Penggunaan Kapal Isolasi Apung Tunggu Kemenhub

  • Bagikan
Kepala Diskes Lampung Reihana. Foto Rimadani Eka Mareta/radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID–Rencana penggunaan kapal isolasi apung untuk isolasi mandiri di Lampung masih menunggu keputusan Kementerian Perhubungan.

Direktur Usaha PT Pelni, Sodikin mengatakan keputusan penggunaan Kapal Isolasi Apung masih menunggu keputusan Kemenhub. “Kami masih menunggu penugasan, jika dari kementerian sudah ada penugasan baru kami berangkatkan kapalnya. Sementara ini belum ada, jadi kami menunggu,” ungkap Sodikin.

Sodikin melanjutkan, untuk kapal sendiri memang bisa digunakan untuk isolasi mandiri. Apalagi dengan beberapa fasilitas yang memadai didalamnya.

“Fasilitas dalam kapal dulu kapal di ciptakan untuk alat transportasi dalam rangka mobilisasi diperuntukkan untuk melayani wilayah negara Indonesia kapal di buat saat itu jaman orde baru. Mulai dari fasilitas ada tempat tidur, fasilitas umum, tempat kesehatan nama nya poli klinik tempat, ibadah. Dan memang di ciptakan khusus untuk membawa penumpang, tapi ini di rubah untuk merawat pasien maka nya nanti oleh Pemda sini disiapkan seusai dengan alur main prokes dari kesehatan,” jelas Sodikin

Baca Juga:   90 Persen Pasien Covid-19 di Lampung Belum Vaksin

Ditambahkan Kadis Kesehatan Provinsi Lampung, Reihana. Dirinya mengatakan masih dalam pertimbangan terkait kebutuhan tempat tidur. Mengingat Bed Occupancy Rate (BOR) di Provinsi Lampung mulai menurun saat ini.

“Jadi tadi masih diskusi bersama Pelni dan Pemda, karena proses nya tidak semudah membalikkan telapak tangan menyiapkan ini. Soal dibutuhkan kita harus pripare kita tidak tahu ekskalasi kasus. Karena memang dalam beberapa hari ini ada penurunan tapi kita tidak tahu karena diminta perluasan tes dan tracing dalam arti kita menari terus mudah-mudahan memang tidak ada penambahan lagi,” jelas Reihana.

Dirinya mengaku BOR di Lampung memang sempat tinggi bahkan pernah mencapai 87%. Namun saat ini BOR turus turun bahkan mencapai 76%. Meskipun di RSUDAM memang selalu tinggi karena menjadi rumah sakit rujukan pertama di Lampung. “Karenanya masih dalam pertimbangan untuk kedepannya,” tandasnya. (rma/wdi)




  • Bagikan