Petani Alpukat di Lampung Gagas ASPALA

  • Bagikan
Ketua Umum Aspala Hi. Akhmadi Dahlan (berkaus merah) bersama beberapa penggagas terebntuknya asisiasi tersebut, Sabtu (3/4) lalu di Rama Jaya Agro Farm Kecamatan Natar, Lamsel. sumber foto rilis ASPALA

RADARLAMPUNG.CO.ID- Upaya mencari terobosan dalam pemberdayaan petani dan inovasi pertanian alpukat, puluhan petani alpukat di Lampung menggagas lahirnya Asosiasi Petani Alpukat Lampung (Aspala) pada saat silaturahmi 13 Maret lalu di Lampung Timur. Kemudian dalam pertemuannya dengan beberapa stakeholder, Sabtu (3/4) lalu tanggal 3 April 2021 di Rama Jaya Agro Farm Kecamatan Natar, Lamsel, terpilih sebagai ketua umumnya, Hi. Akhmadi Dahlan.

“Lamtim, Lamteng, Lamsel, dan daerah pesisir di Lampung kan sudah lama dikenal secara alami sebagai sentra pertanian alpukat. Terkait ini, beberapa petani alpukat telah berkumpul dan sepakat menggagas satu tonggak penting pertanian dan perkebunan alpukat tanah di Sai Bumi Khua Jurai dengan pendirian asosiasi untuk mewadahi pemberdayaan petani alpukat” papar salah satu penggagas ASPALA, Suharman, M.Pd. melalui rilis yg dikirimkannya ke Radar Lampung.


Ide pendirian ASPALA, jelasnya, muncul spontan ketika para petani dan beberapa stekholder. “Seperti Bapak Edi Sutrisno, Pak Prasetyanto Aji, Mas Widodo, dan Mas Adi yang menggelar silaturahmi petani alpukat di rumah Ustad Dakir di Lamtim. Jadi kami ingin ada lompatan dalam pertanian alpukat dari hulu ke hilir. Termasuk dalam soal pemberdayaan petani. Harapannya tentu asosiasi ini bisa menjadi jembatannya,” beber Suharman.

Dengan berhimpun dalam asosiasi, tandasnya, petani alpukat juga bisa membangun edukasi pada publik tentang alpukat. Yaitu bahwa alpukat merupakan tambangnya buah. Tapi kenapa petani alpukat belum mampu menjadi berdaya secara ekonomi.

“Tentu karena banyak hal, di antaranya tata niaga, budi daya tanam, dan pascapanen komoditi alpukat yang hanya berjalan apa adanya, mengalir dari tahun ke tahun. Maka dengan kebersamaan dalam asosiasi ini, adalah hal konkrit menentukan langkah,” tegasnya.

Harapannya, imbuh Akhmadi, salah satu petani alpukat yang hadir dalam silaturahmi tersebut, mampu membangun jejaring nasional dengan petani di seluruh Indonesia. Terlebih petani dan para penggas ASPALA pun meyakini swasembada pangan nasional bisa dimulai dari komoditi Alpukat. Sehingga ke depan tidak perlu lagi ada impor alpukat. Tapi sebaliknya, Lampung khususnya bisa ekspor alpukat. Apalagi permintaan untuk itu sangat besar, terutama dari negara-negara Asia.

“Untuk itu, kami senang dan bangga ada momentum kebangkitan bagi petani alpukat dengan terbentuknya ASPALA. Dan, itu diawali dari Lamtim yang tentu dilanjutkan dengan bergandengan tangan bersama petani di daerah lain,” ungkap Akhmadi seraya mengaku antusias dengan terbentuknya ASPALA diamini petani alpukat lainnya, Dakir dan Sartam.

Sementara, Hi. Erlan yang didapuk sebagai penasihat ASPALA mengatakan, kesungguhan para petani alpukat yang ingin saling sinergi adalah langkah visioner. “Para petani alpukat selama ini adalah petani yang mandiri. Mereka relatif tidak banyak pembinaan, tapi terus bergerak menanam, merawat hingga akhirnya proses panen. Tapi sering terbentur kendala klasik, tengkulak dan tidak punya teknologi pascapanen yang siap menampung hasil produksi. Maka dengan berdirinya asosiasi ini akan bisa secara bersama dicarikan jalan keluar termasuk dengan melibatkan Pemerintah Daerah Lampung ”dan lembaga perguruan tinggi”, tandasnya. (rls/rim)




  • Bagikan