Menikmati Bandarlampung 360 Derajat Dari Atas Menara Masjid Al-Furqon

  • Bagikan
Chairman Radar Lampung Group H. Ardiansyah didampingi Kasatpol PP Bandarlampung Suhardi Syamsi dan pengelola menara saat mencoba langsung wisata religi menara masjid Al Furqon yang baru diresmikan, Senin (21/7). Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana telah meresmikan Menara Al-Furqon, Jumat (21/6) lalu. Kini, menara setinggi 114 meter tersebut menjadi tempat wisata religi Kota Tapis Berseri. Seperti apa keseruan mencoba menaiki menara tersebut?

Laporan: Prima Imansyah Permana/BANDARLAMPUNG

SUASANA Masjid Al-Furqon Kota Bandarlampung masih sepi, saat wartawan media ini datang untuk mencoba naik ke atas menara yang disebut-sebut tertinggi se-Sumatera itu, pada Senin (21/6) sekitar pukul 15.00 WIB.

Meski telah diresmikan Jumat (21/6) lalu, namun menara yang berada di sisi kanan Masjid Al-Furqon tersebut belum bisa dinikmati masyarakat umum yang ingin mencoba naik ke lantai dua menara di ketinggian 100 meter.

Alhasil, Radarlampung.co.id harus menunggu oprator membuka pintu menara dan mengoprasikan lift.

Sembari menunggu, tampak beberapa masyarakat yang penasaran datang untuk melihat secara langsung menara tersebut. Namun, niatnya harus diurungkan karena pintu menara terkunci.

Akhirnya, sekitar pukul 17.00 WIB oprator lift pun datang. Menaiki 13 anak tangga di teras menara, rombongan yang terdiri dari Chairman Radar Lampung Group H. Ardiansyah didampingi Kasatpol PP Bandarlampung Suhardi Syamsi, dan pengelelola menara pun masuk kedalam lift. Tertulis di dinding bahwa lift yang digunakan mampu menampung maksimal sembilan orang.

Oprator pun menekan tombol tutup dan memencet angka dua. Diketahui hanya ada dua lantai yang tertera di dalam lift. Lantai satu berada di ketinggian 60 meter. Tercatat setidaknya memerlukan waktu sekitar 53 detik untuk naik atau turun, sehingga total setidaknya perlu waktu dua menit untuk naik dan turun menuju ketinggian 100 meter.

Selama, di dalam lift, dada terasa berdebar lebih kencang menunggu tiba di lantai dua. Setibanya di ketinggian 100 meter dan pintu lift terbuka, kita langsung disugukan pemandangan Kota Bandarlampung ke arah pesisir laut.

Dari ketinggian tersebut, kita dapat melihat 360 derajat Ibu Kota Provinsi Lampung tersebut. Gedung Grand Mercure yang tingginya sekitar 200 meter itu pun telihat sejajar saat berada di atas menara Al-Furqon ini.

Kita pun dapat melihat tempat-tempat yang tidak bisa di lihat saat beda di bawah, seperti perumahan Rusuna Hills yang tidak jauh dari menara. Bahkan pelabuhan-pelabuhan di area Panjang pun terlihat jelas dari menara.

Beri, warga Way Halim yang ditemui di Menara Al-Furqon mengaku sengaja datang ke menara ini untuk mencoba langsung melihat Kota Bandarlampung dari ketinggian. Namun, dirinya sempat merasa kecewa saat datang ke lokasi di karenakan menara tersebut masih tutup.

“Kemarin sempat lihat story Bunda Eva, menara tertinggi di Indonesia sudah diresmikan. Makanya hari ini bersama istri dan kakek coba main ke sini untuk mencoba langsung, ternyata masih tutup,” terangnya.

Tapi, setelah diajak naik ke atas menara, dirinya mengaku takjub melihat Kota Bandarlampung dari ketinggian. “Keren mas terlihat semua Kota Bandaralampung dari atas sini. Kita bisa melihat laut juga daerah perbukitannya,” tuturnya.

Senada, Bang Aca –sapaan akrab Chairman Radar Lampung Group saat melihat langsung wisata religi menara masjid Al Furqon di atas ketinggian 100 meter mengatakan, sengaja menyempatkan diri datang ke menara ini, karena ingin mencoba sensasi melihat Kota Bandarlampung dari ketinggian.

“Ketinggiannya 114 meter, tertinggi se-Sumatera bahkan di Indonesia. Menara ini dibangun agar bisa melihat kota dari ketinggian. Dari atas sini bisa melihat kota dari sisi bukit maupun laut,” ungkapnya.

Bang Aca menilai, menara ini bisa menjadi tempat wisata yang bagus. Dengan ditambah teropong, maka dapat melihat lebih jauh. “Tentu dengan ditambah teropong akan memberi kesan yang lebih menarik lagi,” terangnya.

Sementara, Suhardi Syamsi mengatakan, sesuai perintah wali kota, Satpol-PP diperintahkan untuk berkontribusi dalam hal pengamanan. Pihaknya membuat tiga regu yang berjumlah 15 orang. Satu regu berjumlah lima orang.

“Setiap regu, dua orang bertugas menjadi oprator lift, dan tiga lainnya melakukan pengamanan. Jadi satu regu satu kali piket, yaitu 1×24 jam,” ujarnya saat mendampingi Radarlampung.co.id, di menara Al-Furqon, Senin (21/6).

Dalam pengamanan ini, tentu tim akan dilakukan pelatihan terlebih dahulu. “Itu tidak lain untuk memberikan pelatihan sesuai SOP yang ada, juga untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya. (*/sur)




  • Bagikan