Memikirkan Kembali Musik Tradisional Lampung, Ada Sebuah Kegelisahan..

  • Bagikan

“Jika ingin mengembangkan budaya Lampung, pelajari akarnya. Belajar budaya itu bisa dimulai dari kecil, bisa di lembaga-lembaga seperti taman budaya. Jadi tidak ada alasan bagi generasi sekarang tidak mengenal budaya Lampung.”

Demikian disampaikan I Gusti Nyoman Arsana dari Taman Budaya Lampung yang juga praktisi kesenian dalam diskusi Lampungnese Music in Motion di Kafe Sinia Coffe di Jl. Ratu Dipuncak, Bandarlampung, Sabtu (24/4) malam.

Tujuan dari diskusi ini adalah mengajak para generasi millenial Lampung untuk bisa mengapresiasi musik Lampung dengan cara yang berbeda. Yakni mengkombinasikan musik etnik dengan musik modern. Oleh karena itu, di sela-sela acara diskusi peserta disuguhi penampilan musik Jazz Akustik dengan rekomposisi lagu Lampung, komposisi lagu Lampung, dan tabuhan Lampung.

Baca Juga:   Bersama Tim Gabungan, Penyelundupan dan Pengiriman Burung Dilindungi Berhasil Digagalkan

Diskusi ini juga dihadiri Hari W Jayaningrat, Kasi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung. Menurut Hari, persoalan yang dihadapi para praktisi musik tradisional di Lampung, diantaranya tidak sebandingnya bayaran yang mereka dapat.

“Hal ini dikarenakan tidak adanya regulasi yang mengatur tentang ketetapan harga dalam sekali tampil. Sehingga mereka dihargai sangat murah dan semau-mau pengguna,” ujarnya.

Apa yang menjadi keresahan Hari W Jayaningrat juga dirasakan oleh I Gusti Nyoman Arsana. Menurutnya, bahwa banyak para pekerja seni yang meskipun tampil di hotel-hotel mewah di Lampung bayarannya sangat kecil. Dalam kondisi yang demikian para seniman dihadapkan pada pilihan dilematis.

“Daripada menganggur, meskipun tidak sebanding bayarannya terpaksa tetap harus tampil. Apalagi, mereka yang telah dikontrak oleh hotel misalnya, kalau sehari tidak tampil bayarannya dipotong seratus ribu,” ungkapnya.

Baca Juga:   Kabar Duka, Kepala Dishub Tanggamus Meninggal Dunia

Berbicara mengenai memikirkan masa depan musik Lampung, imbuh Nyoman, eksplorasi terhadap musik tradisi Lampung dengan gaya baru tidak akan merusak tatanan tradisi Lampung. Bahkan eksplorasi antara musik tradisional dengan musik modern telah dilakukan Nyoman pada pertengahan tahun 1980-an. Kenyataannya, dengan kegiatan-kegiatan seperti itu musik tradisi asli Lampung justru semakin populer.

“Hal ini dikarenakan tidak adanya regulasi yang mengatur tentang ketetapan harga dalam sekali tampil. Sehingga mereka dihargai sangat murah dan semau-mau pengguna.”

Meskipun demikian, revitalisasi membutuhkan pembagian tugas antara mereka yang memelihara pakem tradisi asli dengan yang mengembangkan dalam bahasa musik zamannya.

Sementara itu, Direktur Edelweiss Centre for Sustainable Development (ECSD), Unang Mulkhan selaku penyelenggara menyatakan, bahwa tujuan kegiatan ini sebagai jembatan bagi generasi muda yang berlatarbelakang musik populer dengan musik tradisi.

“Diharapkan dengan kegiatan diskusi seperti ini mereka mendapatkan akses untuk mengenal dan menggali musik tradisi Lampung. Dengan begitu musik tradisi Lampung tetap hidup dan bisa dinikmati generasi masa depan,” pungkasnya. ( rlo/gus)



  • Bagikan