PLTP Ulubelu Pasok 20 Persen Listrik untuk Lampung

  • Bagikan
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Area Ulubelu, Tanggamus, Lampung, menyumbang 20 persen kebutuhan listrik Lampung. FOTO ALAM ISLAM/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID- Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Area Ulubelu, Tanggamus, Lampung, menyumbang 20 persen kebutuhan listrik Lampung. Yakni sebesar 1050 megawatt (MW). PLTP ini berkapasitas 220 MW terdiri dari 4 unit pembangkit 55 MW. Ini artinya, masyarakat Lampung sudah menikmati listrik dengan sumber energi terbarukan.

Diketahui, energi panas bumi di Ulubelu pertama kali ditemukan rentang tahun 1993 dan 1994 oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Melihat adanya potensi energi listrik berkapasitas 220 MW, PT PLN (Persero) bekerjasama dengan PGE mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Area Ulubelu.


Pada tahun 2011 PLTP Area Ulubelu dibawah kaki gunung Waypanas Tanggamus rampung dibangun. Setahun kemudian, PLTP dioperasikan untuk menyokong kebutuhan listrik yang ada di Lampung. Hingga saat ini, PT PLN Persero dan PGE sendiri memiliki 54 sumur. Yang terbagi menjadi sumur produksi sebanyak 23 sumur. Sumur injeksi sebanyak 14, dan sumur monitoring sebanyak 17.

Luas daerah PLTP Area Ulubelu mencapai 92.064 hektar. PT PLN Persero dan PGE mengelola 4 unit penghasil listrik dengan kapasitas 55 MW masing-masing unit. Dimana, untuk unit-unit itu awalnya dioperasikan nya berbeda-beda. Unit 1 dan 2 mulai dioperasikan pada tahun 2012. Sedangkan Unit 3 dan 4 mulai beroperasi pada tahun 2016 dan 2017.

Baca Juga:   Anak Kehilangan Orang Tua Selama Covid-19 Capai 1335 orang

Uap panas dari sumur bor disuplai lewat sistem transmisi uap. Kemudian uap masuk dalam media pengumpul uap yang dilengkapi pengamanan terakhir unit (rupture disc). Jika terjadi tekanan berlebih, uap akan dibuang melalui vent structure. Uap kemudian dialirkan ke separator yang berfungsi memisahkan uap dari benda asing dan partikel berat.

Setelah itu uap masuk ke demister yang berfungsi untuk memisahkan moisture yang terkandung dalam uap dan saat masuk turbin uap sudah dalam keadaan bersih. Saat masuk turbbin terjadi konversi energi kalor yang terkandung dalam uap menjadi energi kinetik yang diterima sudut turbin. Turbin berputar sehingga terjadi konversi dari Energi Kinetik menjadi Energi Mekanik.Generator berputar menghasilkan energi listrik.

Sedangkan, uap bekas dari turbin dikondensasikan di dalam condensor dengan sistem jet spray. Uap bekas yang telah melewati media pendingin kemudian dibuang ke atmosfir melalui cooling tower.

PT PLN (Persero) menarget, pada tahun 2024 sumbangan listrik yang dihasilkan tidak lagi dari bahan dasar fosil atau batubara. Melainkan dari energi baru terbarukan. Atau green energy. Dan secara nasional potensi energi dari panas bumi sekitar 24 persen.

“Salah satu transformasi PT PLN (Persero) yakni adalah green energy. Yang mewujudkan energi yang ramah lingkungan,” kata Manajer PT PLN UPT Tanjungkarang, Deden Nabudu, Rabu (24/2) di kompleks PLTP Ulubelu.

Baca Juga:   Pengamat : KPK Harus Kembangkan Kasus Azis Syamsuddin

Deden menambahkan, untuk PLTP Area Ulubelu saat ini penyumbang green energy yang paling besar. Sehingga PT PLN Persero mempunyai kapasitas energi baru terbarukan yang cukup.

“Untuk Lampung sudah menyumbang 40 persen energi baru terbarukan. Ya salah satunya PLTP Area Ulubelu ini menyumbang 20 persen. Sisanya ada dari PLTA Way Besai, PLTA Batu Tegi dan yang baru ini ada PLTA Way Semaka,” katanya.

Tak hanya selain empat instalasi itu, PT PLN Persero pun terbantukan juga dari PLTBm: pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan potensi energi biomassa. Seperti bambu, kayu, serat kelapa sawit dan bahan organik kering lainnya.

“Untuk kapasitas energi listrik yang dihasilkan dari PLTBm ini memang sangat kecil. Tetapi ini merupakan komitmen PLN dalam mewujudkan 24 persen energi baru terbarukan,” kata dia.

Walaupun Lampung hingga sampai saat ini masih mencapai 40 persen, penyumbang energi baru terbarukan. “PT PLN Persero pun menargetkan dan berkomitmen untuk terus mempertahankan green energy sampai dengan tahun 2024,” pungkasnya. (ang/wdi)




  • Bagikan