Menjadi Disabilitas Bukan Halangan untuk Menghasilkan Uang

  • Bagikan
Takdir Ilahi saat membuat hiasan dinding, Jumat siang. FOTO RIZKY PANCHANOV/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Memiliki keterbatasan menjadi seorang disabilitas tidak membuat Takdir Ilahi (52) berpangku tangan dan mengharap belas kasih. Justru, sepantasnya Arga Gang Serumpun I, Kelurahan Kebun Jeruk, Tanjungkarang Timur itu mampu meraup pundi-pundi uang.

Takdir yang memiliki kecacatan tangan sejak lahir ini sudah sejak tahun 1990-an memilih menjadi pengrajin yang berbahan dasar kayu, mulai dari kaligrafi, hingga miniatur kayu ia buat. Ditemui Jumat (19/2) siang, Takdir menjelaskan ia menderita disabilitas sejak lahir. “Karena itu, orang tua saya memberi nama Takdir Ilahi,” katanya.

Sesekali, Takdir menyeruput kopi dari segelas cangkir. Tangannya gapah memainkan cutter. Siang itu, ia sedang membuat hiasan dinding yang sudah dipesan. Takdir mengaku memiliki keahlian membuat kerajinan itu sejak ia masih duduk di bangku sekolah.

“Nggak belajar dari siapa-siapa. Otodidak saja, awalnya emang senang aja tangannya membuat-buat kerajinan,” paparnya.

Karena banyak yang tertarik, Takdir lalu membuka galery di rumahnya. Kini galery berukuran 4×2 meter itu juga kini juga menjadi tempatnya tinggal. Meski memiliki keterbatasan fisik, Takdir tidak memiliki karyawan. Ia sendiri yang nengerjakan semuanya. “Paling kalau berat, minta bantuan ngangkat sama orang lain,” ungkap Takdir.

Bahan kerajinan itu ia buat dari kayu jambu. Karena memiliki tekstur yang kuat dan gampang dibentuk. Sebagian kayu ia peroleh cuma-cuma dan ada juga yang ia beli. Butuh waktu setidaknya tiga hari hingga sepekan ia mengerjakan kerajinan itu. Kerajinannya pun bisa dipesan. Seperti kaligrafi dari pohon jambu, akuarium, bahkan casing handphone dari kayu pun ia buat. Bicara penjualan, karyanya dijual hanya dari mulut ke mulut.

“Jualnya di Lampung aja. Jual ke Jawa juga pernah. Bahkan pernah orang dari Malaysia pernah beli ke sini,” kata Takdir. Untuk harga, paling murah ia jual seharga Rp160 ribu hingga paling mahal Rp3 juta. Bagi Takdir, yang membuat ia terus berkarya adalah bukan semata-mata karena uang, tapi karena ada kepuasan di dalam hatinya.(nca/sur)




  • Bagikan