Ridho Merangkak dengan Kaki Terbakar akibat Burung..

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Ridho Ali Nurfadholi (9) warga Dusun Pulau Bambu, Desa Rawa Selapan, Kecamatan Candipuro, Kalianda, Lampung Selatan harus mendapat perawatan diruang Kemuning Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM) Lampung. Akibat mencari burung di sawah lalu terperosok ke dalam jerami terbakar.

Siswa yang duduk di bangku sekolah kelas III Sekolah Dasar, yang juga merupakan anak dari pasangan Ahmad Muklis (31) dan Nurhalimah (28) ini tidak dapat beranjak dari ranjangnya lantaran kedua kakinya terbakar sampai paha atas.

Nurhalimah, mengaku Ridho sangat trauma dengan apa yang menimpanya. Setiap kali orang mendekat Ridho selalu menjerit ketakutan.” Ya kayak gini, saya juga prihatin sebenarnya, dia trauma takut lihat kakinya sendiri, yah namanya juga musibah,” ujarnya kepada radarlampung.co.id, Jumat (16/2).

Nurhalimah pun menuturkan, luka bakar yang dialami anaknya bermula saat anaknya bermain dan mencari burung di area pabrik penggilingan padi yang tak jauh dari kediamannya, pada Senin (5/2).

Baca Juga:   Kebutuhan Oksigen di Lampung per Bulan Capai 570 Ton

“Kejadiannya siang hari, saat itu anak saya main dengan teman-temannya cari burung, tanpa sengaja, anak saya ini main-main keatas kemudian lompat di tumpukan sekam,” tuturnya.

Naas, ternyata sekam yang diinjak oleh Ridho adalah sekam dalam proses pembakaran, yang mana diluar nampak seperti sekam biasa, tapi didalamnya rata menjadi bara yang memerah.

“Ya namanya gak tahu ya masuk kedalam sekam, kejebros gitu, sampai seluruh kakinya masuk, ngeri kalau saya ingat,” sebutnya.

Masih kata dia, begitu masuk, ternyata Ridho mencoba bangkit dengan berusaha keluar dari jebakan sekam membara tersebut dengan cara merangkak.

“Begitu masuk kan dia ngrasa sakit, langsung korek-korek sekam sekitar biar bisa keluar dari sekam tersebut, ya allah, dia sendirian keluarnya untungnya selamat, sambil merangkak gak bisa jalan minta bantuan,” tuturnya.

Saat setelah kejadian, pihak keluarga langsung melarikan Ridho ke klinik terdekat namun tidak sanggup menanganinya sehingganya harus dirujuk ke Rumah Sakit Bintang Amin.

Baca Juga:   Tersisa 18 Bed di Fasyankes Pesawaran

“Ternyata sama saja, di Rumah Sakit Bintang Amin menolak juga karena keterbatasan alat dan sempat di Rumah Sakit Advent tapi enggak ada spesialis bedah plastik, hingga akhirnya dirujuk kesini hari selasa lalu, (6/2),” sebutnya.

Ia melanjutkan kondisi anaknya saat ini sungguh memperhatinkan hingga harus menjalani operasi dan hampir mau diamputasi.

“Operasi pertama di RSUDAM dan hampir mau diamputasi tapi kata dokter ada beberapa saraf kakinya masih aktif, terus diminta untuk dipertahankan, tapi selama dua minggu disini baru dua kali ganti perban, padahal basah sekali sudah perbannya,” ungkapnya.

Nurhalimah menambahkan, selama menjalankan perawatan dirinya harus menggadaikan sawah untuk biaya operasional anaknya yang sedang dirawat di RSUDAM.

“Yah ayahnya cuman sopir carteran, untuk biaya pengobatan ditanggung BPJS kelas 3, nanti dia akan menjalankan operasi kedua, operasi pertama sudah, sekarang kondisinya kurang sehat jadi operasi kedua ditunda,” tutupnya.(pip/ang)




  • Bagikan