Mr Seven Eleven

  • Bagikan

Carlos Ghosn meneruskan sekolahnya di Paris. Di politeknik mesin. Politeknik Ecole yang sangat terkenal. Setamat politeknik Carlos Ghosn bekerja di pabrik ban terkemuka di Eropa: Michelin. Milik Perancis. Kerjanya sangat bagus. Pangkatnya naik terus. Umur 30 tahun ia sudah menjabat direktur operasional Michelin.

Carlos Ghosn tidak pernah pindah-pindah. Selama 18 tahun penuh ia bekerja di Michelin. Sampai menjadi pimpinan Michelin tertinggi di Amerika Latin. Yang kantornya di Rio de Janeiro. Di kota masa kanak-kanaknya.


Lalu pindah menjadi pimpinan Michelin di Amerika dan Kanada. Di dua benua itu Ghosn bikin lompatan besar. Termasuk membeli pabrik ban Amerika: Uniroyal Goodrich Company.

Akhirnya Ghosn ditarik ke kantor pusat di Paris: menjadi direktur operasi Michelin Holding. Saat umurnya baru 40 tahun. Saat itu perusahaan mobil terbesar Perancis lagi bermasalah: Renault. Kalah dengan mobil Jerman: BMW, VW dan Mercy. Kalah juga dengan mobil Itali: Fiat.

Baca Juga:   Panglima TNI Tinjau Vaksinasi Covid-19 di UIN Raden Intan Lampung

Renault dalam kesulitan besar. Nyaris bangkrut. Presiden Renault tertarik pada direktur Michelin yang masih muda itu. Direkrutlah Carlos Ghosn. Menjadi wakilnya. Dengan wewenang luas. Saat itulah Ghosn melakukan banyak hal: mengubah organisasi perusahaan. Menjadi lebih ramping. Menyederhanakan proses produksi. Menstandarkan onderdil. Biaya-biaya tidak perlu dihapus. Ia mendapat gelar ‘Mr Cut Cost’.

Intinya Carlos Ghosn berhasil menyelamatkan Renault. Sampai mampu membeli Nissan. Dan memimpin sendiri Nissan. Sampai berhasil. Bahkan bisa membeli Mitsubishi. Satu lagi: Ghosn meletakkan dasar masa depan Nissan. Yakni mobil listrik. Nissan menjadi pelopor mobil listrik di Jepang. Dengan Nissan Leafnya. Ia merencanakan itulah saatnya Nissan akan mengalahkan Toyota. Di masa depan. Melalui mobil listriknya. Yang ia beri anggaran Rp 70 triliun.




  • Bagikan