Middle Up Class

  • Bagikan
President IMA Chapter Bandar Lampung, Heri Andrian. Foto dok pribadi

Oleh Heri Andrian*

RADARLAMPUNG.CO.ID-Menjelang ramadan tahun ini saya menyempatkan diri menemani keluarga berbelanja ke Trade Mall Thamrin City pusat grosir & retail pakaian muslim dan batik terbesar se Indonesia.


Sambil duduk dalam mobil saya memperhatikan mobil yg lalu lalang sembari menulis catatan ini. Trade Mall yang dulu sepi terdampak pandemi kini mulai bergairah kembali walaupun belum sesibuk dulu yang ramai & sesak pengunjung dari seluruh penjuru negeri.

Kebetulan saya parkir tepat disebelah pos satpam sehingga sempat ngobrol kecil dengan petugas yang sedang berjaga dan mereka bilang sejak bulan Desember 2020 Thamrin City mulai rame kembali terutama saat weekend terbukti dengan sulitnya mendapatkan parkir VVIP.

Banyaknya mobil berkelas seperti Mercy, BMW, Alphard, Fortuner, Innova dipelataran parkir mengkonfirmasi bahwa middle up class sudah mulai berani keluar rumah dan belanja kebutuhan mereka. Ini pertanda baik bahwa ekonomi Jakarta sudah mulai pulih dan kita berharap ini juga sebagai tanda-tanda resesi di Indonesia akan segera berakhir.

Saya sempatkan berkeliling ke beberapa lantai agar bisa merasakan langsung situasi terkini yang dialami para pedagang di Thamrin City ini. Memang belum ramai dan sesak seperti dulu sebelum pandemi tapi lumayanlah demikian komentar beberapa pedagang.

Terlihat juga beberapa orang asing yg berbelanja walaupun jumlahnya masih sangat kecil. Hati kecil saya bergumam semoga kedepan yang berbelanja semakin banyak menjelang bulan Ramadan & Lebaran tahun ini agar para pedagang-pedagang ini kembali antusias melayani para pelanggan mereka. Janganseperti bulan Ramadan tahun lalu yang menyisakan kenangan buruk buat para pejuang keluarga ini.

Menjelang sore dalam perjalanan pulang ke Bintaro Jaksel kami melewati Grand Indonesia, Senayan City, Gandaria City, Pondok Indah Mall dan juga terlihat banyak mobil memasuki pusat belanja ternama tersebut walaupun tidak antri seperti dulu saat sebelum pandemi.

Teringat dulu bagaimana sulitnya mendapatkan parkir jika keluarga mengajak main ke Pondok Indah Mall saat weekend seperti ini. Sekali lagi dalam hati saya bergumam semoga ini pertanda baik mulai pulihnya ekonomi Indonesia, mall mall tersebut memang tempat middle up class Jakarta biasa berbelanja.

Ketika krisis 1998 UMKM menjadi pahlawan pemulihan ekonomi Indonesia saat itu, tapi saat pandemi ini alih-alih menjadi penyelamat justru UMKM lah yang paling menderita akibat covid 19 ini. Minimnya aktifitas ekonomi akibat PSBB telah membatasi ruang gerak UMKM, mereka terbelenggu tak berdaya.

UMKM yang dulu memiliki daya tahan dan elastisitas tinggi kini tidak lagi bertaji. Jika UMKM tidak bisa lagi menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi Indonesia, maka middle up class-lah yg menjadi tumpuan harapan sebagai motor penggerak utama pemulihan ekonomi Indonesia.

Laporan Bank Dunia tahun 2019 yg berjudul “Aspiring Indonesia- Expanding the Middle Class” yg diterbitkan 30 Januari 2020 menyebutkan bahwa di Indonesia ada sekitar 52 juta penduduk kelas menengah. Berarti satu dari lima penduduk Indonesia masuk kelas menengah dengan nilai konsumsi 1,2 jt – 6 jt per bulan.

Survey Bank Dunia juga menyebutkan uang Rp6 juta tersebut digunakan kelas menengah Indonesia untuk jalan jalan, membeli yg berkaitan dg hiburan dan membeli mobil.

Sekitar 40% kelas menengah Indonesia suka travelling dg frekuensi 1,4 perjalanan per tiga bulan. Sekitar 25% kelas menengah Indonesia punya mobil, lapisan 1 kepemilikan mobil 20%, lapisan 2 sekitar 60% dan lapisan 3 kelas atas dengan kepemilikan mobil mencapai 80%.

Tidak heran jika kebijakan pemerintah baru2 ini yang membebaskan dan memberikan diskon 50% PPnBM mobil yang kandungan lokalnya 70% direspon sangat positif oleh kelas menengah Indonesia terbukti dengan banyak order yang diterima oleh dealer-dealer mobil seperti yang diceritakan teman-teman saya sebagai Kepala Cabang Toyota, Honda, Daihatsu dan lain-lain.

Peranan kelas menengah ini sangat penting dalam pemulihan ekonomi Indonesia, jika kita asumsikan mereka menghabiskan rata rata 3 jt/orang per bulan berarti nilai konsumsi kelas menengah Indonesia mencapai Rp 156 Triliun per bulan…luaar biasa.

Bayangkan jika mereka berbelanja di tempat wisata, para pelaku UMKM, penjual batik, penjual kain songket dan tapis, cendera mata, oleh oleh, restoran, kuliner akan bergairah kembali. Hotel dan bisnis transportasi dan bisnis ikutannya bergerak lagi. Nilai belanja kelas menengah akan menggelinding seperti bola salju yang semakin membesar sehingga bisa membantu membangkitkan ekonomi Indonesia dan negeri yg kita cintai ini secepatnya lepas dari resesi.

Walaupun mudik Lebaran tahun ini sudah dilarang oleh pemerintah kita tetap berharap middle up kelas tetap membelanjakan tabungannya untuk travelling, beli mobil, kulineran, dan lain-lain. Selamat berbelanja kelas menengah Indonesia (*)

*Penulis adalah President Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Bandarlampung




  • Bagikan