Pemkot Bandarlampung Pindahkan Situs Navigasi Suar Kapal De Brow

  • Bagikan
Sejumlah pekerja saat mengevakuasi Situa Navigasi Suar bekas letusan Gunung Krakatau 1883 di area Musala Nurul Iman, kelurahan Gedung Pakuwon ,Telukbetung Selatan, Bandarlampung, Jumat (1/11). Evakuasi tersebut sebagai upaya pelestarian benda bersejarah. Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

radarlampung.co.id – Situs  Navigasi Suar Kapal De Brow di belakang Musala Nurul Iman. Tepatnya Jalan WR. Supratman, Gang Kemas Suara, RT 11, Lingkungan 3, Desa Kampungbaru, Gedongpakuon, Kecamatan Telukbetung Selatan (TbS) kini menghiasi halaman Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung.

Pemindahan berlangsung, Jumat (1/11) siang, menggunakan exavator diangkat ke mobil truk dari Dinas Pekerjaan Umum dengan dibantu para pamong dan warga setempat.

Camat Telukbetung Selatan (TbS)  Ichwan Adji Wibowo mengungkapkan, rencana pemindahan tersebut datang langsung dari Wali Kota Bandarlampung Herman HN dengan mengontak dirinya, Senin (28/10) malam.

“Ya waktu itu pak Wali telpon saya, agar melacak situs peninggalan peristiwa bencana 1883 yakni meletusnya gunung anak krakatau. Dia memerintakan saya untuk mencari titiknya dimana. Dan pada malam itu juga saya langsung menghubungi lurah-lurah, ternyata lurah disini tahu persih tempat dan keadaannya,” katanya saat meninjau pembongkaran situs.

Kemudian, lurah melaporkan situs tersebut kepadanya dan diteruskan ke Wali Kota, lalu Selasa (29/10), Wali Kota meninjau langsung ke lokasi.

Menurutnya, situs serupa yang ditemukan di Bandarlampung tersebut adalah yang ketiga, selain di Bumi Waras yang dipindahkan ke Museum Lampung dan di Taman Dwipangga depan Mapolda Lampung yang beberapa kali mengalami pemindahan.

“Dulu lokasi ini kebun kelapa. Namun, karena panyaknya bangunan menjadi terhimpit oleh pemukiman warga dan tidak terawat. Menurut cerita terdahulu dipastikan bahwa ini peninggalan sejarah bencana alam 1883,” jelasnya.

Disisi lain, Wali Kota Bandarlampung Herman HN mengatakan, pemindahan situs bersejarah tersebut ke halaman Pemkot untuk mengingat betipa dahsyatnya peristiwa pada masa itu.

“Supaya bisa dilihat banyak orang. Tempat aslinya itu akan dibuat prasastinya. Namun, sebelum dijadikan monumen di halaman pemkot, situnya diperbaiki dulu biar rapi ngelihatnya,” ujarnya.

Menurutnya, peristiwa dahsyat tersebut akan menjadi pengingat masyarakat Lampung agar selalu berhati-hati dan waspada terjadinya bencana gunung meletus.

Saat proses pemindahan Ketua RT 14 Lk 3 Kelurahan Pakauon Asep Permana (48) membantu mengeluarkan situs sempat merasa berat pada tubuhnya dan kemudian ditopang para pamong yang berada. (apr/kyd)


Baca Juga:   Konfrontir, Kasus Dugaan Pemukulan Perawat Ditentukan Gelar Perkara


  • Bagikan