Mahasiswa Bikin Inovasi Bantu Pemulihan Pasien Covid

  • Bagikan
Foto dok UBL for radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Pandemi Covid-19 masih membekap Indonesia. Di Bandarlampung saja kini diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 20 Juli mendatang.

Namun, dunia kampus tak surut inovasi. Beberapa terobosan dicetuskan guna membantu pemerintah dalam menangani dampak Covid-19.

Salah satunya datang dari mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL) yang menciptakan Inhalasi Hydrogen guna membantu pemulihan pasien Covid-19. Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) UBL merancang Inhalasi Hydrogen menggunakan metode Elektrolisis untuk meringankan gejala paru-paru akibat Covid-19.

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, Dandi Efendi dan beberapa rekannya. Dibantu oleh dua dosen pembimbing, Riza Muhida, Ph.D., dan Muhamad Riza, Ph.D.

Menurut Dandi, dirinya bersama beberapa rekannya membuat Inhalasi Hydrogen dengan alat dan bahan yang mudah didapatkan. Misalnya saja alat dan bahan yang diperlukan hanya Generator hydrogen, air, tabung regulator humidifier, masker oksigen, serta DC power supply.

“Kalau langkah-langkah pembuatannya juga cukup mudah. Jadi pertama dengan menghubungkan selang dari tabung penampung air ke generator melalui connector in, lalu hubungkan selang dari generator ke tabung humidifier melalui connector out, kemudian hubungkan humidifier dengan oksigen mask, dan langkah terakhir hubungkan generator yang telah di rangkai dengan DC power supply,” ungkap Dandi.

Dia menyebut, cara kerja alat ini adalah membuat air masuk ke generator HHO, lalu air mengalami proses elektrolisis dan menghasilkan gas HHO atau 66% hydrogen dan 33% oxygen. Selanjutnya gas masuk ke tabung humidifier, setelah maluli tabung humidifier gas di alirkan ke oxygen mask.

Dandi mengatakan, Inhalasi Hydrogen memiliki banyak manfaat. Bahkan, telah banyak dikemukakan oleh para ahli melalui berbagai artikel, salah satunya Menurut dr. Bintang Cristo Fernando, Sp.BS yang juga Kepala Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta.

“Penggunaan hidrogen ini memiliki beragam manfaat dan fungsi. Seperti saat sampai di paru-paru, hidrogen memiliki fungsi sebagai antioksidan yang mendukung detoksifikasi sel. Jika sel-sel di paru-paru itu sedang mengalami toxifikasi seperti CO-nya tinggi, tidak bekerja, atau sedang bengkak, antioksidan berfungsi untuk melakukan detoksifikasi sel. Hal itu membuat sel tersebut terhidrasi dan permukaan sel mitokondria yang sudah terganggu akan baik kembali sehingga sel dapat bekerja lagi secara optimal seperti biasa dan mempercepat produksi kekebalan tubuh,” tambah Dandi.

Baca Juga:   Rektor UTI Pandu Diskusi Forum Rektor Indonesia

Dari berbagai laporan menunjukkan air hidrogen memiliki kualitas terapeutik dalam pengobatan kondisi paru-paru inflamasi kronis. Oleh karenanya memungkinkan dapat membantu meringankan gejala paru-paru yang parah dari Covid-19.

Saat ini, Inhalasi Hydrogen buatan Dandi dan rekan-rekannya masih dalam tahap peninjauan ulang dari proses uji klinis dan kelayakan penggunaannya dari sisi medis. “Sampai saat ini masih harus ditinjau ulang dari proses uji klinis dan kelayakan penggunaannya dari sisi medis. Kami sangat terbuka untuk melakukan kerjasama dengan Dinas Kesehatan. Hal ini penting karena kami memerlukan masukan dari pihak terkait untuk penyempurnaan produk ini dari sisi medis,” tutur Dandi.

Dandi menambahkan, sebenarnya pembuatan Inhalasi Hydrogen ini merupakan pekerjaan penelitian lanjutan yang awalnya untuk mengekstrak hidrogen (H) dari air (H2O). Pada awalnya Dandi fokus ke hidrogen untuk sumber energi pengganti bahan bakar minyak (BBM), yang mana penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun lalu dalam rangka mengikuti program merdeka belajar di Program Studi Teknik Mesin UBL.

