Menyedihkan, Potret Janda Tua Miskin Tinggal di Rumah Hampir Rubuh..

  • Bagikan

Seorang janda tua hanya bisa duduk di dalam kamarnya sambil menyedu secangkir teh tubruk, pada Kamis (15/3) sore. Sesekali, perempuan yang umurnya sudah mencapai 73 tahun itu menerawang ke atap dan dinding rumahnya yang sudah hampir tidak layak lagi untuk ditempati.

Laporan Anggri Sastriadi/radarlampung.co.id

ITULAH sedikit cerita dari kondisi kediaman Wiji, warga Jalan Purnawirawan, Gang Swadaya 1, Gunung Terang, Bandarlampung yang sungguh membuat miris. Sejatinya, lokasi rumah Mbah Wiji sapaan-akrabnya, tak jauh dari pusat kota.

Dia tinggal bersama kedua anak laki-lakinya yang bernama Dedi (40) dan Yopi (39). Sedangkan dua anak perempuan yaitu Dewi Arnani dan Tintin harus ikut suaminya masing-masing merantau ke Pulau Jawa.

Setiap hari Mbah Wiji harus menahan kesedihan akibat kondisi rumahnya. Menurut Mbah Wiji ia bersama empat anaknya telah mendiami rumahnya tersebut sejak lama.

“Sejak tahun 1973 saya sudah pindah kesini bersama anak-anak dan suami. Dan pada Tahun 1980 saya bercerai dengan suami. Jadi, selama 38 tahun saya menjanda. Tinggal kami berlima. Setelah anak saya pertama dan kedua yang perempuan ke Jakarta dan Bekasi merantau, saya hanya tinggal bertiga,” ujarnya kepada radarlampung.co.id.

Baca Juga:   Penampakan Ruang Asrama Haji Rajabasa yang Akan Jadi RS Darurat

Untuk makan sehari-hari saja, Mbah Wiji dengan kedua anak laki-lakinya harus menunggu belas kasihan dari tetangganya. Maklum, dirinya tak bisa bekerja lagi. Sedangkan Dedi, anaknya mengalami gangguan kejiwaan. Yopi sang bungsu, bekerja serabutan. Baik Dedi maupun Yopi, hingga kini juga masih belum berkeluarga.

“Sesekali meminjam uang ke sebuah tempat pinjaman yang dibayar satu bulan sekali. Kadang ada tetangga yang memberikan kami beras, minyak, dan gula. Kadang juga kalau kepepet kami pinjam uang,” terangnya.

Yopi salah satu anak laki-laki Mbah Wiji juga menjelaskan, selama ini keluarganya belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat untuk sekedar memperbaiki kediamannya yang sudah hampir rubuh tersebut.

“Selama ini belum ada yang bantu untuk masalah perbaiki rumah. Memang ada sekali RT setempat yang ingin coba membantu merenovasi kediaman kami, tetapi sampai saat ini belum terealisasikan,” jelasnya.

Sebelumnya memang, sudah sering dia melaporkan kondisi bangunannya tersebut tetapi juga belum ada respon.

“Ya ada laporan, tetapi kalau enggak ada sertifikat tanah rumah ini belum bisa direnovasi. Sebab, dulunya rumah ini suratnya segel. Jadi, harus bikin sertifikat tanah dulu. Istilahnya ikut prona,” lirihnya.

Baca Juga:   RS Darurat Asrama Haji Rajabasa Siap Digunakan Pekan Depan

Menurutnya, rumah mulai rusak parah hampir tujuh tahun lalu. Yang paling parah adalah bagian dapur. Tak ubahnya kandang yang sudah hampir rubuh. Bahkan, tiang rumah pun diganjal menggunakan pintu.

“Apalagi kalau hujan deras pasti di bagian dapur, kamar ibu, pasti banjir dan semuanya terkena air,” terangnya.

Selain itu, dapur pun terpaksa dialihkan ke dalam kamar Mbah Wiji. Sedangkan di luar, dipakai memasak dengan hanya menggunakan kayu bakar.

Belakangan, kondisi Mbah Wiji juga semakin sulit. Sebab, sudah tiga bulan belakangan ini Mbah Wiji sakit tak bisa buang air besar. “Jadi saya mandi dan buang air besar dan kecil di kamar. Yopi dan Dedi yang merawat,” ujar Mbah Wiji sedih.

Baik Mbah Wiji maupun Yopi berharap, kedepannya ada seorang dermawan dan pemerintah setempat segera membantu keluarganya untuk membangun dan merenovasi kediamannya tersebut.

“Saya harap ada orang yang bisa membantu keadaan kami ini,” pungkas Mbah Wiji. (gus)




  • Bagikan