Limbah Medis Covid-19 RSUDAM, Capai 5 Ton per Bulan

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama pasien Covid-19 di Lampung, Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) diketahui menghasilkan sekitar 3 sampai 5 ton limbah medis khusus Covid-19, setiap bulannya.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Direktur Keperawatan, Pelayanan dan Penunjang Medik, dr. Mars Dwi Tjahjo. Besarnya jumlah limbah medis khusus covid-19 tersebut, seiring dengan meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Lampung hingga saat ini.


“Limbah Covid-19 yang dihasilkan tiap bulannya mencapai 3.000 hingga 5.000 kilogram per bulan. Sedang untuk limbah medis biasa (jumlahnya, red) tidak jauh berbeda,” katanya, Rabu (3/2).

Lebih jauh dia mengatakan, di bulan Maret 2020 atau awal mulanya pandemi Covid-19, RSUDAM menghasilkan limbah medis khusus Covid-19 sekitar 200 kilogram per bulan.

Baca Juga:   Bakso Son Haji Sony Adukan Nasib Karyawannya ke KSP RI

“Tapi seiring dengan bertambahnya pasien Covid-19, limbah medis yang dihasilkan juga mengalami peningkatan, cukup signifikan,” tambahnya.

Adapun limbah infeksius Covid-19 yang dihasilkan, antara lain seperti masker bekas, sarung tangan bekas, perban bekas, tisu bekas, alat suntik bekas, set infus bekas, serta alat pelindung diri dan baju hazmat.

Di samping itu, dalam proses pengumpulan dan pembuang limbah tersebut, RSUDAM juga menerapkan sejumlah protokol yang harus dijalani. Petugas diwajibkan menggunakan APD, lantaran limbah tersebut masih berpotensi menularkan virus.

“Kami terus mengupayakan supaya limbah-limbah ini tidak tercecer. Sebab, masih berpotensi menularkan (penyakit, red). Jadi petugas yang membuang limbah juga harus menggunakan APD,” tandasnya.

Baca Juga:   Temukan Titik Temu, Besok Pemkot Sampaikan Hasil Pertemuan dengan Bakso Son Haji Sony

Untuk menanggulangi limbah medis tersebut, RSUDAM juga melakukan pemusnahan limbah. Yakni berkerjasama dengan pihak ketiga diantaranya PT Biuteknika Bina Prima selaku transporter dan PT Wastec sebagai pemusnah limbah.

Dalam pemusnahan, tambah dia, RSUDAM tidak melakukan sendiri lantaran masih terkendala ijin lingkungan untuk mengoperasian incinerator. “Pengambilan limbah medis ini dilakukan secara berkala, biasanya satu minggu dua kali,” pungkasnya. (Ega/yud)




  • Bagikan