Perekonomian Lampung Tumbuh Positif Seiiring Terkendalinya COVID-19


Bank Indonesia (BI)

RADARLAMPUNG.CO.ID – Kinerja perekonomian Lampung pada triwulan I 2022 tumbuh sebesar 2,96 persen (yoy). Berdasarkan catatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, pertumbuhan tersebut melambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang terhitung sebesar 5,15 persen (yoy).

Data BI Provinsi Lampung menyebutkan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan kinerja Konsumsi Rumah Tangga, yang tercermin pada meningkatnya kinerja lapangan usaha (LU) Perdagangan Besar dan Eceran serta LU Transportasi dan Pergudangan, di tengah rendahnya kinerja sektor eksternal serta terkontraksinya Konsumsi Pemerintah.





Realisasi pertumbuhan tersebut tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I 2021 yang terkontraksi sebesar 1,99 persen (yoy). Secara nominal, perekonomian Lampung pada triwulan I 2022 berdasarkan ADHB tercatat sebesar Rp94,79 triliun.

“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang oleh peningkatan kinerja Konsumsi Rumah Tangga dan Pembetukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ditengah berlanjutnya moderasi kinerja ekspor,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Budiyono.

Disamping itu, peningkatan kinerja Konumsi Rumah Tangga terpantau sejalan dengan semakin terkendalinya penyebaran COVID-19 di provinsi Lampung. Ini juga seiiring dengan berlanjutnya akselerasi vaksinasi pada triwulan I 2022 yang mendorong peningkatan mobilitas masyarakat sehingga berdampak terhadap peningkatan omset pelaku usaha (12,21 persen; yoy) serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tercatat sebesar 107,3, lebih tinggi dibandingkan IKK pada triwulan I 2021 yang sebesar 103,6.

Selanjutnya, Kinerja investasi (PMTB) tumbuh sebesar 2,77 persen (yoy). Meskipun pertumbuhan tersebut tercatat melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya (6,41 persen; yoy), Investasi tetap mengalami pertumbuhan positif dan menopang pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung pada triwulan I 2022.

Baca Juga:   Sosialisasikan Pemanfaatan Gas Bumi, Foodtruck Gas Bumi Meriahkan City Gas Tour Subholding Gas Pertamina

Pertumbuhan positif PMTB didorong oleh peningkatan realisasi belanja APBD untuk belanja modal gedung dan bangunan dan jaringan jalan dan irigasi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, kinerja positif PMTB juga didorong oleh berlanjutnya pembangunan Proyek Strategis Nasional di Provinsi Lampung, yaitu logistik kereta api Lahat – Muara Enim – Prabumulih Tarahan.

Kinerja ekspor pada triwulan IV 2021 tetap tumbuh positif (2,80 persen, yoy), meski melambat jika dibandingkan dengan (4,53 persen, yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan kinerja ekspor terutama disebabkan oleh terbatasnya produksi Crude Palm Oil (CPO) domestik di tengah adanya implementasi kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO) oleh Kementerian Perdagangan pada triwulan I 2022.

Selain itu, pertumbuhan ekspor batu bara juga terpantau mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2021 seiring dengan meredanya krisis energi di Tiongkok dan tingginya pasokan batu bara Tiongkok pada triwulan I 2022. Selanjutnya, Konsumsi Pemerintah juga tercatat mengalami kontraksi sebesar -3,30 persen (yoy), terutama disebabkan oleh terkontraksinya realisasi belanja APBN untuk komponen belanja pegawai, barang dan jasa, dan bantuan sosial serta terjadi penurunan realisasi belanja pegawai dan belanja bantuan sosial untuk
APBD.

Di sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan perekonomian provinsi Lampung triwulan I 2022 terutama didorong oleh kinerja positif bidang Perdagangan Besar dan Eceran (12,46 persen PDRB) serta Transportasi dan Pergudangan (5,20 persen PDRB) yang tumbuh masing-masing sebesar 15,11 persen (yoy) dan 17,03 persen (yoy).

