Peringatan Hari Ibu, Fakta Sejarah dan Pergeseran Pemaknaan

  • Bagikan

Oleh: Eka Sofia Agustina*

Tabik Puun


Bulan Desember seperti memiliki hal identik terhadap satu momen bagi bangsa Indonesia. Seolah menjadi ciri yang telah tertanam manakala menyebut beberapa nama bulan sebagai momentum nasional yang harus diperingati. Ada Desember maka ada Hari Ibu di Indonesia.

Banyak bentuk yang dilakukan dengan semarak dalam memperingati Hari Ibu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pemberian ucapan selamat Hari Ibu diberikan kepada para perempuan yang telah menikah dan memiliki keturunan dengan memberikan setangkai bunga, hadiah, atau berbagai bentuk lain sebagai simbol rasa kasih dan sayang kepada ibu (dari anak kepada ibunya atau dari suami kepada istrinya).

Era kini, momen-momen tersebut diunggah pada berbagai jenis media sosial yang digunakan. Hal tersebut berdampak pada trending topic untuk semua jenis media sosial di Indonesia tepat pada tanggal 22 Desember. Pertanyaannya, adakah yang salah tentang hal itu? Tentu jawabnya tidak ada yang salah.

Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah kita mengetahui secara benar fakta sejarah mengapa bangsa Indonesia memperingati setiap tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu? Jawabnya tentu beragam, ada yang sudah mengetahui dan ada pula yang belum mengetahui.

Pentingnya penulisan ini ditujukan kepada para generasi muda dan anak-anak usia sekolah. Tujuannya adalah agar para generasi muda dan anak-anak usia sekolah dapat memiliki pengetahuan dan wawasan yang benar tentang peristiwa-peristiwa penting yang diperingati bangsa kita. Hal tersebut akan membawa pada kebermanfaatan perilaku untuk bisa terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai hidup dari para pendahulu kita.

Mengapa? Karena faktanya, sebagian besar dari mereka masih belum mengetahui latar belakang sejarah ditetapkannya Hari Ibu secara nasional dengan berasumsi bahwa ini adalah hari perayaan seluruh dunia.
Sebagai contoh, banyak dari kalangan muda menyebut Hari Ibu dengan menggantinya menjadi Mother’s Day (happy mother’s day, Mom).

Penyebutan Mother’s Day mungkin alih-alih peralihan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Nyatanya dalam konteks itu tidak sesederhana hanya sebuah peralihan Bahasa, melainkan ada kronologis sejarah yang menjadi rangkaian peristiwa mengapa disebut Hari Ibu di Indonesia dan mengapa disebut Mother’s Day di tempat lain.

Secara internasional tercatat pada rentang 2011-2012 terdapat 152 negara yang merayakan Hari Ibu berdasarkan historis, agama, mitos, tradisi, karakteristik, bahasa, budaya, kolonisasi, dan latar belakang sejarah yang berbeda-beda untuk setiap bangsa. Dengan fakta bahwa bangsa-bangsa merayakan hari ibu pada tanggal yang berbeda-beda juga pada setiap tahunnya (Abuzaid,2012).

Seperti, Mother’s Day merupakan ucapan Hari Ibu di wilayah Amerika Serikat yang dirayakan pada hari Minggu kedua pada bulan Mei dan menjadi libur nasional (tidak ada penetapan tanggal). Hal yang melatarbelakanginya adalah selama abad ke-19, kelompok perdamaian perempuan di Amerika Serikat mencoba untuk menetapkan liburan dan kegiatan rutin yang mendukung perdamaian dan melawan perang. Kegiatan awal yang umum adalah pertemuan kelompok ibu-ibu yang putranya telah berjuang atau mati dari Perang Saudara di Amerika.

Mother’s Day dicetuskan pertama kali oleh Julia Ward Howe dan Ann Reeves Jarvis yang juga mempromosikan persatuan global setelah kengerian Perang Sipil Amerika dan Franco-Prusia Eropa. Oleh Anna Jarvis, yang resmi pertama kali dirayakan di Gereja Methodist St. Andrew di Grafton, Virginia Barat, pada 10 Mei 1908, melengkapi perayaan serupa untuk menghormati anggota keluarga seperti Hari Ayah, Hari Saudara, dan Hari Kakek-Nenek.
Pada 1914, Presiden Amerika Woodrow Wilson kala itu, mendeklarasikan Minggu kedua di bulan Mei sebagai Mother’s Day, bahkan perayaan tersebut ditetapkan sebagai libur nasional.

