Mr Seven Eleven

  • Bagikan

Yakni pesta terelite di Paris. Yang pesertanya dipilih oleh sebuah komite. Tiap tahun hanya 20 orang. Yang saratnya ketat: harus cantik, harus putri orang terkaya yang populer, harus cerdas luar biasa, pandai dansa dan ayahnya harus mau menemani putrinya selama pesta. Seperti yang tahun lalu dialami Annabel. Putri pendiri dan pemilik Huawei.

Kayaknya Annabel kalah cantik dengan Caroline. Mungkin saya terpengaruh oleh kunjungan saya ke Lebanon bulan lalu. Caroline adalah orang Lebanon. Yang terkenal cantik-cantik itu. Dan ia lulusan salah satu perguruan tinggi terbaik dunia: Stanford University.


Sekarang Caroline menjadi CEO perusahaannya sendiri: Levo. Yang bergerak di bidang profesional networking. Yang membernya mencapai 30 juta. Di seluruh dunia.
Dia juga eksekutif di World Economic Forum. Bersama ayahnya.

Baca Juga:   Tekab 308 Polres Tanggamus Bergerak, Tangkap Dua Tersangka dan Sita 14 Motor

Kini sang ayah lagi menghadapi problem hukum. Yang ia sangat yakin bisa mengatasinya. Rasanya Ghosn memang terlalu berani mengubah sistem bonus. Yang di Jepang kurang seberani di Amerika. Penghargaan pada eksekutif terbaik di Jepang dianggap kurang memadai.

Jangan-jangan masalah bonus itu intinya. Salah memformulasilannya. Benar di mata Ghosn. Salah di mata penegak hukum. Atau masalah lain yang belum ada yang tahu. Mungkinkah Ghosn sedang di Lebanon untuk jabatan politik? Yang di Lebanon memang lagi buntu? Pun sampai hari ini?

Ataukah ia akan pindah ke Tiongkok? Mengapa tiba-tiba berhenti dari Nissan? Mengapa pula bos Nissan Tiongkok juga mendadak mengundurkan diri? Ghosn bertekad mengungkapkan semua di pengadilan nanti. Tapi ia sudah terlanjur terjun bebas. Dari ketinggian langit. Dari hero. Menjadi entah apalah namanya. (dis)




  • Bagikan