Miris, Kekerasan dalam Pacaran Sentuh Angka 1.309 Kasus


ILUSTRASI/FOTO NET

RADARLAMPUNG.CO.ID – Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Indonesia dinilai berada dalam kondisi darurat. Kementrian Pemberdayaan Perempian dan Perlindungan Anak (PPA) mencatat, sejak 1 Januari hingga 16 Maret 2021 tercatat 426 kasus kekerasan seksual dari 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Catatan tahunan (Catahu) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) 2021 menggambarkan beragam spektrum kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sepanjang tahun 2020. Tampak, terdapat kasus-kasus tertinggi dalam pola baru yang cukup ekstrim, di antaranya meningkatnya angka dispensasi pernikahan (perkawinan anak) sebesar tiga kali lipat yang tidak terpengaruh oleh situasi pandemi, yaitu dari 23.126 kasus di tahun 2019, naik sebesar 64.211 kasus di tahun 2020.





Demikian pula angka kasus kekerasan berbasis gender siber (ruang online/daring) atau disingkat KBGS yang dilaporkan langsung ke Komnas Perempuan. Dari 241 kasus pada tahun 2019 naik menjadi 940 kasus di tahun 2020. Hal yang sama dari laporan Lembaga Layanan, pada tahun 2019 terdapat 126 kasus, di tahun 2020 naik menjadi 510 kasus. Meningkatnya angka kasus kekerasan berbasis gender di ruang online/daring (KBGO) sepatutnya menjadi perhatian serius semua pihak.

Angka kekerasan terhadap perempuan yang tertinggi berdasarkan Provinsi berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, kasus tertinggi tercatat di DKI, dengan 2461 kasus, disusul JawaBarat (1.011 kasus), lalu Jawa Timur (687 kasus). Kasus di DKI Jakarta mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu ada 2.222 kasus.

Komnas Perempuan melihat tingginya angka berkaitan dengan jumlah ketersediaan lembaga pengada layanan (FPL) di Provinsi tersebut serta kualitas dan kapasitas pendokumentasian Lembaga. Sangatmungkin rendahnya angka kekerasan terhadap perempuan di Provinsi tertentu disebabkan ketiadaan lembaga tempat korban melapor atau ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga yang tersedia, atau rasa tidak aman apabila melapor.

Data menunjukkan, ranah paling berisiko bagi perempuan mengalami kekerasan yaitu ranah personal, di antaranya dalam perkawinan atau dalam rumah tangga (KDRT). Pun dalam hubungan personal (hubungan pribadi/pacaran), yaitu sebesar 79% atau sebanyak 6.480 kasus. Pada tahun sebelumnya kasus KtP di ranah personal sekitar 75%. Dengan demikian terjadi peningkatan 4% pada tahun 2020.

Ranah personal setiap tahunnya secara konsisten menempati angka tertinggi KtP yang dilaporkan selama 10 tahun terakhir. Tidak sedikit di antaranya mengalami kekerasan seksual.