Meski disambut meriah, nyatanya Ann Jervis selaku salah satu pencetus Mother’s Day justru tidak senang akan hal tersebut ( L. James Grold (April 1968). Dia pun lalu mendesak orang-orang untuk berhenti menjadikan moment Mother’s Day dengan perayaan manis seperti membeli bunga, permen, maupun kado lainnya kepada sang ibu karena maknanya berbeda (bukan pemaknaan berbagi bahagia, melainkan pemaknaan kesedihan bagi para ibu yang ditinggal wafat oleh anak-anaknya saat berperang).

Selanjutnya, peringatan Hari Ibu di Perancis ditetapkan pada hari Minggu keempat setiap bulan Mei (tidak ada ketetapan tanggal). Jika momen Hari Ibu bertepatan dengan perayaan Pentakosta, maka perayaan Hari Ibu akan diundur selama satu minggu setelah Pentakosta. Untuk merayakan Hari Ibu, warga Perancis biasanya membagikan bunga dan kartu ucapan, serta melakukan makan malam bersama keluarga.

Sedangkan Thailand memperingati Hari Ibu setiap 12 Agustus yang juga bertepatan dengan ditandainya hari ulang tahun Ratu Sirikit (adalah ibu Ratu Thailand, permaisuri ratu Raja Bhumibol Adulyadej (atau Rama IX) dan merupakan ibu dari Raja Vajiralongkorn (atau Rama X) yang sangat dihormati di Thailand. Dalam perayaannya dilakukan upacara dan parade serta menggunakan bunga melati sebagai hadiah.

Ada pula di Polandia yang warganya merayakan Hari Ibu setiap 26 Mei. Hari Ibu di Polandia atau disebut juga Dzien Matki sejak 1900-an telah populer ketika Perang Dunia II hingga saat ini. Biasanya anak-anak sekolah akan mengadakan acara seperti menggambar bunga dan menuliskan pesan di secarik kertas untuk merayakan Hari Ibu.

Surat tersebut biasanya diserahkan bersamaan dengan ayah yang telah membelikan kue atau bunga untuk ibu. Dalam bahasa Polandia, kertas ucapan tersebut dikenal dengan ‘Laurka’. Dan jika sang anak membuat Laurka untuk sang ibu, tentu ayah akan membelikan kue atau bunga yang nantinya akan diserahkan. Penyerahannya pun tidak sembarangan, mereka akan memberikan Laurka kepada sang ibu pada makan malam keluarga di hari yang spesial bagi seluruh di Polandia itu.

Lain lagi dengan di India yang memperingati Hari Ibu pada hari Minggu kedua pada bulan Mei (tidak ada penetapan tanggal). Untuk merayakannya, banyak toko dan restoran di India yang menawarkan promo dengan harga spesial. Restoran juga biasanya memberikan promo karena banyak orang yang mengajak ibu mereka makan bersama di restoran. Perayaan Hari Ibu di India ini terinspirasi dari yang diinisiasi oleh Anna Jarvis di AS dengan menyebutnya sebagai Mother’s Day.

Untuk di Malawi merayakan Hari Ibu setiap 15 Oktober dan dijadikan sebagai hari libur nasional. Negara ini memilih 15 Oktober sebagai perayaan Hari Ibu karena bersamaan dengan peringatan International Day of Rural Women (pentingnya perempuan pedesaan dalam meningkatkan pembangunan pertanian dan pedesaan di seluruh dunia. Wanita pedesaan dihormati di seluruh dunia pada Hari Internasional Wanita Pedesaan). Hari Ibu ini dimaknai sebagai bentuk penghargaan untuk perempuan dan ibu yang berjuang bagi keluarganya demi melawan kemiskinan karena Malawi masih terbelenggu dengan kemiskinan.

Berbeda lagi dengan di Qatar. Hari Ibu di Qatar dan negara-negara Arab lain diperingati pada 21 Maret, yaitu setiap bulan Maret dan Mei. Di kawasan itu, Hari Ibu di sebagian besar negara Arab terinspirasi dari kisah seorang ibu yang janda, yang mengabdikan hidupnya untuk membesarkan putranya sampai dia menjadi dokter. Putranya menikah tetapi tidak menunjukkan rasa terima kasih kepada ibunya yang difilmkan oleh jurnalis Mustafa Amin dan ide untuk menghormati jasa ibu diterima oleh Presiden Gamal Abdel Nasser. Perayaan resmi pertama Hari Ibu di Mesir berlangsung pada 21 Maret 1956. Praktik ini telah diikuti oleh negara-negara Arab lainnya.

