Membangun  Kontinuitas

  • Bagikan

Oleh: Junaidi, M.Pd., M.M.

INILAH jalan dari persimpangan kehangatan selama puluhan tahun  saya di media massa: berhenti,  lalu menjalani proses pemilu legislatif dari Dapil II Lampung Selatan untuk DPRD Provinsi Lampung.

Saking mendarahdagingnya jalan itu sebelum sampai ke persimpangan, saya merasakan ketika harus berhenti dan berbelok ke jalan lain, seperti akan melepas jiwa dari raga.

Ahhh, rasanya begitu berat.  Karena jiwa itu dibangun dengan susah payah, dan susah payah sekali. Dalam rentang waktu yang lama, dan lama sekali.

Tapi, waktu harus terus berputar.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un.

 ***

TAPI ini bukan pamit. Bukan pula mundur. Kalau ada yang mengartikan lain, silahkan saja! Karena dalam hidup yang terus maju tidak ada kata mundur. Lalu tidak ada kata pamit, karena menjalani jalan baru itu juga merupakan keberlanjutan menjalani dunia sebelumnya.

Dunia-dunia yang sepertinya berbeda itu (kadang) bersiklus, sehingga menjadi politisi misalnya, bisa pula  berkeberlanjutan ke media massa lagi. Kalau yang demikian terjadi, tentu ini yang disebut ‘orang media massa plus’  yang telah menikmati asam garamnya dunia politisi.

Bahkan secara nasional, kita punya banyak politisi terkenal yang bisa menaungi banyak wartawan. Mereka mengalami banyak profesi dan bahkan menjalankan banyak profesi itu  secara selaras, seimbang, dan tentu berkelanjutan.

Yang tak kalah pentingnya, kalau saya harus berpamit-pamitan, kok sepertinya akan sulit untuk terus bersilaturahmi. Dunia ini kan sudah selebar daun kelor? Kan banyak sekali teknologi yang bisa menghubungan kita dalam hitungan supersingkat,  baik teknologi transportasi maupun teknologi informasi seperti media sosial?

Setelah ini, kita juga masih bisa berkolaborasi atau bersinergi dalam banyak hal, dengan banyak keahlian yang berkelanjutan, di manapun kita berada, di posisi apapun, dan kapanpun waktunya.

Di samping itu kok rasanya naif, harus berpamitan. Bukankah dengan cara begitu, kita sudah gagal sebelum menjalani jalan baru itu, karena dalam perjalanan yang tentu tidak mudah,  pastilah  ke depannya dituntut kemahiran merekonstruksi puing-puing, dan  kepintaran membangun kontinuitas.

Sekali lagi, profesi di media massa, atau apalah namanya, pada hakekatnya nyaris tak ada bedanya,  jika dibandingan dengan profesi sebagai politisi.

Kalaupun ada perbedaan, itu  hanya soal cara melihatnya dari engle mana. Soal sisi keiklasan penyebutan. Soal sisi merasakan. Soal sisi cara menjalaninya.  Dan, apa kepentingannya.

Ketika seorang politisi misalnya menemui konstituennya, apakah mereka  tidak senantiasa  melakukan ‘wawancara’ layaknya wartawan?  Apakah mereka tidak membuat sandaran 5W 1H untuk mengontrol kelengkapan data-data tentang konstituennya? Apakah  mereka  tidak melihat value manfaat atas pertimbangan kepentingan atau kemenarikannya, fakta yang akan diperjuangkan perbaikannya?

Apakah mereka tidak sering memulai sesuai dengan  atas pertimbangan dampak, atas keunikan, atas eklusifitas, atas ketokohan, dan seterusnya, layaknya standar value news.

Lantas ketika data itu lengkap, apakah mereka tidak  sering terlihat layaknya seorang reporter tivi, presenter satu talk show atau sejenisnya ketika melakukan rapat dengar pendapat dengan para pihak berkepentingan?

Begitulah kita melihat dengan mata hati yang jernih, kerja politisi yang nyaris tidak ada bedanya dengan kerja jurnalistik.

Di samping itu, kita diajarkan berpikir positif, apapun profesinya, tak ada tujuan lain selain untuk keadilan dan kesejahteraan bersama. Jangan dibalik! Karena ketika dibalik, maka akan terjadi perendahan profesi lain, sehingga profesi yang direndahkan akan balik mengatakan hal yang serupa.

Kita sering mendengar nada sinis bahwa politisi itu busuk. Bahwa politik itu kejam. Kotor. Dan, seterusnya. Apa iya? Apa komunitas politisi mau dikatakan begitu? Apakah mereka tidak bisa berbalik mengatakan profesi lain lebih dari nada sinis demikian?

Boleh pula ditanya yang pernah jadi wartawan, lantas menjadi politisi, apakah mereka hilang jiwanya sebagai wartawan? Apakah mereka lantas menjauh dari komunitas wartawan setelah jadi politisi? Apakah mereka kemudian lupa  ketrampilan hingga teori-teori jurnalistik?

Rasanya tidak.

Pasti jiwa wartawannya akan kekal selama hidup. Malah faktanya, seorang politisi yang melanjutkan pengabdian dari dunia kewartawanan, lebih memiliki kehandalan dari banyak sisi.

Singkat cerita, tidak ada sesuatu yang tidak berlanjut. Pastilah, berkontiniutas.

Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Apapun keping-keping kisah perjalanannya, pastilah akan memperkuat langkah selanjutnya.

Hanya saja orang sering mengabaikan remeh-temeh jerih payah dan tidak pernah terakomodasi dalam kerangka  yang terstruktur, sistimatis, bahkan (mungkin) masif (hehee… meminjam istilah pemilu) untuk memperkuat bangunan menuju keberhasilan.

Jalan yang berliku, terkadang harus berbalik arah, semua berkontribusi  sekaligus berkontiniutas atas keberhasilan seseorang di manapun dan kapanpun ia mengabdi.

Jangan terpaku pada terminologi sempit!

Terus terang, saya tak mau didikotomikan, dipecah-belahkan, dicerai-beraikan,  dibuat perjuangan yang saya lalui dengan susah payah, dan susah payah sekali,  lama dan lama sekali,  JADI SIA-SIA.

Dari lubuk hati yang dalam, saya tetap ingin bersama dengan orang-orang terbaik yang menjadi staf saya,  orang-orang yang sejajar yang selama ini saling mengisi, dan dengan orang-orang yang menjadi bos saya untuk terus berkolaborasi dengan satu tujuan besar di manapun posisi dan proporsi masing-masing. Ini akan terus melengkapi kehangatan perjuangan dengan keluarga, sahabat-sahabat dan  mitra-mitra sejati.

Ketika saya harus berhenti di persimpangan dan berbelok ke jalan lain, itu lebih karena ingin memperluas, mempertinggi, memperdalam, dan memperbanyak  kemungkinan peluang pencapaian hasil perjuangan, dan bukan  malah sebaliknya sehingga mengacaubalaukannya.

Optimisme tetaplah harus ditancapkan, karena jodoh, rejeki, maut semuanya pasti, dan diatur oleh Allah Ta’ala. Semua orang pasti mengalaminya.

Ya Allah,  Ya Rab, berikanlah kekuatan kepada kami untuk terus melanjutkan semua ini dalam kebersamaan…! Jangan  sampai kami terpecah belah…!

Berikanlah keberkahan atas perjuangan puluhan tahun itu ya Rab untuk kami meneruskannya dengan jalan  yang lain…!

Amin, Amin Ya Rabul Alamin…




  • Bagikan