Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Menjadi  Coco Coir Twine

  • Bagikan
Tim PKM Polinela bersama dengan pengelola sabut kelapa

Radarlampung.co.id – Potensi Kelapa di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono cukup melimpah.

Potensi kelapa berat kelapa 1200–1400 gr, terdiri dari sabut kelapa (350–400 gr), batok kelapa (175-225 gr), Daging kelapa (400 – 450 gr) dan air kelapa 275 – 320 gr.

Masing-masing bagian kelapa, dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Namun, kurangnya keterbatasan sumber daya manusia, menjadikan potensi kelapa belum dimanfaatkan secara optimal.

Sabut kelapa, merupakan salah satu komponen buah kelapa yang bila diolah dan diurai dapat menjadi produk yang dibutuhkan bagi pasar domestik dan bahkan menjadi produk bernilai ekspor tinggi.

Kenyataan tersebut, mendorong sejumlah Dosen Pengembangan Produk Agroindustri yang digawangi oleh Ketua Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri Kurnia Rimadhanti Ningtyas, S.T.P., M.Sc untuk memberikan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Lampung (PKM Polinela) pada tanggal 19 Desember 2020. Pelatihan bimbingan teknologi, kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari untuk mengolah sabut kelapa.

Baca Juga:   Lulusan Teknokrat Mudah Diterima Dunia Kerja
Ini salah satu Produk coco coir twine

Ketua program studi Pengembangan Produk Agroindustri, Kurnia Rimadhanti Ningtyas, S.T.P., M.Sc menjelaskan, Tim PKM Polinela, berasal dari Prodi Pengembangan Produk Agroindustri memberikan bimbingan dan pelatihan pengolahan sabut kelapa, sehingga bagaimana membedakan bahan baku sabut kelapa yang baik sebagai bahan baku tali sabut kelapa (coco coir twine).

“Coco coir twine merupakan tali yang terbuat dari sabut kelapa yang saat ini banyak permintaannya dari luar Negeri khususnya untuk perkebunan hole dan anggur di Australia,” kata Perempuan biasa disapa Ibu Kurnia.

PS Pengembangan Produk Agroindustri, lanjut Ibu Kurnia, telah bekerjasama dengan PT Agri Lestari Nusantara yang merupakan perusahaan yang bergerak pengolahan sabut kelapa.

Dimana, hasil pengolahan sabut kelapa yang berupa serabut, diberikan ke KWT untuk dilakukan pengeringan menggunakan sinar matahari, selanjutnya sabut kelapa yang sudah kering diberikan ke perusahaan. Harga yang diterima petani untuk melakukan pengeringan sebesar Rp3 ribu.

Baca Juga:   Lulusan Teknokrat Mudah Diterima Dunia Kerja

“Kerjasama ini dapat memberikan pendapatan lain bagi anggota KWT Lestari. Anggota mendapatkan pelatihan membuat tali (coco coir twine), yang selanjutnya ditampung oleh PT Agri Lestari Nusantara,” ujarnya.

Pemanfaatan limbah sabut kelapa ini, dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomis dari sabut kelapa. Setelah limbah sabut kelapa diolah menjadi coco coir twine, bisa memiliki nilai ekonomis.

“Melalui Program PKM ini, kami berharap mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan wanita tani di desa Bandar Agung khususnya. Selain itu, juga bisa menjadi pusat pengolahan limbah sabut kelapa menjadi aneka produk lain yang dikenal secara luas,” Pungkasnya. (gie/rls/yud)





  • Bagikan