Baca Juga:   Volume Transaksi Tumbuh 175,2 Persen, BRImo Terus Perkaya Fitur dan Inovasi Digital

“Pertumbuhan kedua LU tersebut terutama didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat seiring dengan terkendalinya penyebaran COVID-19 varian Omicron. Rata-rata mobilitas masyarakat pada triwulan I 2022 terpantau tumbuh 17,85 persen lebih tinggi terhadap baseline Januari 2020 seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat untuk kategori ritel dan rekreasi, toko bahan makanan dan apotek, serta taman,” tambahnya.

Di sisi lain, sambung dia, perbaikan kinerja perekonomian Provinsi Lampung dari sisi LU tertahan oleh kontraksinya kinerja LU Pertambangan dan Penggalian (6,09 persen PDRB) sebesar 4,86 persen (yoy), serta LU Pertanian dan LU Industri Pengolahan (28,19 persen PDRB) yang mengalami kontraksi sebesar 0,88 persen (yoy)

Lebih jauh dia mengatakan, dalam rangka menjaga momentum perbaikan sekaligus peningkatan kinerja ekonomi di tengah tekanan pandemi COVID-19 yang masih berlanjut, diperlukan upaya bersama dan koordinasi yang erat dari seluruh pihak. Pertama, melanjutkan sinergi kebijakan dengan Pemerintah Daerah dalam rangka akselerasi vaksinasi, booster, jumlah testing dan tracing, serta pembukaan sektor prioritas untuk menjaga stabilitas makroekonomi dengan tetap mendukung upaya pemulihan ekonomi daerah.

Kedua, mendorong sinergi pemulihan dan penguatan struktur industri manufaktur dalam menopang pertumbuhan ekonomi yang kuat, seimbang, dan berkelanjutan melalui delapan langkah strategis. Ketiga, mendorong berlanjutnya pemulihan konsumsi rumah tangga dengan meningkatkan daya beli masyarakat yang dapat dilakukan dengan memaksimalkan percepatan pemanfaatan dana desa, realisasi bantuan sosial/subsidi dan program perbaikan kesejahteraan terutama yang menyasar pada UMKM dan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah).

“Termasuk akselerasi digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong pemulihan ekonomi serta percepatan ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien melalui perluasan penggunaan QRIS dan intensifikasi program elektronifikasi,” katanya.

Baca Juga:   Pemeran Srimulat Sapa Penonton di Lampung

Keempat, mendorong pertumbuhan investasi dengan menjaga persepsi positif investor swasta. Hal tersebut dapat dilakukan melalui perbaikan iklim kemudahan berusaha termasuk aspek informasi, aspek regulasi, aspek komunikasi dan program, serta memperkuat sinergi antar Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan terkait investasi.

“Salah satunya melalui pembangunan kawasan industri dengan infrastruktur yang memadai sehingga dapat menarik minat investor; mempercepat penyempurnaan OSS RBA, terutama integrasi dengan dinas/lembaga dan kelengkapan fitur, serta regulasi pendukung di daerah agar implementasi OSS-RBA dapat dioptimalkan untuk mendukung capaian peningkatan target investasi kedepan,” sambung dia.

Kelima, identifikasi potensi sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi antara lain melalui optimalisasi Local Value Chain (LVC) sebagai strategi dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi di daerah, dan tidak terbatas pada sektor pertanian pangan, namun termasuk sektor lainnya yaitu pertambangan, perkebunan, dan industri. Penguatan LVC tersebut diantaranya dengan membentuk klaster-klaster ekonomi baru atau eksosistem dimana korporasi dapat berperan sebagai aggregator dan offtaker.

Keenam, perlu juga upaya untuk meningkatkan partisipasi IKM dalam Local Value Chain (LVC) dan Global value Chain (GVC) melalui sinergi kebijakan pengembangan IKM antar instansi. Ketujuh, pemantauan indikator terkini ekonomi daerah (Early Warning System) 2 yang akurat dan terkini untuk memantau denyut perekonomian daerah.

Kedelapan, sinergi kegiatan dalam rangka mendukung Program Gerakan Bangga Buatan Indonesia (GBBI).

“Termasuk dalam kaitannya menyukseskan 6 agenda prioritas jalur keuangan Presidensi Indonesia pada G20 tahun 2022 yang disusun melalui Calendar of Event,” tandasnya. (ega/yud)