Melihat Pembelajaran Jarak Jauh dari Bibir Pantai Lampung

  • Bagikan
Foto Rimadani Eka Mareta

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang harus diterapkan selama masa pandemi Covid-19 turut dijalani seluruh siswa SDN 14 Teluk Pandan, Pesawaran. Namun, tak sedikit persoalan dirasakan, baik guru hingga orang tua siswa dari sekolah yang berjarak 11 kilometer dari pusat kota, Bandarlampung itu.

Laporan Rimadani Eka Mareta, Bandarlampung

Pagi itu, jalur wisata menuju Pantai Mutun, Pesawaran belum seramai biasanya. Akses satu jalan sepanjang jalan R.E. Martadinata menuju pintu masuk Pantai Mutun masih tampak lengang. Sesekali kendaraan roda dua melintas, mereka membawa hasil pertanian seperti pisang dan beberapa buah-buahan lainnya menuju Pantai Mutun.

Sesampainya di pantai, satu per satu pedagang mulai menggelar dagang. Deburan ombak pantai sekaligus hembusan angin laut mulai terasa di sepanjang bibir pantai Mutun.

Tak begitu lama, hanya sekitar 10 menit dari bibir Pantai Mutun, sampailah di SDN 14 Teluk Pandan. Satu-satunya sekolah dasar di kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran.

Terlihat empat gedung berdiri menghadap laut, dua lainya membelakangi laut. Satu tiang bendera juga berdiri di tengah lahan yang hanya berukuran 1.000 meter persegi itu. Tak berbeda jauh dari penampakan sekolah lainnya.

Pagi itu, tak banyak aktivitas yang dilakukan sejumlah guru di SDN 14 Teluk Pandan, Pesawaran. Guru yang hadir, menanti para wali murid untuk kemudian memberikan laporan hasil belajar siswa selama satu semester belakangan.

Aktivitas pembagian lapor dilakukan di beberapa ruang kelas. Para wali siswa datang bersamaan dengan anak-anak mereka, namun tidak sedikit yang berhalangan hadir.

Beberapa guru tetap menanti kedatangan orang tua siswa. Salah satunya, guru kelas I, Murnilawati. Wanita yang mengenakan kerudung dan kacamata itu tetap setia menunggu wali murid yang terlambat hadir.

Sesekali dirinya membuka gawainya. Karena senggang, Radar Lampung mencoba menghampiri dan berbincang dengan Murni -sapaan akrab Murnilawati. Dalam bincang singkat, hanya sekitar 10 menit, Murni menceritakan pengalamannya harus mengajarkan anak-anak kelas I sekolah secara daring (dalam jaringan).

Beberapa tantangan dihadapi dirinya selama mengajar murid kelas I di saat pandemi Covid-19. Tak lama matanya pun terlihat berkaca-kaca.

Dirinya menceritakan kesulitan yang sempat ia alami selama mengajar. Tidak sedikit masalah kerap ia dapati. Salah satunya keterbatasan orang tua dalam memiliki telepon seluler.

Menurutnya, banyak siswa yang terpaksa menjalani tugas dalam pembelajaran harus menumpang dengan rekan lainnya yang memiliki telepon seluler.

“Mereka terpaksa bersama-sama rekan mereka yang ada telepon seluler. Jadi menumpang dulu, karena tidak semua punya. Beberapa anak bahkan harus saya datangi kerumahnya,” jelasnya.

Belum lagi dalam mengajar, meskipun siswa kelas I sudah mendapatkan pelajaran membaca pada saat Taman Kanak-kanak, tapi itu juga menjadi tantangan sendiri.

Wanita berusia 51 tahun itupun sampai meneteskan air mata. Saat mengingat betapa dirinya harus mengajar siswa SD yang bahkan belum pernah ia ketahui kondisi sebelumnya.

“Kalau saya sebagai guru, saya bisa merasa pembelajaran di tengah pandemi ini lebih enak. Tapi, saya justru merinding saat mengingat pembelajaran itu. Saya mengajar, tapi mereka tidak mengerti, bahkan kita tidak tahu kondisi anak itu,” jelasnya.

Meskipun dibantu orang tuanya, tidak sedikit juga ia temui orang tua yang belum mengerti perangkat internet dan belum mengetahui baca dan tulis. Karena itu, Murni berharap kedepannya bisa segera melakukan pembelajaran tatap muka.

Sesekali, 20 murid yang ia ajar itu dia minta mengirimkan video progres membaca. Ada yang masih terbata-bata membaca, ada pula yang masih belum tahu semua huruf.

Wacana pelaksanaan tatap muka yang ditargetkan pada Juli mendatang pun masih membuatnya tidak tenang. Pasalnya, dirinya belum mendapatkan vaksin Covid-19 hingga saat ini.

Seluruh guru, 9 guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tiga guru honorer belum mendapatkan vaksin.

Senada disampaikan Kepala SDN 14 Teluk Pandan, Pesawaran Agus Irianto. Menurutnya vaksinasi masih menunggu kabar dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesawaran.

Meski begitu, pihaknya tetap memastikan pelaksanaan pembelajaran tetap berjalan. Meskipun, hal-hal kecil kerap ia temui, bahkan pada saat ia hendak berangkat ke sekolah.

Ia akui, banyak ia temui muridnya berada di pantai. Betapa tidak, siswanya memang merupakan siswa daerah Pantai Mutun. Alhasil, Agus menegur anak-anak dan meminta tetap berada di rumah sampai selesai pembelajaran.

Selama pembelajaran jarak jauh ini, Agus mengaku merasakan langsung apa yang banyak dibicarakan secara daring mengenai siswa yang tidak mengenal gurunya. Hal itu akhirnya ia rasakan sendiri.

“Saya suka lihat di internet, ada yang bilang kalau selama pandemi ini ada murid yang tidak mengenal gurunya. Itu akhirnya saya rasakan langsung. Ada siswa kelas III, mereka kan sudah pernah sekolah tatap muka ya. Tapi suatu ketika, siswa itu harus ke sekolah. Namun, saat ditanya gurunya ia tidak mengetahui. Itu yang menurut saya nyata, tidak hanya di internet,” jelasnya.

Kegelisahan pembelajaran selama pandemi Covid-19 juga diungkapkan salah satu orang tua: Siti Aminah. Dirinya memiliki tiga anak yang masih bersekolah di SD. Anak pertamanya berada di Kelas VI, anak keduanya berada di kelas II dan anak ke tiganya berada di kelas I.

Karena hanya memiliki dua telepon seluler, saat pelaksanaan pembelajaran anak-anaknya terpaksa bergantian. Minah yang juga pedagang di Pantai Mutun itupun mengaku cukup kerepotan. Tak jarang, anak-anaknya ikut ia bawa saat mencari rezeki di Pantai Mutun.

“Iya jadi kalau saya dagang saya bawa mereka. Karena kalau di rumah nggak pada belajar. Jadi agak repot ya. Makanya saya berdoa semoga segera bisa belajar di sekolah,” tandasnya. (*/sur)




  • Bagikan