Polda Lampung Musnahkan 97,6 Kilogram Sabu Lintas Provinsi, Nilai Capai Rp147 Miliar

  • Bagikan
Dimusnahkan : Sebanyak 92 paket narkotika jenis sabu dengan berat 97,6 kilogram. Hasil tangkapan periode semester kedua di Bulan Juli 2021 dan November 2021, dimusnahkan oleh Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Lampung, Rabu (10/11). Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Sebanyak 92 paket narkotika jenis sabu dengan berat 97,6 kilogram. Hasil tangkapan periode semester kedua di Bulan Juli 2021 dan November 2021, dimusnahkan oleh Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Lampung.

Selain sabu, ada juga narkoba jenis ganja dengan berat 1,2 kilogram, tembakau sintetis 47,2 kilogram yang turut dimusnahkan. Data dari Ditresnarkoba Polda Lampung, bahwa pemusnahan barang bukti ini berdasarkan jumlah kasus mencapai 13 laporan polisi. Dan diamankan tersangka 15 orang.


“Jadi ada beberapa item jenis narkoba yang kita musnahkan pada hari ini. Dimana bertepatan dengan Hari Pahlawan. Kami pun tidak akan lelah terus melakukan penindakan dan pemberantasan narkotika,” kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, Rabu (10/11).

Menurut Pandra, dalam pengungkapan ini nilai rupiah dari keseluruhan barang bukti yang dimusnahkan ini mencapai Rp147 miliar. “Dengan berhasilnya Polda Lampung menyita dan memusnahkan barangbukti ini, kita berhasil menyelamatkan 980 orang jiwa yang terancam,” katanya.

Sementara itu, Wakil Direktur Reserse Narkoba (Wadirresnarkoba) Polda Lampung AKPB FX Winardi menjelaskan, dalam pengungkapan kali ini yang paling besar, pihaknya berhasil mengamankan tiga orang tersangka. Dimana ketiganya merupakan pemain narkotika jaringan antar lintas provinsi.

“Jadi ada tiga tersangka kita amankan. Yakni berinisial MN (30) dan MR (25) perannya mereka merupakan kurir. Sedangkan inisial S (35) ini pemberi perintah. Dan dia adalah warga binaan di Lapas Sidoarjo Jawa Timur,” katanya.

Baca Juga:   Ayah dan Anak Bejat, Adik Tiri Dihamili

“Saat ini S sudah kita pindahkan ke Lapas Narkotika Wayhui. Dipindahkan karena agar lebih mempermudah penyelidikan terkait kasus ini. Nah diatas S ini adalagi. Sedang kita lakukan pengejaran. Ketiganya merupakan warga Sidoarjo semua,” tambahnya.

Dirinya menambahkan, modus yang dilakukan para tersangka ini datang ke Medan dengan menggunakan pesawat. “Dengan ketika sampai barang (narkoba) itu dibawa melalui jalur darat,” kata dia.

Menurutnya, 92 paket yang dibawa oleh para tersangka ini tidak semuanya beratnya sama sebanyak 1 kilogram. Namun satu paket dihitung bisa ada lebih dan kurang beratnya.

“Jaringan ini sudah kita intai lama. Karena sudah 5 kali dia melakukan kegiatan ini. Dan kelima tertangkap oleh kita. Pengiriman pertama itu 9 kg. Pengiriman kedua 30 kg, ketiga 50 kg dan keempat 40 kg dan terakhir ini 97,6 kg. Ini seharunya ada 103 kg. Dan 5 kg sudah turun di medan,” jelasnya.

Dari penyelidikan, kedua kurir ini dijanjikan dibayar sebesar Rp5 sampai Rp10 juta untuk mengantar barang. Sedangkan apabila digabung dengan pemberi petunjuk sebesar Rp20 juta.

“Itupun dibagi dua. Jadi dari penyelidikan tambahan apabila sabu itu akan disebarkan di Jakarta juga Surabaya, dan tidak untuk disuplai di Lampung. Artinya mereka sudah punya pangsa pasarnya sendiri,” ujarnya.

Baca Juga:   Sepanjang 2021, Ada 2.197.258,9 Ton Timbulan Sampah di Lampung

Dan diduga pula sabu seberat 97,6 kilogram ini pun nantinya akan disiapkan dan disebarkan ketika menjelang Tahun Baru 2022.

“Tapi tidak menutup kemungkinan ada lagi pengiriman. Maka kita akan intens melakukan penyelidikan. Langkah kita sedang membuat big data terkait masalah jaringan yang ada di Lampung. Baik lokal dan maupun antar provinsi,” ungkapnya.

Lanjutnya, setiap kali menangkap jaringan besar ini pihaknya tidak akan melakukan identifikasi pelaku saja. Namun mereka yang terlibat pun akan di identifikasi.

“Itu akan kita analisa sehingga biasanya pelaku nakroba itu-itu saja. Bahkan sudah tertangkap atau bebas pun mereka masih bermain. Karena mereka sudah enak mendapatkan hasil perbuatan narkotika itu. Jadi kita melihat garis merahnya jadi kita bedakan jaringan lokal dan provinsi,” bebernya.

Ditanya apakah ada warga Lampung yang terlibat, dirinya pun menjelaskan sejauh ini indikasi kesana pun belum ada. “Tetapi kita kembangkan karena bersangkutam pada saat melakukan penyeberangan Lampung ini kan sebagai transit. Dan mereka melihat situasi di Bakauheni, kalau mereka nyatakan aman baru lewat,” katanya.

“Transit di Lampung ini mereka punya kontrakan dan posisinya ditengah kota hanya satu bulan pindah, satu bulan pindah lagi. Itu kita antisipasi agar situasi seperti ini tidak terjadi,” pungkasnya. (ang)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan