Penjelasan PT HK Soal Pengendara Lalai Nabrak Aset Tol Wajib Ganti Rugi

  • Bagikan
PT HK : Pengendara Lalai Nabrak Aset Tol Wajib Ganti Rugi
Petugas kepolisian saat memeriksa kendaraan yang keluar dari gerbang Tol ITERA Kotabaru, Bandarlampung, Diketahui Hutama Karya selaku pengelola ruas jalan tol trans Sumatera (JTTS) menetapkan penerapan tarif baru tol Bakauheni-Terbanggibesar pada 29 Agustus 2021. Foto dibidik belum lama ini. Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Kecelakaan di ruas jalan tol trans Sumatera (JTTS) memang bukan hal yang baru. Terakhir pada 5 Januari lalu. Ada kendaraan yang menabrak aset tol, yaitu guardrail sebanyak 5 batang di Ruas Tol Bakauheni – Terbanggibesar (Bakter) KM 01+200 Jalur B sehingga perlu adanya penggantian kerugian oleh pengendara.

Hal ini diakui Branch Manager PT Hutama Karya (HK) Cabang Bakter, Hanung Hanindito harus dilakukan. Sebab menurutnya pengendara telah merusak aset tol. Di mana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15/2005 Pasal 86, mengenai hak dan kewajiban pengguna jalan tol, bahwa pengguna jalan wajib mengganti kerugian Badan Usaha yang diakibatkan kesalahannya sebesar nilai kerusakan pada bagian-bagian jalan tol, perlengkapan jalan tol, sarana penunjang pengoperasian jalan tol.

“Iya benar, aturan tersebut sesuai dengan PP Nomor 15/2005. PP ini sudah dijalankan di jalan tol seluruh Indonesia,” ungkap Hanung melalui pesan WhatsApp nya, Senin (11/1).

Hanung mengatakan, tak sembarangan dalam memutuskan pengendara yang menabrak dan merusak aset tol untuk mengganti. Pasalnya, HK menunggu berita acara kecelakaan yang dibuat kepolisian. “Kalau memang akibat pengendara lalai dan merusak aset tol (maka berlaku aturan tersebut),” tambahnya.

Baca Juga:   Jalan Akses Pintu Tol Kotabaru Diperbaiki

Namun, menurut Hanung, ada juga hal-hal yang menimbulkan kecelakaan tak harus diganti rugi oleh pengendara. Salah satu contoh ialah kendaraan yang mengaku dilempari dengan bantu saat melintas di ruas JTTS.

“Misalnya kendaraan menabrak hewan yang sedang menyebrang itu tidak (ganti rugi), atau yang di lempari batu kendaraannya. Jika ada mobil yang mengaku dilempar batu, kita lakukan penyelidikan bersama. Jika memang benar dilempar batu ketika di dalam tol, ya diganti. Itu sesuai PP 15/2005,” katanya.

Penilaian minimal kerusakan ternyata juga tidak ada. Jika pengendara dinilai kecelakaan diakibatkan karena kelalaian pengendara, dan merusak aset tol. Maka kemungkinan akan dimintai ganti rugi.

Baca Juga:   Jalan Akses Pintu Tol Kotabaru Diperbaiki

Hanung mengatakan hal ini karena pihaknya dituntut untuk memfungsikan seluruh aset tol secara 100% oleh Menteri PUPR. Menurutnya, uang yang diterimanya itu akan diberikan barang serupa dan langsung dipasangkan ke aset tol tersebut.

Pengendara pun masih dituntut membayar, meskipun Hanung mengaku itu tercover asuransi. “Iya (asuransi), tetap kami harus melakukan perbaikan terlebih dulu. (Jika asuransi saja) Tidak bisa, Karena asuransi pun tidak langsung mengganti,”  tambahnya.






  • Bagikan