Pemilihan Ketum PBNU Putaran Pertama : Gus Yahya 327 Suara, Kiai Said 203 Suara


Suasana sidang pleno lll dan IV pemilihan Ketua Umum PBNU Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di GSG Unila, Jumat (24/12). Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Usai pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) jatuh pada KH. Miftachul Akhyar, Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) dilanjutkan dengan pemilihan Ketua Umum PBNU.

Dalam putaran pertama penentuan calon Ketua Umum, dipilih berdasarkan usulan Muktamirin. Masing-masing calon akan dihitung suaranya, dan calon yang memiliki minimal 99 suara dari Muktamirin akan berlanjut ke pemilihan Ketua dengan dikonsultasikan ke Rais Aam.





Berdasarkan usulan untuk KH. Yahya Cholil Staquf mendapatkan 327 suara, KH. Said Aqil Siradj memperoleh 203 suara. Kemudian KH As’ad Said Ali yang juga pernah menjabat sebagai Ketum PBNU 2010-2015 mendapat 17 suara. Dan ada 1 suara masing-masing tidak sah dan abstain serta 2 suara merujuk ke Marzuki Mustamar dan 1 suara Ramadhan Buayo. Total ada 552 suara yang ikut berpartisipasi dalam pemilihan pertama.

Baca Juga:   Datangi Posko Kesehatan, Warga Terdampak Rob Keluhkan Gatal-gatal

Keduanya juga menyampaikan ketersediaan maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU sesuai dengan aturan. Dari Gus Yahya -sapaan akrab Yahya Cholil Staquf- mengatakan siap maju menjadi Ketum PBNU. “Dengan ini saya menyatakan siap menjadi calon Ketua Umum PBNU,” ungkapnya.

Kemudian juga, KH Said Aqil Siradj yang menyebut siap untuk maju dan mengenai kalah menang adalah hal wajar dan harus saling terima.

“Dengan ini dan dengan berdasarkan menghargai suara Muktamirin saya bersedia maju sebagai ketua umum. Dalam pilihan pasti ada yang menang dan kalah, itu hal yang wajar. Namun apapun hasilnya kita terima dengan legowo dan kita terima dengan hati kita masing-masing. Yang penting lanjutkan proses pemilihan, dan saya Maju sebagai calon ketua umum,” ungkapnya. (rma/wdi)

Baca Juga:   Banjir Rob di Pulau Pasaran, Motor Mogok Hingga Anak Sekolah Digendong