“Karena hasil penelitian semester lalu generator ini menghasilkan gas hidrogen dan oksigen, dimna gas hidrogen dapat di jadikan bahan bakar, dan oksigen nya bisa di tampung di tabung jika ingin di pergunakan kembali, dan ternyata gas dan air dari proses tersebut juga dapat di gunakan di bidang medis, dari sinilah saya dan rekan-rekan bersama bimbingan dosen memutuskan untuk membuat Inhalasi Hydrogen tersebut,” lanjut Dandi.

Tak hanya Dandi, inovasi teranyar datang dari Institusi Teknologi Sumatera (ITERA). Dosen ITERA, Andre Febrianto, dan Heriansyah, menciptakan aplikasi tandatangan digital pada surat bebas Covid-19. Aplikasi ini penting untuk cegah pemalsuan surat tes Covid-19 saat ini.

Untuk mengurangi potensi kecurangan yang dilakukan masyarakat, Andre dan Heriansyah menciptakan alat tersebut. Di mana, pembuatan aplikasi tanda tangan digital atau digital signature ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan Andre Febrianto, yang merupakan dosen Program Studi Teknik Informatikda dan Heriansyah, dosen Prodi Teknik Elektro.

Baca Juga:   Itera Siap Ikut Teliti Vaksin Covid-19

“Aplikasi ini dibuat dengan tujuan melakukan  verifikasi untuk memvalidasi bahwa surat hasil tes Covid-19 yang dikeluarkan benar-benar berasal dari UPTD Labkesda Provinsi Lampung,” jelas Andre.

Aplikasi ini akan menambahkan QR-Code yang akan muncul pada hasil tes Covid-19. Di mana, jika QR-CODE dipindai, maka akan terkoneksi dengan website resmi UPTD Labkesda Provinsi Lampung, sehingga dapat menghindari pemalsuan surat, baik surat hasil pemeriksaan Swab PCR atau Swab Antigen,” jelas Andre.

Aplikasi ini juga merupakan tindak lanjut dari kegiatan  Pelatihan pembuatan dan pemanfaatan sistem informasi laboratorium (SIL) yang diadakan dirinya dan Heriansyah di UPTD Balai Labkesda Provinsi Lampung, beberapa waktu lalu. Pelatihan dilakukan dua kali, yaitu pada 1 dan 6 Juli 2021,  bertempat di Aula UPTD Labkesda Provinsi Lampung, dan diikuti para pegawai Labkesda.

Karena itulah, Andre mengatakan ITERA siap senantiasa pengambil peran dalam penerapan teknologi kepada masyarakat terutama di Provinsi Lampung dan Pulau Sumatera, sesuai dengan tagline Itera For Sumatera. “Salah satunya melalui pengabdian masyarakat yang kami lakukan guna mengatasi masalah di saat pandemic Covid-19,” tambah Andre.

Dengan adanya aplikasi ini, Kepala UPTD Labkesda Provinsi Lampung, Leni Yurina menyambut baik. Sebab, aplikasi itu akan diintegrasikan dengan AllRecord-tc-19 (NAR) dan aplikasi Peduli Lindungi yang sudah digunakan oleh pemerintah.

“Dengan adanya aplikasi ini, maka akan terintegrasi dengan NAR dan aplikasi Peduli Lindungi sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar lebih efektif dan efisien,” jelas Leni.

Leni menyebut, hal ini juga sejalan dengan arahan Menteri Kesehatan RI yang tertuang pada Surat Edaran Menkes No. HK.02.01/MENKES/847/2021 tentang Digitalisasi dokumen kesehatan bagi pengguna transportasi udara yang terintegrasi dengan aplikasi Peduli Lindungi.

“Kami berharap, sistem informasi laboratorium (SIL) dapat segera diterapkan di UPTD Labkesda Provinsi Lampung. Hal ini mengingat pada era digital saat ini sangat diperlukan sebuah sistem informasi yang dapat menunjang segala operasional pelayanan di  Labkesda, mulai dari proses pendaftaran, pemeriksaan sample laboratorium, hingga pembayaran,” ungkap Leni. (rma/wdi)




  • Bagikan