Untuk di Inggris, Hari Ibu di Inggris dikenal dengan istilah Mothering Sunday, dirayakan setiap hari Minggu tiga pekan sebelum Paskah yang biasanya jatuh antara pertengahan Maret dan awal April. Mothering Sunday Mothering Sunday adalah hari yang memuji para ibu yang dirayakan di kepulauan Inggris dan di tempat lain di dunia berbahasa Inggris pada hari Minggu keempat di Prapaskah sejak Abad Pertengahan.

Constance Adelaide Smith menghidupkan kembali ketaatan modernnya dimulai pada tahun 1913 untuk menghormati Gereja Ibu, ‘ibu-ibu rumah duniawi’, Maria, ibu Yesus, dan Ibu Pertiwi (Smith, Constance Penswick,1926). Selanjutnya secara singkat dibeberapa negara lainnya, di Albania, seperti di sejumlah negara Balkan dan Eropa Timur, Hari Ibu dirayakan pada 8 Maret, bersamaan dengan Hari Perempuan Internasional.

Di Cina, Hari Ibu mulai dirayakan sejak tahun 1997 yang terinspirasi dari perayaan Hari Ibu di Amerika Serikat karena sejalan dengan dengan etika tradisional negara tersebut yaitu menghormati kesholehan orang tua dan berbakti terhadap orang tua. Simbol kasih sayang melalui pemberian bunga anyelir (dalam perjalanan sejarah berganti dengan bunga lili) menjadi sangat popular di Cina. Hari Ibu ditetapkan sebagai hari untuk membantu ibu-ibu miskin dan untuk mengingatkan orang-orang tentang ibu-ibu miskin di daerah pedesaan seperti wilayah barat Tiongkok.

Dalam beberapa tahun terakhir, anggota Partai Komunis Li Hanqiu mulai mengadvokasi adopsi resmi Hari Ibu untuk mengenang Meng Mu, ibu dari Mèng Zǐ dengan membentuk organisasi non-pemerintah yang disebut Chinese Mothers’ Festival Promotion Society. Dengan dukungan 100 cendekiawan konfusius dan dosen etika. Li dan Society ingin menggantikan hadiah anyelir bergaya Barat dengan bunga lili yang pada zaman kuno ditanam oleh ibu-ibu Cina ketika anak-anak meninggalkan rumah. Hari Ibu di Cina tetap menjadi festival tidak resmi, kecuali di sejumlah kota kecil.

Lalu bagaimana perjalanan sejarah Hari Ibu di Indonesia? Berdasarkan beberapa referensi yang penulis baca, bermula dari pelaksanaan Kongres Pemuda ke-2 yang menghasilkan “Sumpah Pemuda” yang diadakan terlebih dulu pada bulan Oktober 1928. Peristiwa itu telah menginspirasi tokoh-tokoh perempuan dari kelompok guru muda Jong Java yang membentuk cabang Poetri Indonesia di Yogyakarta untuk membentuk Panitia Kongres Perempuan yang diketuai oleh R.A. Soekonto dengan Nyi Hajar Dewantoro sebagai wakilnya dan Soejatien (Ketua Poetri Indonesia Cabang Yogya) sebagai sekretaris.

Ketiga tokoh perempuan ini sebenarnya tidak asing dengan dunia pergerakan karena memiliki hubungan dengan tokoh pergerakan nasionalis Indonesia. R.A. Soekonto adalah kakak dari Ali Sastroamidjojo, dari namanya Nyi Hajar Dewantoro sudah jelas isteri dari Ki Hajar Dewantoro, sedangkan Soejatien (saat Kongres masih lajang) adalah murid Soekarno & Ki Hajar Dewantoro.

Beberapa pidato yang dibacakan oleh tokoh-tokoh perempuan pada saat Kongres Pemuda 2: (1)”Pergerakan Kaoem Isteri, Perkawinan & Pertjeraian”, oleh Ny. R.A. Soedirman (Poeteri Boedi Sedjati); (2) “Deradjat Perempoean”, oleh Ny. Siti Moendjijah (Aisjijah Djokjakarta); (3) “Perkawinan Anak-Anak”, oleh Saudari Moegaroemah (Poeteri Indonesia); (4) “Kewadjiban & Tjita-Tjita Poeteri Indonesia”, oleh Saudari Sitti Soendari; (5) “Bagaimanakah Djalan Kaoem Perempoean Waktoe Ini & Bagaimanakah Kelak”, oleh Saudari Tien Sastrowirjo; (6) “Kewadjiban Perempoean di Dalam Roemah Tangga”, oleh Saudari R.A. Soekonto (Wanita Oetomo); (7) “Hal Keadaan Isteri di Europah”, oleh Ny. Ali Sastroamidjojo; (8) “Keadaban Isteri”, oleh Nyi Hajar Dewantoro.

