Right Issue Disetujui, BRI Akan Kembangkan Bisnis di Sektor Ultra Mikro

  • Bagikan
Direktur Utama BRI Sunarso saat konferensi pers secara virtual. Foto Tangkapan Layar

RADARLAMPUNG.CO.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk akan mengembangkan bisnisnya ke segmen ultra mikro. Rencana ini terungkap usai  Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) secara daring di Jakarta, Kamis (22/07), dalam rangka mendapatkan persetujuan aksi korporasi right issue yang akan dilakukan BRI dengan mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) terkait rencana pembentukan Holding Ultra Mikro.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, perseroan terus melakukan eksplorasi sumber-sumber pertumbuhan baru yang selaras dengan aspirasi Perseroan untuk menjadi Champion of Financial Inclusion. Segmen ultra mikro sendiri telah diidentifikasi sebagai sumber pertumbuhan baru melalui pembentukan ekosistem Ultra Mikro. Di mana, ekosistem ini akan menyediakan layanan keuangan yang terintegrasi bagi para pengusaha segmen ultra mikro sehingga memungkinkan mekanisme naik kelas ke nasabah mikro lebih tertata dengan baik.

Baca Juga:   MBK Tunggu Regulasi Stimulus PPN

Oleh karenanya, Pemerintah bermaksud membentuk Holding Ultra Mikro yang terdiri dari BRI, Pegadaian dan PNM. Dalam hal ini BRI akan ditunjuk sebagai induk Holding.

“Berdasarkan data Kemenkop & UKM RI, Asian Development Bank dan hasil analisis BRI, pada tahun 2018, terdapat sekitar 45 juta usaha Ultra Mikro yang membutuhkan pendanaan tambahan. Sejauh ini, hanya sekitar 15 juta usaha Ultra Mikro yang tersentuh pendanaan dari lembaga keuangan formal,” ungkapnya, Kamis (22/7).

Menurutnya, dengan menjangkau potensi Ultra Mikro, aksesibilitas layanan keuangan di segmen tersebut dapat dioptimalkan. Hal ini tentunya alan mendorong financial inclusion sesuai aspirasi perseroan sekaligus mendukung visi pemerintah dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020–2024 yaitu untuk mendorong inklusi keuangan.

“Aspirasi perseroan juga sejalan dengan rencana pemerintah meningkatkan peran BUMN sebagai agen pencipta nilai, dan agen pembangunan untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional khususnya UMKM,” imbuhnya.

Baca Juga:   Bukan Aksi Korporasi Biasa, Holding Ultra Mikro Punya Tujuan Mulia

Dijelaskan Sunarso, dalam PMHMETD ini, Pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya dalam Pegadaian dan PNM kepada BRI atau Inbreng. Setelah transaksi, BRI akan memililiki 99,99 persen saham Pegadaian dan PNM. Namun, pemerintah akan tetap memiliki satu lembar saham Seri A Dwiwarna pada Pegadaian dan PNM.

“Perseroan merencanakan penerbitan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp50. Adapun jumlah lembar saham dan harga pelaksanaan akan disampaikan kemudian,” katanya.

Kemudian, lanjutnya, aksi korporasi ini nantinya akan berdampak kepada laporan keuangan konsolidasian BRI pada 31 Maret 2021. Di antaranya, total aset BRI meningkat dari Rp1.411 triliun menjadi Rp1.515 triliun, total liabilitas BRI meningkat dari Rp1.216 triliun menjadi Rp1.289 triliun; dan laba bersih BRI meningkat dari Rp7 triliun menjadi Rp8 triliun. (rur/rls/sur)




  • Bagikan