Rilis Buku, Rektor Unila Beber Perspektif Lengsernya Gus Dur

  • Bagikan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Karomani memberikan pandangan lain terkait jatuhnya Gus Dur dari kursi presiden. Pandangan ini diungkapkannya melalui karyanya yang berjudul Pelengseran Gus Dur dan Keberpihakan Media Massa.

Dalam bedah buku yang diselenggarakannya Rabu (30/12), di lantai 2 Rektorat Unila, Prof. Karomani menjelaskan, buku tersebut merupakan bagian dari tesis program doktoralnya di Universitas Padjadjaran.

Ia menuturkan, buku tersebut menggunakan pendekatan analisis kritis dengan metode pendik. Di mana, Karomani menganalisa dari aspek teksnya bukan konteks. Karomani menganalisis yang fokus pada teks berita di sejumlah media massa, yakni Republika dan Kompas.

“Metode ini digunakan karena setiap teks yang ditulis pasti dapat dipengaruhi oleh penulis dan konteks kondisi sosial yang terjadi,” ujarnya, Rabu (30/12).

Karomani juga berharap, para generasi muda ataupun masyarakat lainnya, jangan sampai menganggap Gus Dur lengser karena kesalahan hukum, tetapi Gus Dur kalah secara politik.

Sementara, salah satu pembedah buku yang juga merupakan anak dari Gus Dur, Yenny Wahid, menyampaikan, media massa memiliki peran, termasuk peran penting dalam peristiwa pelengseran Gus Dur tersebut. Menurutnya, media bisa membentuk pola pikir masyarakat dengan penggiringan opini lewat pemberitaan.

“Saya berharap buku ini bisa memberikan perspektif baru dalam pembangunan demokrasi ke depan. Jangan sampai peristiwa itu terulang kembali untuk kedepannya,” katanya melalui virtual.

Prof. Dedy Mulyana seorang Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran menuturkan, secara umum buku tersebut terlambat terbit, tapi untung temanya tentang Gus Dur yang akan terus hidup dengan gaya komunikasinya yang unik. Tetapi, menurutnya, isi dari buku tersebut kurang mendalam karena kognisi sosial wartawan tidak dielaborasi dari konteks sosial budaya itu juga tidak dibahas.

Untuk rekomendasi, lanjutnya, masih ada waktu untuk mempertajam yang bisa dipertajam paradigmanya.

“Kedepannya jika ada penelitian tentang Gus Dur, bisa diangkat tentang komunikasinya yang unik. Representasikan tentang Gus Dur paling tidak bagaimana pihak lain melukiskan Gus Dur,” ujarnya. (rur/sur)





  • Bagikan