Berdasarkan hasil rumusan dari kegiatan Kongres Pemuda 2 tersebut, para tokoh-tokoh perempuan menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia ke-1 di Yogyakarta, Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada tanggal 22 hingga 25 Desember 1928 tercatat 1.000 orang yang hadir dalam acara tersebut.

Pelaksanaan kongres tersebut bertujuan memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan. Salah satu catatan dari Ki Hajar Dewantara (“Wasita”, Desember 1928) dalam kongres tersebut bahwa persamaan antara laki-laki dan perempuan yang hak dan harus berlaku yaitu persamaan hak, persamaan derajat, dan persamaan harga, bukan persamaan sifat hidup dan penghidupannya.

Kongres ini diikuti 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Di antara yang hadir terdapat juga tokoh-tokoh organisasi-organisasi terkemuka di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang dipimpin dan didominasi kaum lelaki, seperti Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah dan Jong Islamieten Bond.

Para peninjau mencatat sejumlah tokoh penting yang hadir, antara lain Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Dr. Soekiman (PSI), A.D. Haani (Walfadjri). Kongres diadakan di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero. Sekarang ini gedung tersebut dipergunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (sekarang berganti nama menjadi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta) di Jalan Brigjen Katamso , Yogyakarta. Dalam kongres pertama ini didominasi etnis Jawa dan lagu penyambutan dalam bahasa Jawa yang diciptakan oleh Soekaptinah.

Namun demikian, selama kongres hanya 1 perwakilan organisasi yang berpidato menggunakan bahasa Jawa, sedangkan sisanya berbahasa Melayu (sebutan untuk bahasa Indonesia zaman Hindia Belanda). Bahasa Melayu sendiri sejak Mei 1928 sudah dijadikan materi dalam kursus yang diselenggarakan Poetri Indonesia Cabang Yogyakarta (semula adalah organisasi sayap perempuan dari Pemoeda Indonesia dan kemudian menjadi sayap perempuan PNI).

Di Indonesia, organisasi perempuan telah ada sejak 1912. Pendirian organisasi perempuan terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan perempuan Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu bagi bangsa kita? Hal tersebut berdasarkan pada pelaksanaan kegiatan Kongres Perempuan pertama tahun 1928 yang kemudian secara secara konsisten terus dilaksanakan sebagai bentuk perayaan terhadap emansipasi perempuan. Peringatan tanggal 22 Desember diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia tahun 1938. Pergerakan dan perjuangan kaum perempuan yang tergabung dalam organisasi perempuan terus bergelora sampai dengan pasca kemerdekaan Indonesia.

Selanjutnya terdapat peristiwa saat Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional emansipasi wanita dan hari lahir Kartini diperingati sebagai hari emansipasi perempuan nasional. Ternyata hal tersebut banyak mendapat protes dari rakyat Indonesia dengan berbagai alasan. Di antaranya Kartini hanya berjuang di Jepara dan Rembang.

Dengan banyak pertimbangan, Presiden Soekarno berpikir bagaimana cara memperingati pahlawan perempuan selain Kartini seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan lain-lain. Yang pada akhirnya, Presiden Soekarno memutuskan membuat Hari Ibu Nasional sebagai hari mengenang pahlawan perempuan (pahlawan kaum ibu-ibu) dan keputusan tersebut disetujui oleh seluruh rakyat Indonesia yang kemudian tanggal 22 Desember diresmikan Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia.

Penetapan tersebut untuk merayakan semangat perempuan Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, nyatanya “ruh” dari diperingatinya “Hari Ibu” secara nasional oleh bangsa Indonesia adalah semangat emansipasi untuk perempuan Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa 92 tahun usia perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak-haknya sampai saat ini. Tentu saja hak-hak diri untuk memaksimalkan potensi diri perempuan yang secara kodrati pada dirinyalah dititipkan “cikal kehidupan” melalui rahimnya untuk kehidupan generasi selanjutnya.

