Mengulik Penghasilan Manusia Silver, Ternyata Sebulan Bisa Beli Satria Fu

  • Bagikan
Yadi (16), sudah dua bulan ini menjalani profesi sebagai manusia silver di traffic light di Jalan Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara, Bandarlampung. Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id
Yadi (16), sudah dua bulan ini menjalani profesi sebagai manusia silver di traffic light di Jalan Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara, Bandarlampung. Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Terkadang ia tampak sedang mematung dengan berbagai gaya. Disambung dengan membungkukkan badan bak memberi hormat.

Ya, begitulah ‘ritual’ manusia silver sebelum menyodorkan kotak yang dibawanya kepada para pengendara yang berhenti di traffic light.


Akhir-akhir ini, manusia perak kerap kita jumpai di sekitar traffic light yang ada di Bandarlampung. Seperti ditemui Radarlampung.co.id di persimpangan Jl. Wolter Monginsidi-Cut Mutia dan Jl. Sultan Agung-Kimaja, Kamis (7/9).

Deska (18), manusia silver yang mangkal di seputar traffic light Jl. Sultan Agung-Kimaja mengaku telah tiga bulan ini menjadi manusia perak. Sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, pemuda asal Serang, Banten, itu memilih menjadi pengamen.

Ia mengaku baru saja lulus Sekolah Menengah Atas, dan berkeinginan mendapat pekerjaan yang layak. Namun, lantaran kondisi pandemi Covid-19, untuk memenuhi kebutuhan hidup, memaksa dirinya turun ke jalan mengais rezeki dengan menjadi pelaku seni manusia silver.

Dari pengakuannya, untuk menjalani rutinitasnya ini, ia bermodalkan bubuk brown seharga Rp200 ribu yang dibeli dengan cara sokongan bersama empat rekannya. Bubuk tersebut digunakannya sampai setengah bulan.

“Kami ada berlima, ada dari Lampung juga. Ngontrak di sini,” ucapnya.

Tak lupa, Deska juga melumuri celana jeans panjang dan topinya menjadi warna silver.

Dirinya mengaku harus kucing-kucingan dengan Satpol-PP saat turun di jalanan. “Tadi ada Satpol-PP, kita belum keluar dulu,” ujarnya.

Baca Juga:   Mobil Innova Berpenumpang Satu Keluarga Terjun Masuk Sungai, Dua Tewas

Deska mengaku takut jika sampai tertangkap Satpol-PP. Namun, dirinya pun mengaku jika dipaksa, akan mempertanyakan kenapa manusia silver ditangkap. Sementara pengemis atau pengamen tidak ditangkap.

“Dibilang takut ya takut, kalau kita secara paksa kita bisa jawab, nyilver seni, kenapa kita ditangkap, yang ngamen gini nggak ditangkap. Pengemis karoke kenapa nggak ditangkap. Alhamdulilah sampai sekarang belum ditangkap,” ungkapnya.

Disinggung terkait penghasilan, ternyata tidak lah sedikit. Bila beruntung, dalam sebulan mereka bisa mengantongi penghasilan hingga Rp6 juta. Dari penelusuran marketplace Facebook, nominal ini cukup untuk membeli motor sekelas Suzuki Satria Fu, meski second.

Ya, menurut pengakuan Deska, pendapatan manusia silver di Lampung cukup baik dibanding dengan di Serang. Dalam sehari, ia dapat mendapatkan pemasukan Rp150 sampai Rp200 ribu.

Meski demikian, pendapatan tersebut tidak lah didapat dengan mudah. Harus dengan pengorbanan.

Dirinya, kudu berdiri dan berganti traffic light tanpa memakai alas kaki dan baju di tengah terik matahari. Hal ini membuat telapak kakinya melepuh akibat panasnya aspal jalanan. Tak jarang, kulit tubuhnya pun mengalami iritasi.

“Kerjanya bisa 12 jam sehari kalau kuat. Misal keluar siang pulang pukul sembilan malam. Tapi, kadang dari dzuhur sampai sore saja,” sebutnya.

Baca Juga:   Duta Kopi Lampung Kampanyekan Kopi Tubruk ke Milenial

“Tidak jarang kalau kulit nggak cocok suka iritasi waktu mandi. Kalau panas ya panas, sama aja kayak kita nggak pakai baju berjemur. Untuk masang dan melepasnya cukup 30 menit,” lanjutnya.

Disinggung apakah terdapat pimpinan atau bos yang mengkoordinir aksinya, Deska membantahnya. Ia bersama rekannya beraksi tanpa ada koordinir dari pihak lain. Seperti yang viral belakangan ini melibatkan anak di bawah umur.

Dirinya menceritakan, sempat ada anak-anak yang sering mangkal di traffic light tersebut memintanya untuk menjadikan mereka manusia silver. Namun Deska menolaknya.

Ia beralasan akan sangat beresiko bila anak kecil menjadi manusia silver.

“Kalau ada apa-apa kita semua yang kena. Kan anak kecil, nanti tertabrak, kulitnya iritasi dan lainnya. Kita nggak mau itu. Makanya selalu kita tolak kalau mereka minta di-silver. Saya juga nggak ngerti kok di Jl. Urip Sumoharjo banyak manusia silver anak-anak,” terangnya.

Ada juga, Yadi (16), manusia silver mengaku sudah dua bulan menjalani sebagai manusia silver mengecat seluruh tubuhnya dengan cat bewarna silver, dengan aksinya di traffic light di jalan Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara, Bandarlampung.

Senada, dalam sehari ia pun mengaku bisa meraup uang Rp150 hingga Rp200 ribu. Ia mengaku terpaksa melakoni manusia silver demi memenuhi kebutuhan sehari hari dan biaya sekolahnya. (pip/sur)




  • Bagikan