Melihat Produksi Roti Karya Koki Bang Napi di Balik Jeruji


Koki bang napi membuat roti di balik jeruji di Lapas Narkotika Kelas ll A Bandarlampung. Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id
Koki bang napi membuat roti di balik jeruji di Lapas Narkotika Kelas ll A Bandarlampung. Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

Berada di balik jeruji besi tak mesti membuat kreasi terhenti. Terbukti, warga binaan Lapas Narkotika Kelas ll A Bandarlampung tetap mampu memproduksi roti meski sedang berada di dalam jeruji besi. Bagaimana kisahnya?

Laporan M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id





Sejumlah pria terlihat berdiri di dekat meja yang dipenuhi adonan tepung terigu. Ada pula yang sembari duduk di lantai.

Mereka melengkapi diri dengan fasilitas seadanya, mulai dari gunting, loyang, hingga oven listrik. Mereka di sini tak lain merupakan para napi binaan Lapas Narkotika Kelas ll A Bandarlampung.

Ya, para napi itu terlihat piawai meracik adonan bahan bahan roti yang hendak diproduksi. Ada yang bertugas meracik bahan bahan, ada yang mulai mengadon, hingga membentuk roti serta ada yang bertugas melakukan pemanggangan roti.

Berbalut celemek juga topi bak koki profesional, sekitar lima napi tampak sibuk melakukan aktivitas di ruangan berukuran 5 x 6 meter.

Baca Juga:   Kemenkumham Lampung Sosialisasikan Layanan AHU Pendaftaran Perseroan Perorangan

Di ruang Bimker Lapas Narkotika kelas ll A Bandarlampung itu, Romadon (32) salah satu narapidana yang merupakan salah satu koki bang Napi yang membuat roti mengatakan, dalam sehari tangan terampil napi tersebut dapat menghabiskan 5-10 kilogram (kg) tepung terigu sebagai bahan utama pembuat donat.

Meski sedang menjalani kehidupan di dalam penjara, tak menyurutkan niatnya untuk terus produktif dan berkarya. Harapannya, kelak saat keluar dari Lapas dan menikmati udara bebas, dirinya dapat memiliki bekal untuk menyambung hidup.

Roma –begitu ia akrab disapa– menuturkan, setiap hari ia menghabiskan waktunya di dalam blok bimker napi bersama rekanya. Mereka memproduksi kue donat ala bang napi yang nantinya akan dijual oleh petugas lapas.

Baca Juga:   Kemenkumham Lampung Sosialisasikan Layanan AHU Pendaftaran Perseroan Perorangan

Dalam sehari koki bang napi itu dapat menghabiskan 2 kg tepung terigu, 4 butir telur, mentega, dan bahan pendukung lainnya, untuk membuat roti isi tersebut.

Adonan tepung yang sudah siap dicetak lantas dipotong kecil-kecil, sesuai ukuran. Selanjutnya dibentuk bulat dan lantas diisi dengan isi roti yang hendak dibuat, seperti keju, nanas, coklat, dan kelapa.

Mulai dari proses adonan hingga pengemasan dan penjualan dilakukan oleh para napi produktif tersebut.

“Saya sangat senang diberikan kesempatan berkarya, meski sedang menjalani masa hukuman di dalam penjara. Sehingga dapat mengasah kemampuan sebagai bekal nanti saat bebas,” kata Roma.

Sementara, Kalapas Narkotika Kelas ll A Bandarlampung Porman Siregar mengatakan, proses produksi roti oleh warga binaan sudah berlangsung lama, meski dirinya baru menjabat sebagai kalapas di tempat itu.

Baca Juga:   Kemenkumham Lampung Sosialisasikan Layanan AHU Pendaftaran Perseroan Perorangan

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan bagi para warga binaan Lapas, kelak ketika mereka sudah keluar dari sini (lapas) sudah ada bekal berwirausaha untuk masa depannya,” ucapnya.

Terkait pemasarannya, hingga saat ini selain dari media sosial, menurut Porman Siregar ketika kedatangan tamu dari Kementerian Kemenkumham atau instansi lainnya, rata-rata tamu membeli makanan karya dari para napi tersebut.

Menurutnya, hasil dari penjualan roti karya warga binaan keuntungannya dibagikan juga kepada para warga binaan yang ikut dalam produksi pembuatan roti. Ya, mereka berhak mendapatkan upah dari hasil kerja mereka.

“Dari keuntungan penjualan roti yang dibuat warga binaan mereka berhak mendapatkan upah tersebut, sehingga dapat mereka tabung untuk modal usaha nantinya setelah bebas dari masa hukumannya di dalam lapas,” tukasnya. (*/sur)