Tidak salah tentu manakala perempuan bersuara dengan lantang untuk meningkatkan potensi diri dalam pendidikan secara menyeluruh sebagai bekal mengedukasi anak keturunannya di ranah rumah tangga. Bukankah semua kebaikan tatanan kehidupan sosial masyarakat berawal dari tatanan yang baik dan benar di rumah tangga?

Dalam rangkaian sejarah ini, kata perempuan digunakan untuk meneguhkan makna perempuan itu sendiri. Secara etimologis, menurut bahasa Sansekerta, kata perempuan muncul dari kata per + empu + an. Per memiliki arti makhluk dan Empu berarti mulia, tuan, atau mahir. Dengan demikian, perempuan dimaknai sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan atau kemampuan. Perempuan atau dapat dikatakan sebagai seseorang yang memiliki penuh tubuhnya dan dia menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Namun demikian, kata perempuan saat ini telah mengalami pergeseran seiiring berjalannya waktu. Dalam perkembangannya, kata perempuan dan wanita mengalami perubahan, wanita mulai bersifat amelioratif atau membaik. Sementara itu, perempuan mengalami penurunan makna menjadi pejoratif atau memburuk.

Begitu pula, makna Hari Ibu tersebut telah ikut bergeser seperti halnya di beberapa negara. Hari Ibu di Indonesia oleh kita saat ini diperingati untuk menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu dengan memberi simbol-simbol kasih sayang. Apakah ada yang salah jika saat ini makna tersebut bergeser?

Jawabnya tentu tidak. Pemaknaan pada sebuah peristiwa bisa terus berkembang dan lumrah terjadi mengikuti perubahan waktu dan generasi. Pemaknaan itu bergeser dari sosok para tokoh pejuang perempuan pendahulu kita dengan dilekatkannya simbol itu kepada para ibu dalam arti yang sesungguhnya. Peristiwa tersebut sejatinya bergeser secara alami dengan meletakkan simbol kata Ibu pada sosok Ibu yang sesungguhnya di kehidupan yang sesungguhnya untuk saat ini.

Dengan dasar bahwa kehidupan manusia berawal dari rahim seorang ibu yang kemudian memperjuangkan dirinya untuk membesarkan, mendidik, dan menjadikan putra putrinya menjadi yang terhebat yang akan berdampak pada hebatnya bangsa ini.

Tetapi ternyata ada hal yang tidak boleh kita abaikan, yaitu esensi dan hakikat yang berangkat dari fakta sejarah mengapa Hari Ibu secara nasional diperingati pada 22 Desember. Pemahaman itu menjadi penting agar semangat perjuangan para tokoh perempuan pendahulu kita tetap menginspirasi gerak langkah perempuan Indonesia, generasi muda penerus bangsa untuk mencapai hal terhebat bangsa ini.

Seperti hal yang dipesankan Ki Hajar Dewantara dalam tulisannya tentang “Perempuan dan Pertumbuhan Adab” (“Wasita”Juli 1935) sebagai catatan beliau untuk pelaksanaan Kongres Perempuan. Selanjutnya bahwa kepada kaum perempuan dan kaum pergerakan umumnya, perlu sekali dalam kita memperbincangkan soal itu agar senantiasa ingat pada kodrat perempuan sebagai ibu turunan kita (pemangku turunan).

Dengan mengingat kedudukan dan sifat kodrati dari perempuan itu, niscayalah kita akan lebih mudah mengerti akan segala keadaan dari kaum perempuan, baik yang mengenai hidup kebatinanya maupun yang berhubungan dengan hidup lahirnya. Lalu akan mudah kita mencari dan menetapkan usaha memperbaiki hidup kaum perempuan guna kemajuan bangsa kita khususnya dan kemajuan masyarakat kemanusiaan pada umumnya.

”Maka jelaslah Ibu, di rahimmu dititipkan tempat bermulanya kehidupan. Padamu pula dititipkan bahasa sebagai awal kehidupan yang kami sebut dengan bahasa ibu. Di kakimu diberikan pula simbol surga itu agar kehidupan ini tertuntun dengan baik dan benar untuk membimbing kami semua sampai pada ’kesejatian surga Ibu’ bekal untuk kami ’pulang’ ke pangkuan Ibu Pertiwi ketika saatnya tiba. Selamat Hari Ibu untuk seluruh perempuan Indonesia! (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Pendidikan FKIP Universitas Lampung





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan