Para Tokoh Asal Gunung Katun Tubaba Bertemu di Bandarlampung, Ada Apa ?

  • Bagikan
Para tokoh asal Gunung Katun Tubaba bertemu dan berembuk di Nuwono Tasya, Rajabasa Bandarlampung Minggu (21/3). Foto Yusuf AS/radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Sejumlah tokoh masyarakat Tiyuh Gunung Katun Tanjungan dan Gunung Katun Malai, Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) bertemu di Nuwo Tasya, Jl. Perwira, Rajabasa, Bandar Lampung Minggu (21/3).

Hadir dalam pertemuan itu para tokoh cendekiawan asal Tubaba. Antara lain Dr. H. Yuria Putra Tubarad (Waketum Kadin Lampung), Dr. Eng. Admi Syarif (akademisi Universitas Lampung), H. Kherlani, M.M. (mantan Wakil Walikota Bandarlampung) dan Dr. Sudarmi, S.ST, M.Kes. (akademisi Poltekkes Tanjungkarang). Tampak hadir pula Wakil Ketua II DPRD Tubaba Joko Kuncoro, Kepalo Tiyuh Gunungkatun Tanjungan Laili, Kepalo Tiyuh Gunungkatun Malai Firdon Rosit, Mantan birokrat Pemkot Bandarlampung Drs.Syahlani MM serta tokoh lain.


Hasil pertemuan disepakati Tiyuh Gunung Katun Tanjungan dan Tiyuh Gunung Katun Malai dinobatkan sebagai tiyuh wisata. Sebagai ikon tiyuh wisata dari kedua tiyuh tersebut, akan kembali dimusyawarahkan bersama sejumlah tokoh lainnya.

Selain itu, Tiyuh Gunung Katun Tanjungan dan Gunung Katun Malai akan dijadikan sebagai Tiyuh Cerdas dalam hal pelayanan kepemerintahan. Program ini digagas oleh Admi Syarif yang merupakan akademisi Universitas Lampung. Sehingga proses surat menyurat dapat diselesaikan dalam satu detik “One Second Solution”, begitu juga kecepatan akses informasi tentang wisata atau potensi tiyuh lainnya.

Baca Juga:   Bunda PAUD Tubaba Bantu Buku Bacaan untuk Siswa PAUD

Program ini menurut Admi dibuat sebagai sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat Lampung. Terutama untuk Tiyuh Gunung Katun Tanjungan dan Malai yang merupakan tanah kelahirannya.

Sedangkan Yuria Putra Tubarad mengapresiasi keinginan dua kepalo tiyuh yang langsung meminta saran dan masukan untuk memajukan Gunung Katun Malai dan Gunung Katun Tanjungan. Ia berharap agar kedua tiyuh ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

Sehingga, keberadaan pemerintah dirasakan langsung oleh masyarakat yang dibuktikan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

“Saya selalu siap kapan pun akan dibutuhkan saran dan pemikirannya, karena kita ingin kampung halaman kita menjadi contoh daerah lainnya, bukan hanya di Tubaba, tetapi jika perlu se-Lampung,”ungkapnya.

Sedangkan Kherlani menyoroti kecintaan kaum remaja terhadap adat istiadat dan bahasa Lampung. Dirinya berharap aparatur tiyuh dapat membina remaja dan anak-anak agar lebih mencintai budaya dan bahasa Lampung.

“Saya khawatir sekali jika dalam 5-10 tahun ke depan bahasa Lampung akan punah dari tiyuh kita, karena itu menjadi tugas kepalo tiyuh dan kita semua untuk membina mereka, sehingga adat dan budaya Lampung tidak segera punah,” katanya.

Sejumlah tokoh lainnya seperti Dr. Sudarmi, M. Kes dan Yulia Kusuma Wardani, MH, LLM siap memberikan saran dan masukan kepada masyarakat dua tiyuh tersebut. Terlebih, lanjut Sudarmi, di Poltekkes Tanjungkarang memiliki berbagai jurusan terkait kesehatan. Antara lain jurusan gizi, ahli kesehatan, farmasi, keperawatan gigi hingga teknik gizi.

Baca Juga:   Dinas Pertanian Tubaba Dampingi BNI Serahkan Kartu Petani Berjaya

“Silakan kirim surat langsung boleh, atau melalui saya juga boleh. Kami dari Poltekkes akan dengan senang hati turun ke lapangan sepanjang ada permintaan masyarakat,”terangnya.

Yulia Kusuma Wardani menambahkan, sebagai orang Gunung Katun, dirinya siap memberikan materi tentang berbagai hal yang boleh dan tidak dilakukan oleh masyarakat, sehingga kerukunan dan keakraban masyarakat terus terjaga. “Universitas Lampung mempunyai lembaga pengabdian, silakan kirim surat ke Dekan di Fakultas Hukum, kami akan turun bersama tim. Sebab itu juga merupakan tanggung jawab kami sebagai akademisi,”terangnya.

Diskusi yang dipandu tiga moderator, Ruslan Roni, Yohanes, dan Ferdi itu sampai pada kesimpulan bahwa tokoh masyarakat Gunung Katun Tanjungan dan Gunung Katun Malai di mana pun berada harus mau dan menyempatkan diri berfikir serta hadir dalam pertemuan-pertemuan berikutnya. Sehingga keinginan yang kuat untuk memajukan dua tiyuh tersebut dapat terealisasi sesuai dengan keinginan masyarakat dan tokoh-tokoh. (fei/wdi)




  • Bagikan