Mampir ke Pringsewu, Penyandang Disabilitas Peraih MURI Terkesan dengan Wabup

  • Bagikan
Murtini menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Husada Pringsewu. FOTO AGUS SUWIGNYO/RADARLAMPUNG.CO.ID

radarlampung.co.id – Perjalanan Dr. Hj. Murtini, S.H., M.M., M.H. terhenti di Pringsewu. Penyandang disabilitas yang meraih rekor MURI karena keliling Indonesia ini tiba sekitar pukul 08.00 WIB, Kamis (22/11).

Sebelumnya perempuan berdarah Sumatera Barat itu menumpang travel dari Pesisir Barat. Didampingi anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas Sosial Pringsewu, ia menghadap Asisten I Sekretariat Pemkab Pringsewu.

Lantas wanita yang kehilangan penglihatan karena kecelakaan ini menceritakan pengalamannya selama berkeliling Indonesia. Salah satunya, sambutan kurang simpatik yang dirasakannya.

”Kalau pejabatnya cukup respon. Tapi yang pegawai kurang (respon) pada orang seperti saya,” kata Murtini.

Wanita ini juga berkesempatan bertemu dengan Wakil Bupati (Wabup) Pringsewu Fauzi.  Ia senang dengan sambutan hangat yang diterimanya. ”Kalau pak Wabup, begitu hangat sambutannya. Beda dengan anak buahnya,” cetusnya.

Di Pringsewu, Murtini harus “istirahat” di Rumah Sakit Mitra Husada. Ia kelelahan setelah berkeliling sejumlah instansi di pemkab setempat. Ini menyebabkan kadar gulanya naik.

”Sejak kemarin (Kamis, Red) dirawat di rumah sakit,” kata Murtini ditemui Radarlampung.co.id di ruang VIP C kamar 21, tempat dirinya dirawat.

Murtini bersyukur, pihak rumah sakit membebaskan biaya perawatan. Sebelumnya, ia menjalani perawatan di ruang kelas tiga. Kemudian dipindahkan ke ruang VIP.

Direktur Rumah Sakit Mitra Husada dr. Elvani mengatakan, selain membebaskan biaya perawatan, pihaknya juga berusaha memberikan pelayanan terbaik. ”Kita upayakan pelayanan sebaik mungkin,” kata Elvani.

Diketahui, Murtini keliling Indonesia terdorong oleh keinginan untuk melihat langsung kondisi masing-masing daerah. Khususnya bagi penyandang disabilitas.

Murtini awalnya adalah dosen dan memilih pensiun dini. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas hingga harus kehilangan penglihatannya. ”Kata dokter, retina mata saya rusak sehingga cacat seumur hidup,” cerita Murtini.

Kondisi tersebut membuat Murtini sempat tidak diakui oleh rektor sebuah perguruan tinggi sebagai dosen. Namun ini tidak menyurutkan semangatnya.

Akhirnya ia termotivasi untuk keliling Indonesia. Terutama saat masih sehat, dirinya melihat kurangnya perhatian kepada penyandang disabilitas. ”Ini membuat saya bersemangat dan memilih keliling Indonesia untuk merasakan dari dekat pelayanan kepada kaum disabilitas,”  tegasnya. (sag/ais)

 

 




  • Bagikan