Ponpes Riyadhus Solihin Sehari 5 Kali Tadarus Quran

  • Bagikan
Sejumlah santri melakukan tadarus usai melaksanakan salat dzhuhur di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Tahfidzul Quran Riyadhus Solihin, Bandarlampung, Selasa (26/4). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Bulan Ramadan menjadi kesempatan umat Islam meningkatkan ibadah. Termasuk, Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Tahfidzul Qur’an Riyadhus Solihin juga tak ketinggalan.

Sejumlah program digencarkan. Contohnya tadarus Alquran, salat tarawih, dan menghafal Quran. Ahmad Mutaqin (16) menjelaskan program tadarus Quran dilakukan selama lima kali dalam sehari. “Setiap habis salat berjamaah kita tadarusan,” jelasnya di temui di musala ponpes.

Ahmad yang berasal dari Kecamatan Gedungmeneng, Tulangbawang ini mengaku dirinya sudah menghafal 10 juz Quran. Selain menghafal Quran selama di ponpes, dirinya juga belajs ilmu fiqih, bahasa Arab, dan menghafal Quran.

Sebelum mondok di ponpes yang berada di Jl. Dr. Harun II, Gg Agus Salim, Komplek Vila Mas, Kelurahan Kotabaru, Tanjungkarang Timur ini. Ahmad bersekolah di MTS Darul Mutaalimin di kampungnya. Ia kemudian ditawari untuk bergabung dengan Riyadhus Solihin karena statusnya sebagai dhuafa.

“Saya ditawari bibi saya. Kebetulan keponakannya juga di sini,” ujarnya. Setelah bergabung bersama Riyadhus Solihin. Kini Ahmad bersekolah di SMA 1 Utama, Bandarlampung. Semua biaya sekolah ditanggung pihak Riyadhus Solihin. “Saya bersyukur bisa di sini. Setidaknya setelah keluar saya sudah punya bekal pondasi agama,” ujar remaja yang juga mengimami salat zuhur, Senin (26/4) ini.

Ismail Zulkarnain, Pimpinan Ponpes Riyadhus Solihin menjelaskan tadarus dilakukan santrinya selama lima kali sehari. “Setiap habis salat mereka tadarus,” katanya.

Bahkan, untuk menstimulan santrinya khatam Quran, dirinya memberikan reward alias penghargaan. “Kita kasih Rp100 ribu setiap yang khatam Quran. Kalau dia bisa 10 kali khatam kan bisa Rp1 juta,” ujarnya di sela-sela mengurus ponpes.

Konsep Riyadhus Solihin kata Abah –sapaan akrabnya, para santri dimanjakan dengan segala fasilitas kelas wahid. “Semua di sini mereka gratis dari kebutuhan sehari-hari seperti sabun, pakaian, makan termasuk biaya sekolah kita yang tanggung,” katanya.

Riyadhus Solihin, kata Ismail, tidak menjual kemiskinan dan kesedihan anak yatim piatu. Namun, justru anak yatim piatu diberikan kesenangan. “Tapi yatim piatu menjual kehormatan bukan kemiskinan. Kami mencetak anak yatim menjadi memiliki harga diri dan kehormatan,” jelasnya. Ada banyak yang sukses ketika sudah menjadi alumni Riyadhus Solihin kata Ismail. Para santri ada yang menjadi abdi negara seperti anggota TNI, guru, perawat dan profesi lain.

Pihaknya juga mengkader para santri agar memiliki motivasi menjadi orang berguna. “Setiap bulan kita undang motivator. Kita ingin meningkatkan kepercayaan diri mereka. Kita tempa mereka, akhirnya bisa percaya diri, ceramah bahasa arab juga bisa,” sambungnya.

Riyadhus Solihin juga rutin mengirimkan santri-santrinya mengikuti lomba dan kompetisi hingga nasional. Terbaru, Ari Oksandi yang mewakili Indonesia dalam program internasional ke Turki, Singapura, Mesir, dan Korea Selatan dalam program Youth As Leadership (YAL). Ia menempati peringkat kedua dari 4.500 peserta. Bicara donatur, Ismail mengaku tak pusing, sebab donaturnya adalah Allah SWT. “Kami semua biaya dari Allah. Allah lah yang menggerakkan semua donatur,” tandasnya. (nca/sur)




  • Bagikan