Membangun Tanpa Menggusur

  • Bagikan

Satu gedung yang empat lantai berisi 16 keluarga. Tiap lantai hanya untuk empat keluarga. Kalau gedung itu 8 lantai isinya 32 keluarga.

Tiap gedung berjarak dengan gedung lainnya. Jarak itu cukup untuk lalu-lintas mobil. Bahkan untuk arena bermain anak-anak. Tidak terlihat deretan rumah susun yang kesannya seperti rumah burung. Konsep pembangunan perumahannya sangat “sosialis”. Atau “agamis”. Yakni ‘membangun tanpa menggusur’.


Para pemilik rumah di kampung lama terjamin: akan tetap di lokasi itu. Kalau toh harus pindah hanya sementara. Hanya saat flat itu dibangun. Mereka disewakan rumah. Di flat baru yang belum berpenghuni. Dua tahun kemudian mereka pulang kampung. Dengan kampung yang sudah baru. Begitulah praktek di Turki. Membangun tanpa menggusur.

Baca Juga:   Bareskrim Polri dan Kementerian DLH Selidiki Limbah Hitam di Laut

Saya ke kota Antalya. Yang lebih besar. Juga tidak menemukan slum di Antalya. Mustafa yang kali ini menemani saya. “Saya punya teman yang almarhum bapaknya punya rumah besar. Pekarangannya 1.000m2. Kampung lama itu di rehabilitasi. Di situ dibangun flat-flat modern. Sekarang teman saya itu punya tujuh apartemen di sana,” ujar Mustafa.

Ia sendiri punya apartemen 4 kamar. Di pusat kota Antalya. Saya tidak habis pikir: seorang sopir punya apartemen 4 kamar. Di pusat kota. Bukan di kelas Condet atau Depoknya Jakarta. Saya ingin ke Turki lagi. Ingin mendalami lebih nukik bidang ini: membangun tanpa menggusur. (dahlan iskan)

 




  • Bagikan