ini (sastra lisan kias, Red) menjadi knowledge,” ujarnya.

Ditambahkannya, pelatihan seni pertunjukan sastra lisan kias berlangsung selama dua hari (7–8/7) di Desa Kunjir diikuti puluhan muli-mekhanai asli desa setempat. Kemudian, pelatihnya selain tim dari Prodi Pascasarjana Bahasa Lampung FKIP Unila juga melibatkan langsung praktisi seni pertunjukan di Lampung Rusly Syukur, S.Sn. serta maestro tradisi lisan kias Kalianda, Hi. Hasan Mata Raja, Raja Perbasa, dan kadernya Susilawati.

Hasilnya, apresiasi Farida, tampak muli-mekhanai di desa yang pada tahun 2018 lalu terkena dampak tsunami tersebut begitu antusias mengikuti pelatihannya. Dalam waktu hanya dua hari, mereka sudah mampu bersastra lisan kias dengan baik. ’’Bahkan, mereka berinisiatif membentuk kelompok seni tradisi lisannya dan berharap Unila terus melakukan pembinaan terhadap muli-mekhanai di Lamsel,” pungkasnya. (rim/wdi)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan