Mereka Jadi Santri di Balik Jeruji

  • Bagikan
Sejumlah warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandarlampung mengikuti tadarus di Masjid Al Ikhlas, Jumat (31/5). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID
Sejumlah warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandarlampung mengikuti tadarus di Masjid Al Ikhlas, Jumat (31/5). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID

radarlampung.co.id – Lamat-lamat terdengar lantunan ayat suci dari gerbang utama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandarlampung, Jumat sore (31/5). Begitu didekati, asalnya dari Masjid Al Ikhlas di dalam lapas.

Terlihat sekelompok wanita mengaji. Mereka adalah warga binaan pemasyarakatan (WBP). Bergiliran, para wanita itu membaca al quran.

”Kami tadarus setiap pagi, siang dan setelah salat Tarawih,” kata Mona, salah seorang WBP. Ini rutin dilakukan selama Ramadan.

Wanita yang dihukum lima tahun enam bulan karena terlibat kasus penyalahagunaan narkotika ini mengungkapkan, tahun pertama menjalani hukuman, ia belum berubah. Namun setelah orang tuanya meninggal, ia baru menyesal dan mulai menata diri.

Baca Juga:   Vaksinasi Covid-19 Bagi Masyarakat Umum di Tanggamus Tunggu Kiriman Stok Vaksin

Meski berada di balik terali besi, wanita yang dulu berprofesi sebagai pemandu lagu ini mengaku bersyukur. Dua tahun dihukum, ia berusaha mandiri. ”Alhamdulillah, saya sudah sadar. Setidaknya di sini saya bener-bener memperbaiki diri. Sudah bisa membaca al quran dan memperbanyak ibadah,” tegasnya.

Di sela tadarus, WBP Lapas Perempuan Kelas IIA Bandarlampung ini membayar zakat fitrah. ”Ini tahun kedua saya membayar zakat di sini (Lapas, red),” sebut Dwi Nurhayati, WBP lainnya.

Sementara Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandarlampung Setyo Pratiwi mengatakan, ada 343 WBP di tempat itu. Dari jumlah tersebut 337 narapidana beragama Islam.

”Saat Ramadan, kita membuka blok santri. Salat berjamaah dan membaca al quran. Kita berupaya menjadikannya sebagai ladang pahala. Sekaligus bekal mereka saat keluar nanti. Misalnya jadi guru mengaji,” kata Setyo Pratiwi.

Baca Juga:   Pengusaha Asal Aceh Bantu Rp2 T untuk Penanganan Covid-19 di Sumsel

Ia berharap Ramadan ini memberi warna tersendiri bagi WBP. Terutama mereka yang mengikuti kegiatan blok santri. ”Walaupun di dalam jeruji, mereka berasa di pondok pesantren,” tegasnya. (gar/ais)




  • Bagikan