Oknum Dosen IAIN Metro Diduga Minta Imbalan Burung Murai

  • Bagikan
Puluhan mahasiswa jurusan Ahwal Al-Syakhshiyah dan Hukum Ekonomi Syariah berunjuk rasa di kampus I depan gedung rektorat IAIN Metro, Selasa (28/5). Foto Aprohan Saputra/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Kasus yang cukup unik terjadi di internal kampus IAIN Metro. Di mana, oknum dosen bernama Nawa Angkasa, SH., MH. diduga meminta imbalan kepada mahasiswa bimbingan matakuliahnya untuk memberikan burung Murai Batu sebagai tebusan nilai ujian akhir semester (UAS).

Kasus tersebut terungkap lantaran puluhan mahasiswa bimbingannya menggeruduk gedung rektorat kampus I IAIN Metro. Demo berlangsung selama seharian penuh, Selasa (28/5).

Puluhan pengunjuk rasa ini mengatas namakan “Aliansi Mahasiswa Fakultas Syariah” gabungan mahasiswa Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyah (AS) dan Hukum Ekonomi Syariah (Hesy) yang tidak terima dengan sikap oknum dosen.

Koordinator aksi, Abyt Agung Anggara mengungkapkan oknum dosen itu meminta mahasiswa jurusan AS dan Hesy fakutas syariah angakatan 2017 sebanyak 6 kelas membelikan Murai Batu.

“Yang diminta dia itu Burung Murai Batu per kelas, bila sudah dibelikan burung itu nilai-nilai akan dikeluarkan, kalau tidak nilai jelek atau ngulang semester depan,” kata Abyt kepada radarlampung.co.id di sela-sela unjuk rasa.

Menurut keterangan mahasiswa jurusan AS itu, dari ketiga kelas (A, B dan C) yang ada di jurusan AS dibuat dua grup yang dikoordinir ketua kelas masing-masing agar dapat mengahsilkan dua ekor Murai Batu.

Baca Juga:   Salman Subakat, CEO Paragon yang Juga Aktif di Dunia Pendidikan

“Jadi kami dibentuk jadi dua grup supaya anak-anak beli dua ekor Burung Murai. Kelas C itu dipecah, gabung dengan kelas A dan B, itu gunanya supaya dibelikan dua burung,” ungkapnya.

Namun, jurusan itu belum sempat membelikan burung buat oknum dosen tersebut. Lantaran dosen telah mencium akan ada gerakan dari mahasiswa yang tidak menyetujui kegiatan yang dinilai salah.

Hingga akhirnya, dirinya bersama kawan-kawan yang merasa hal itu sudah diluar batas, sehingga menghimpun gerakan bersama jurusan lainnya agar sang oknum dosen dapat dibebastugaskan atau dipecat.

Dalam aksi itu, mereka menyampaikan beberapa tuntutan yakni, meminta civitas akademi memberhentikan dosen yang melakukan praktek pungli atas kegiatan mengajar di Fakultas Syariah serta memecat statusnya sebagai PNS.

Mahasiswa juga mendesak civitas akademika untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) yang independen dan segera menindaklanjuti pelaku praktek pungutan liar di lingkungan kampus.

Baca Juga:   Itera Bahas Adaptasi Tataan Geologi Sumatera

Terpisah, oknum dosen Nawa Angkasa, SH., MH. saat dikonfimasi via telepon membantah tuduhan bahwa dirinya telah meminta imbalan. Namun, dirinya tak membantah bila pernah menerima dua sangkar burung dan telah dikembalikan lagi ke ketua kelas.

“Memang burungnya pernah saya terima, tapi kan sudah kita pulangkan. Kalau mereka membuat inisiatif untuk membelikan burung memang ada, tapi itu kita tolak,” ujarnya.

Dirinya juga membantah bila ada permainan nilai. Hingga saat ini, dia menegaskan bagi mahasiswa yang nilainya buruk, sudah diperintahkan untuk mengulang pada semester VI.

Nawa tak banyak berkomentar, suaranya terdengar berat dan mengulang-ulang dengan kata “apa?” hingga wartawan menanyakan, apakah bapak sakit, dirinya menjawab singkat bahwa tengah menjalani puasa dan agak lemas.

Mendengar itu, wartawan mencoba menawarkan untuk bertemu langsung ke ruang kerjanya, namun Nawa menolak, “Saya lagi di kantor, tapi jangan dulu sekarang. Nanti dulu aja, ya,” jawabnya. (apr/kyd)




  • Bagikan