Ratusan Gajah Terancam di Lamtim!

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Populasi gajah Sumatera khususnya di Provinsi Lampung semakin menurun akibat ancaman perburuan liar.

Hingga saat ini, data gajah liar di Way Kambas Lampung Timur berkurang jauh. Pada 2010, sensus gajah di Lamtim sebanyak 247 ekor gajah liar. Kini, berkurang 26 ekor tinggal 221 ekor.

Humas Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Sukatmoko kepada radarlampung.co.id mengatakan, data sensus gajah tahun 2010 bahwa gajah liar yang ada di Way Kambas berjumlah 247 ekor. Kurun waktu delapan tahun, sudah 26 ekor yang mati.

Dari 221 ekor, untuk populasi gajah yang jinak yang ada di Pusat Pelatihan Gajah TNWK Lampung Timur ada sebanyak 66 ekor.

“Ya paling tidak ada 26 ekor gajah yang  mati selama delapan tahun. Kita akan sensus ulang gajah. Paling lima sampai tujuh tahun kita ada sensus ulang. Memang kita agak terlambat untuk melakukan sensus ulang. Tetapi di tahun 2018 ini kita akan memulai sensus ulang,” ujarnya Minggu (25/3).

Diketahui, data gajah yang mati sebanyak 26 ekor dari Wildlife Conservation Societies (WCS). Terdiri dari pada 2011 sebanyak enam ekor gajah terdiri atas lima jantan dan satu betina ditemukan mati.

Baca Juga:   Langgar Prokes, Polisi Bubarkan Pesta Pernikahan

Pada 2012 satu ekor gajah betina. Disusul pada 2013 tiga ekor gajah (satu jantan dan satu betina).

Kemudian 2014 dua ekor gajah ditemukan mati (satu jantan dan satu betina). Pada 2015 enam ekor gajah mati terdiri atas lima betina dan satu jantan.

Pada 2016 tiga ekor gajah mati, satu jantan dan satu betina yang satunya bayi gajah yang mati karena sakit.

Pada 2017 empat ekor gajah mati. Terdiri, satu gajah betina dan tiga ekor tidak diketahui jenis kelaminnya karena tersisa tulangnya.

Pada2018, satu ekor gajah betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan mati di wilayah Resor III Kuala Penet TNWK pada Senin (12/2) pagi.

Ia menambahkan, semua gajah liar yang ada di Way Kambas adalah rawan perburuan. Hal itu juga menyebabkan, populasi gajah saat ini masuk dalam kategori hampir punah.

Bahkan katanya, tidak hanya gajah yang menjadi perburuan, hewan liar yang dilindungi seperti rusa dan babi hutan juga menjadi perburuan liar oleh orang tidak bertanggung jawab.

Baca Juga:   Ingin Follower Bertambah, Motif Oknum Guru Sebar Hoaks Video Kerusuhan Metro

“Ini terjadi bukan hanya di Way Kambas saja bahkan di seluruh Sumatera. Oleh karena itu, upaya kami (TNWK) selalu melakukan patroli rutin di dalam kawasan bersama Polhut. Selain itu juga di luar kawasan kami selalu melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang hewan liar yang dilindungi,” jelasnya.

Ia menjelaskan, beberapa hewan dilindungi yang ada di TNWK mati akibat terkena senjata organik milik pemburu. Selain menggunakan senjata organik, para pemburu juga terkadang melakukan pemburuan liar menggunakan senjata tradisonal seperti jerat.

“Seperti gajah bernama Erin mengalami cacat dibagian belalainya. Ia terkena jerat dua tahun yang laku sehingga membuat belalainya cacat,” ucapnya.

Ia menambahkan, masih adanya pemburu liar di Way Kambas lantaran masih adanya masyarakat yang belum bisa mendukung dengan adanya pelestarian satwa.

“Kalau seperti ini terus maka akan sulit. Oleh karena itu, kami berharap kerjasama antara semua pihak demi keselamatan satwa,” tuturnya. (adm/gus)




  • Bagikan